Buah Amal Baik: Kisah Tsabit al-Bunani dan Pemuda yang Terlupakan di Alam Kubur
Hubungan antara yang hidup dan yang mati tidak pernah terputus begitu saja. Dalam ajaran Islam, doa, sedekah, dan amal baik yang dilakukan oleh orang yang masih hidup dapat menjadi hadiah berharga bagi mereka yang telah mendahului kita. Sebaliknya, kelalaian dan sikap melupakan dapat menyebabkan kesedihan mendalam di alam barzakh.
Kisah berikut ini dinukil dari kitab Al-Mawa'idh al-'Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar . Ini adalah kisah tentang Tsabit al-Bunani, seorang tabi'in terkemuka, yang melalui mimpi diperlihatkan oleh Allah bagaimana keadaan ahli kubur pada setiap malam Jumat. Sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi setiap muslim yang masih hidup.
❖
Siapa Tsabit al-Bunani?
Tsabit al-Bunani adalah seorang tabi'in yang sangat terkemuka. Nama lengkapnya Tsabit bin Aslam al-Bunani al-Bashri. Beliau termasuk murid setia Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan telah bersahabat dengan beliau selama kurang lebih 40 tahun. Tsabit wafat pada tahun 127 Hijriah dalam usia 86 tahun .
Beliau dikenal sebagai ahli hadits yang tsiqah (terpercaya), istiqamah mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam, dan memiliki kebiasaan khusus berziarah kubur. Setiap malam Jumat, Tsabit al-Bunani pasti bermalam di pemakaman. Beliau menghabiskan malamnya dengan munajat dan berdoa kepada Allah hingga waktu Subuh tiba. Hammad bin Salamah meriwayatkan bahwa Tsabit pernah berdoa:
اللهم إن كنت أعطيت أحدا الصلاة في قبره فأعطني الصلاة في قبري
"Ya Allah, jika Engkau memberikan shalat kepada seseorang di dalam kuburnya, maka berikanlah shalat itu kepadaku di dalam kuburku."
Doa ini dikabulkan Allah. Kelak, Tsabit al-Bunani datang dalam mimpi seorang ulama dan terlihat sedang melaksanakan shalat di dalam kuburnya. Ini adalah salah satu karomah yang diberikan Allah kepada para wali-Nya .
❖
Mimpi Pertama: Pemandangan di Alam Kubur
Pada suatu malam Jumat, saat sedang bermunajat di pemakaman, Tsabit al-Bunani tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Semua penghuni kubur telah bangkit dari tempat peristirahatan mereka. Mereka keluar dengan mengenakan pakaian yang indah dan berwajah putih berseri. Setiap orang mendapatkan suguhan beraneka macam makanan di atas nampan-nampan yang tersedia .
Namun di tengah keramaian yang penuh kebahagiaan itu, Tsabit melihat seorang pemuda yang berbeda. Wajahnya pucat pasi, rambutnya kusut tidak terawat, dan pakaiannya kotor serta compang-camping. Air mata membasahi pipinya. Ia selalu menundukkan kepala, tidak berani menatap sekelilingnya. Yang paling menyedihkan, ia tidak mendapatkan suguhan apa pun seperti yang lain .
Setelah beberapa saat, para penghuni kubur itu kembali ke tempat masing-masing dengan wajah riang gembira. Namun pemuda itu kembali dengan tetap menampakkan kesedihan yang mendalam. Hatinya hancur, jiwanya merana.
Tsabit al-Bunani tidak bisa menahan iba. Ia menghampiri pemuda itu dan bertanya:
"Wahai pemuda, siapa dirimu di antara mereka? Mereka semua mendapatkan hidangan dan kembali dengan suka cita. Namun engkau tidak mendapatkan apa-apa. Engkau pulang dengan tangan hampa, penuh duka dan kesedihan. Ceritakanlah kepadaku, apa yang terjadi?"
❖
Pengakuan yang Mengharukan
Pemuda itu menjawab dengan suara lirih penuh kepiluan:
"Wahai Imam kaum muslimin, aku terasing di tengah-tengah mereka. Tidak ada seorang pun yang mengingat kebaikanku atau mendoakanku. Mereka semua memiliki anak, kerabat, dan keluarga yang setiap malam Jumat mengirimkan doa, amal baik, dan sedekah. Buah dari amal baik dan sedekah yang dilakukan keluarga mereka itu sampai kepada mereka yang telah mati."
Tsabit bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan dirimu?"
Pemuda itu melanjutkan kisahnya:
"Dahulu, aku akan pergi berhaji bersama ibuku. Ketika memasuki kota Mesir, aku jatuh sakit dan meninggal dunia. Aku dikuburkan di negeri asing ini. Sedangkan ibuku, setelah kematianku, ia menikah lagi dengan seseorang. Sejak itu, ia melupakanku. Tidak pernah sekalipun ia mengingatku dengan doa atau sedekah. Aku merasa putus asa dan bersedih setiap saat di alam kubur ini."
❖
Pesan Rahasia untuk Sang Ibu
Tsabit al-Bunani yang hatinya luluh mendengar kisah ini segera bertanya:
"Wahai pemuda, di mana ibumu tinggal? Aku akan menemuinya dan menyampaikan keadaanmu."
Pemuda itu menyebutkan tempat tinggal ibunya lengkap dengan ciri-cirinya. Kemudian ia berpesan:
"Wahai Imam kaum muslimin, jika ibuku tidak percaya dengan perkataanmu, katakan kepadanya bahwa di dalam kantongnya ada seratus dirham peninggalan ayahku. Semoga hal ini bisa membuatmu dipercaya."
Tsabit al-Bunani terbangun dari mimpinya. Hatinya bergetar. Segera setelah pagi tiba, ia mencari alamat yang disebutkan pemuda itu. Setelah menemukan rumah yang dimaksud, ia bertemu dengan seorang perempuan—ibu dari pemuda malang itu.
Tsabit menyampaikan semua yang ia lihat dalam mimpi: tentang kesedihan anaknya di alam kubur, tentang malam Jumat yang penuh dengan kiriman doa dan sedekah, tentang keterasingan anaknya karena tidak ada yang mengingatnya.
Perempuan itu mendengarkan dengan tak percaya. Wajahnya berubah pucat. Namun ia masih ragu, apakah orang ini benar-benar utusan dari alam lain atau hanya penipu yang mencari keuntungan.
Melihat keraguan itu, Tsabit menyampaikan pesan rahasia:
"Anakmu berpesan, di dalam kantongmu ada seratus dirham peninggalan ayahnya."
Mendengar itu, perempuan itu tersentak. Ia segera memeriksa kantong lamanya, dan benar saja—seratus dirham masih tersimpan di sana, tidak pernah ia buka selama ini. Seketika ia jatuh pingsan .
❖
Sedekah yang Mengubah Keadaan
Setelah siuman, air mata perempuan itu mengalir deras. Penyesalan mendalam menyelimuti hatinya. Bertahun-tahun ia melupakan anaknya, sibuk dengan kehidupan barunya, tanpa pernah menyadari bahwa di alam kubur sana, anaknya sangat membutuhkan doa dan kiriman amalnya.
Ia segera mengambil seratus dirham itu dan menyerahkannya kepada Tsabit al-Bunani.
"Wahai syaikh yang mulia, kuharap engkau sudi menolongku menyedekahkan uang ini. Agar anakku tidak lagi terasing di alam kubur. Sungguh, aku telah lalai dan berdosa."
Tsabit menerima uang itu dan segera membagikannya kepada fakir miskin yang membutuhkan. Ia meniatkan sedekah itu untuk pemuda malang yang telah ia temui dalam mimpinya.
❖
Mimpi Kedua: Kebahagiaan yang Kembali
Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit al-Bunani kembali berziarah ke makam. Ia melakukan munajat seperti biasa, dan kembali tertidur. Dalam mimpinya, ia kembali menyaksikan pemandangan yang sama. Para penghuni kubur keluar dengan pakaian indah dan wajah berseri, mendapatkan suguhan beraneka makanan.
Namun kali ini, ada perubahan besar. Pemuda yang sebelumnya pucat, kusut, dan bersedih, kini telah berubah total. Ia mengenakan pakaian yang indah, wajahnya cerah berseri, dan hatinya terlihat gembira. Ia kini sama seperti yang lain, bahkan mungkin lebih bahagia.
Pemuda itu menghampiri Tsabit al-Bunani dan berkata:
"Wahai Imam kaum muslimin, semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau telah menyayangiku. Sekarang aku tidak lagi terasing. Kiriman sedekahmu telah sampai kepadaku. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya."
Tsabit terbangun dengan perasaan haru yang mendalam. Ia bersyukur kepada Allah telah dijadikan perantara kebahagiaan seorang hamba-Nya yang telah berpulang.
❖
Dalil-Dalil tentang Sampainya Pahala untuk Mayit
Kisah ini memberikan pemahaman yang jelas bahwa orang yang telah meninggal dunia sangat membutuhkan kiriman doa dan sedekah dari keluarga dan kerabat yang masih hidup. Hal ini sejalan dengan banyak dalil dalam Al-Qur'an dan hadits.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami'." (QS. al-Hasyr: 10)
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)
Hadits ini menegaskan bahwa meskipun amal orang yang meninggal terputus, ia masih dapat menerima kiriman pahala dari orang lain yang masih hidup, terutama dari anak saleh yang mendoakannya.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, disebutkan bahwa Sa'd bin Ubadah radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sementara aku tidak hadir saat wafatnya. Apakah jika aku bersedekah untuknya, hal itu bermanfaat baginya?" Beliau menjawab, "Ya." (HR. Bukhari no. 2756)
Imam Syafi'i rahimahullah dalam kitab al-Umm menyebutkan tiga perkara yang pahalanya sampai kepada mayit: haji yang dilakukan untuknya, harta yang disedekahkan untuknya, dan doa .
Bahkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Thabrani, disebutkan bahwa amal perbuatan orang yang masih hidup diperlihatkan kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Jika amalnya baik, mereka bergembira. Jika tidak baik, mereka berdoa untuk kebaikan orang yang masih hidup itu .
❖
Enam Pelajaran dari Kisah Tsabit al-Bunani
1. Orang yang telah meninggal sangat membutuhkan kiriman doa dan sedekah. Mereka seperti orang yang tenggelam dan sedang memohon pertolongan. Setiap malam Jumat, mereka menanti-nantikan kiriman dari keluarga yang masih hidup.
2. Kedudukan seseorang di alam kubur dapat berubah karena amal orang lain. Pemuda yang awalnya menderita karena tidak ada yang mengingatnya, berubah bahagia setelah ibunya bersedekah untuknya. Ini menunjukkan bahwa amal orang yang hidup benar-benar bermanfaat bagi yang telah mati.
3. Doa dan sedekah anak kepada orang tua yang telah wafat adalah bentuk bakti yang tidak terputus. Sebaliknya, melupakan orang tua setelah mereka tiada adalah bentuk kedurhakaan yang menyebabkan kesedihan di alam kubur.
4. Kematian tidak memutuskan hubungan kasih sayang. Ibu dalam kisah ini lalai karena sibuk dengan kehidupan barunya. Namun kewajiban mendoakan anak yang telah mendahului tidak pernah gugur, meskipun ibu telah menikah lagi.
5. Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada hamba-hamba pilihan. Mimpi Tsabit al-Bunani adalah salah satu karomah yang Allah berikan kepada para wali-Nya untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia .
6. Sedekah yang diniatkan untuk mayit pasti sampai pahalanya. Ini berdasarkan kesepakatan para ulama dan dalil-dalil yang shahih dari hadits Nabi ﷺ .
❖
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua yang masih hidup. Jangan pernah melupakan mereka yang telah mendahului kita. Ayah, ibu, suami, istri, anak, saudara, atau kerabat yang telah tiada sangat membutuhkan doa dan sedekah dari kita.
Tidak perlu menunggu acara khusus atau selamatan tertentu. Setiap malam, terutama malam Jumat, kita bisa mengirimkan Al-Fatihah, doa, atau sedekah untuk mereka. Caranya mudah: bersedekahlah kepada fakir miskin dengan niat pahalanya untuk mereka, atau bacakan doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Allah Maha Pemurah. Setiap amal baik yang kita kirimkan untuk mereka, pasti sampai dan menjadi kebahagiaan di alam kubur. Sebaliknya, kelalaian kita menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi mereka yang kita cintai dan telah tiada.
Semoga kisah ini menjadi motivasi bagi kita untuk terus menjalin kasih sayang dengan mereka yang telah berpulang, melalui doa, sedekah, dan amal-amal saleh yang pahalanya kita hadiahkan untuk mereka.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan