Rebo Wekasan: Antara Keyakinan, Amalan, dan Kedudukan Para Arifin
Memahami Tradisi yang Melekat di Nusantara...
Di setiap akhir bulan Safar, masyarakat muslim Nusantara — khususnya di Jawa, Sunda, dan Madura — Mulai sibuk mempersiapkan tradisi yang sudah mengakar sejak abad ke-17 Masehi . Mereka menyebutnya Rebo Wekasan (dalam bahasa Jawa) atau Rebo Akhir (dalam bahasa Sunda). Ada pula yang menyebutnya dengan istilah yang lebih kental nuansa ke-Arab-an: "Rebo Akhir", karena kata "akhir" sendiri berasal dari bahasa Arab.
Namun di balik kesemarakan tradisi ini, tersimpan perdebatan panjang yang tak pernah usai. Apakah Rebo Wekasan adalah tradisi yang dianjurkan? Apakah keyakinan tentang turunnya bala pada hari ini memiliki dasar? Dan yang terpenting, siapa sebenarnya yang berhak mengamalkan ritual-ritual khusus seperti shalat dan wafaq pada hari ini?
Tulisan ini akan mengupas tuntas tradisi Rebo Wekasan dari berbagai sudut pandang: "Asal-usulnya, keyakinan yang melandasinya, serta pandangan ulama tentang amalan-amalan yang biasa dilakukan. Lebih dari itu, kita akan memahami bahwa persoalan ini bukan sekadar hitam-putih, melainkan memiliki nuansa yang perlu dicermati dengan hati-hati — terutama dalam hal siapa yang berhak mengamalkan dan siapa yang sebaiknya tidak ikut-ikutan.
❖
Rebo Wekasan: Menelisik Istilah dan Akar Sejarah
Asal-Usul Nama
Secara bahasa, Rebo Wekasan berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: Rebo yang berarti hari Rabu, dan Wekasan yang berarti akhir atau penutup . Jadi secara harfiah, Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir. Dalam konteks kalender Hijriah, bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharram. Maka Rebo Wekasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar, yang menjadi penanda akan segera berakhirnya bulan ini dan dimulainya bulan Rabiul Awal.
Menarik untuk dicatat, masyarakat Sunda menyebutnya dengan istilah yang berbeda namun bermakna sama: Rebo Akhir. Kata "akhir" di sini diserap dari bahasa Arab, menunjukkan adanya pengaruh Islam yang kuat dalam penamaan tradisi ini. Ada pula yang menyebutnya dengan nuansa Arab yang lebih kental, menggunakan istilah seperti "Rebo Akhir" atau bahkan "Arba'a Akhir".
Akar Sejarah dan Budaya
Tradisi Rebo Wekasan bukanlah fenomena baru. Catatan sejarah menunjukkan bahwa peringatan ini telah berlangsung sejak abad ke-17 Masehi, dengan fokus utama di wilayah Sumatra dan Jawa . Tradisi ini mengakar kuat pada masa Wali Songo, para penyebar Islam di tanah Jawa, yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal sebagai strategi dakwah yang bijaksana .
Dalam konteks ini, Rebo Wekasan menjadi contoh bagaimana Islam berinteraksi dengan budaya lokal. Tidak serta-merta menolak, namun juga tidak membiarkan begitu saja. Para ulama terdahulu melakukan adaptasi, mengambil nilai-nilai positif dari tradisi yang ada, lalu membungkusnya dengan nuansa keislaman.
❖
Keyakinan di Balik Tradisi: Pandangan Ba'dul Arifin
Turunnya 320 Ribu Bala
Sebagian masyarakat meyakini bahwa pada Rebo Wekasan, Allah menurunkan berbagai macam bala atau musibah ke bumi. Keyakinan ini merujuk pada keterangan para ulama sufi dan ahlul kasyf, yang dalam literatur klasik disebut sebagai ba'dul arifin (sebagian orang-orang yang arif/para waliyullah) .
Para ba'dul arifin yang ahli kasyf (membuka hijab) menjelaskan bahwa setiap tahun diturunkan 320 ribu macam bala dan musibah, dan semuanya diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Inilah yang kemudian dikenal sebagai hari terberat dalam setahun.
Keterangan ini bersumber dari beberapa kitab klasik, di antaranya:
1. Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir karya Syekh al-Dairabi (w. 1801 M)
2. Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur karya Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917)
3. al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khathir al-Din (w. 1562 M)
4. Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1897 M)
5. Na't al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w. 1910 M)
IImam ad-Dairabi dalam kitab Na't al-Bidayah wa Tausyifu Nihayah (halaman 195) atau yang lebih dikenal Mujarrabat ad-Dairabi al-Kabir menyebutkan:
ذكر بعض العارفين من أهل الكشف والتمكين أنه ينزل في كل سنة ثلاث مئة ألف بلية وعشرون ألفا من البليات وكل ذلك في يوم الأربعاء الأخير من صفر فيكون ذلك اليوم أصعب أيام السنة
Dzakkara ba'ḍu al-'ārifīna min ahli al-kasyfi wa al-tamkīni annahu yanzilu fī kulli sanatin tsalātsu mi'ati alfi baliyyatin wa 'isyruuna alfan min al-baliyyāti wa kullu dzālika fī yaumi al-arbi'ā'i al-akhīri min ṣafara fayakūnu dzālika al-yaumu aṣ'aba ayyāmi al-sanah
"Sebagian ulama Arifin dari Ahli Kasyf menuturkan bahwa pada setiap tahunnya diturunkan 320 ribu bala' (cobaan). Yaitu terjadi pada hari Rabu terakhir dari bulan Shafar. Pada waktu itu merupakan hari terberat dari sekian banyak hari dalam satu tahun."
Peran Wali Quthb dalam Menyaring Bala
Menariknya, para arifin juga menjelaskan bahwa bala-bala tersebut tidak serta-merta menimpa manusia begitu saja. Ada mekanisme penyaringan yang melibatkan para wali Allah. Al-Syaikh al-Buni dalam kitabnya al-Firdaus menjelaskan:
ان الله عز وجل ينزل بلاء في آخر أربعاء من صفر بين السماء والارض فيأخذه الموكل به ويسلمه الى قطب الغوث فيفرقه على العالم فما حصل من موت او بلاء او هم الا ويكون من البلاء الذي يفرقه القطب
*Innallāha 'azza wa jalla yunazzilu balā'an fī ākhiri arbi'ā'i min ṣafara baina as-samā'i wa al-arḍi fa ya'khudzuhu al-muwakkalu bihī wa yusallimuhu ilā quṭbi al-ghautsi fa yufarriquhu 'alā al-'ālami famā ḥaṣala min mautin au balā'in au hammin illā wa yakūnu min al-balā'i alladzī yufarriquhu al-quṭb
"Sesungguhnya Allah menurunkan bala' di hari Rabu terakhir dari bulan Shafar di antara langit dan bumi. Kemudian bala' tersebut diterima oleh malaikat yang bertugas dan diserahkan kepada wali Quthb al-Ghauts lalu disebar ke seluruh penduduk alam semesta. Segala bentuk kematian, bala' atau kesusahan tidak lain adalah berasal dari bala' yang disebarkan oleh sang wali quthb tersebut."
Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa bala yang turun tidak serta-merta menimpa semua orang. Ada proses penyaringan oleh para wali Allah, yang menunjukkan bahwa di balik setiap musibah yang terjadi, ada hikmah dan kehendak Allah yang dijalankan melalui tangan para kekasih-Nya.
Hadits yang Menguatkan
Terdapat riwayat hadits yang menjadi landasan keyakinan ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: آخر أربعاء في الشهر يوم نحس مستمر
'An Ibn 'Abbāsin radhiyallāhu 'anhumā 'anin nabiyyi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama qāla: ākhiru arbi'ā'in fī asy-syahri yaumu naḥsin mustamir
"Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial terus-menerus." (HR. Waki' dalam al-Ghurar, Ibnu Mardawaih dalam at-Tafsir, al-Khathib al-Baghdadi)
Hadits ini kedudukannya memang dha'if (lemah). Tetapi para ulama hadits menjelaskan bahwa meskipun hadits tersebut lemah, posisinya tidak dalam menjelaskan suatu hukum, melainkan berkaitan dengan bab targhib dan tarhib (anjuran dan peringatan), yang disepakati otoritasnya di kalangan ahli hadits sejak generasi salaf .
❖
Amalan Khusus Rebo Wekasan: Hanya untuk yang Diijazah
Shalat Rebo Wekasan
Para ba'dul arifin juga menjelaskan bahwa ada amalan khusus yang bisa dilakukan pada hari ini, yaitu shalat sunnah yang disebut shalat Rebo Wekasan. Shalat ini dilaksanakan sebanyak 4 rakaat, tanpa tahiyat awal.
Tata cara shalatnya adalah sebagai berikut:
- Setelah membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat, membaca:
- Surat Al-Kautsar 17 kali
- Surat Al-Ikhlas 5 kali
- Surat Al-Falaq 1 kali
- Surat An-Nas 1 kali
Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan membaca bacaan berikut masing-masing 70 kali:
سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم
اياك نعبد واياك نستعين
Iyāka na'budu wa iyāka nasta'īn
Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan membaca doa yang telah diajarkan oleh para guru .
Peringatan Penting: Amalan shalat ini bukan untuk konsumsi publik. Ia hanya boleh dikerjakan oleh orang yang pernah mendapat ijazah (izin) secara khusus dari gurunya. Ijazah ini biasanya diberikan dalam riwayat sanad yang bersambung kepada para ulama yang mengajarkannya.
Imam al-Dairabi dan al-Buni menyebutkan tata cara ini dalam kitab-kitab mereka, namun keduanya juga menjelaskan bahwa amalan ini merupakan bagian dari mujarrabat (amalan yang telah teruji) yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan ahli ibadah .
Pandangan Ulama tentang Hukum Shalat Rebo Wekasan
KH Hasyim Asy'ari sendiri dalam Tanqih al-Fatwa al-Hamidiyah memberikan peringatan tegas:
ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت ان نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها
Wa lā yaḥillu al-iftā'u min al-kutubi al-gharībah. Wa qad 'arifta anna naqla al-mujarrabāti al-dairabiyyah wa ḥāsyiyati al-sittīni li istiḥbābi hādzihi al-ṣalāti al-madzkūrati yukhālifu kutuba al-furū'i al-fiqhiyyah fa lā yaṣiḥḥu wa lā yajūzu al-iftā'u bihā
"Tidak boleh berfatwa dari kitab-kitab yang aneh. Anda telah mengetahui bahwa kutipan dari kitab Mujarrabat Dairabi dan Masail Sittin yang menganjurkan salat tersebut bertentangan dengan kitab-kitab fikih, maka salatnya tidak sah, dan tidak boleh berfatwa dengannya."
KH Sya'roni Ahmadi, salah seorang ulama Kudus, menjelaskan bahwa yang mendatangkan musibah adalah Allah, bukan waktu tertentu. Karena itu, kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, memohon kasih sayang-Nya, dan tidak terjebak pada anggapan bahwa hari tertentu membawa sial.
Namun, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Makki dalam Kanz al-Najah wa al-Surur menyebut bahwa shalat Rebo Wekasan itu boleh dengan syarat bukan niat untuk Rebo Wekasan, melainkan diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak . Beliau menyarankan hendaknya dalam shalat tersebut diniati melaksanakan shalat sunnah mutlak, dimana shalat mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi oleh waktu, sebab dan bilangannya.
KH Bisyri Mustofa juga mengetengahkan solusi mendamaikan dua kutub yang bertentangan ini yakni niat shalatnya adalah niat shalat mutlak .
Ini menunjukkan bahwa para ulama besar pun bersikap sangat hati-hati dalam menyikapi amalan ini. Mereka tidak melarang orang yang telah mendapat ijazah untuk mengamalkannya, namun juga tidak membolehkan fatwa umum yang menganjurkannya kepada semua orang.
Memahami Makna Kitab-Kitab Sufi
Para ulama sufi yang menyebutkan tentang turunnya bala pada Rebo Wekasan tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti atau membuat masyarakat berhenti beraktivitas. Sebaliknya, tujuannya adalah untuk mengingatkan agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, memohon perlindungan-Nya, dan tidak lalai dalam beribadah .
❖
Doa Setelah Shalat
Setelah shalat, dilanjutkan dengan doa. Berikut adalah doa lengkap yang biasa dibaca setelah shalat Rebo Wekasan:
اللهم يا شديد القوى ويا شديد المحال يا عزيز ذلت لعزتك جميع خلقك اكفني من جميع خلقك يا محسن يا مجمل يا متفضل يا منعم يا مكرم يا من لا اله الا انت برحمتك يا ارحم الراحمين اللهم بسر الحسن واخيه وجده وابيه اكفني شر هذا اليوم وما ينزل فيه يا كافي المهمات يا دافع البليات فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم وحسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم اللهم اعصمنا من جهد البلاء وادرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء وموت الفجأة ومن شر السام والبرسام والحمى والبرص والجذام والاسقام ومن جميع الامراض برحمتك يا ارحم الراحمين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم
Allāhumma yā syadīda al-quwā wa yā syadīda al-miḥāli yā 'azīzu dzallat li 'izzatika jamī'u khalqika ikfinī min jamī'i khalqika yā muḥsinu yā mujammilu yā mutafaḍḍilu yā mun'imu yā mukrimu yā man lā ilāha illā anta irḥamnī bi raḥmatika yā arḥama ar-rāḥimīn. Allāhumma bisirri al-ḥasani wa akhīhi wa jaddihī wa abīhi ikfinī syarra hādza al-yaumi wa mā yanzilu fīhi yā kāfiyal al-muhimmāti yā dāfi'a al-baliyyāti fasayakfīkahumu allāhu wa huwa as-samī'u al-'alīm, wa ḥasbunallāhu wa ni'ma al-wakīl, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhi al-'aliyyi al-'aẓīm. Allāhumma i'ṣimnā min jahdi al-balā'i wa daraki asy-syaqā'i wa sū'i al-qaḍā'i wa syamātati al-a'dā'i wa mauti al-fuj'ati wa min syarri as-sāmi wa al-barsāmi wa al-ḥumā wa al-baraṣi wa al-judzāmi wa al-asqāmi wa min jamī'i al-amrāḍi bi raḥmatika yā arḥama ar-rāḥimīn. Wa ṣallallāhu 'alā sayyidinā muḥammadin wa 'alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam
"Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Kuat, wahai Dzat Yang Maha Keras perlawanan-Nya, wahai Yang Maha Perkasa, semua makhluk-Mu tunduk kepada keperkasaan-Mu. Cukupkanlah aku dari (kejahatan) semua makhluk-Mu, wahai Yang Maha Berbuat Baik, Maha Menghiasi, Maha Memberi Keutamaan, Maha Pemberi Nikmat, Maha Memuliakan, wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihanilah aku dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
Ya Allah, dengan perantaraan rahasia al-Hasan (cucu Rasulullah), saudaranya, kakeknya, dan ayahnya, cukupkanlah aku dari keburukan hari ini dan apa yang diturunkan padanya. Wahai Dzat yang mencukupi segala urusan penting, wahai Dzat yang menolak segala bencana. Maka Allah akan mencukupkanmu dari (kejahatan) mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Ya Allah, lindungilah kami dari beratnya bala, dari tercapainya kesengsaraan, dari buruknya takdir, dari kebahagiaan musuh atas (kesedihan) kami, dari kematian mendadak, dari kejahatan racun, penyakit radang selaput otak, demam, penyakit kulit, kusta, dan segala macam penyakit. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Semoga rahmat dan salam tercurah kepada junjungan kami Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya."
Wafaq/Rajah Rebo Wekasan
Selain shalat, ada juga amalan berupa penulisan wafaq atau rajah yang dilakukan pada hari Rebo Wekasan. Amalan ini biasanya dilakukan oleh para kyai dan ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang ini .
Cara pembuatan wafaq Rebo Wekasan:
- Ditulis pada kertas polos pada bulan Safar, tepatnya pada hari Rabu terakhir
- Sebelum menulis, membaca istighosah 3 kali dan shalawat 3 kali
- Membaca "Bismillah" 9 kali dengan menahan napas
- Baru kemudian menulis rajah sesuai dengan tuntunan guru
Setelah selesai ditulis, kertas dilipat menjadi bentuk segi empat, lalu dimasukkan ke dalam sumber air—bisa sumur, bak mandi, atau tempat air lainnya yang akan terminum oleh keluarga .
Adapun bacaan asma' yang dibaca sebelum menulis rajah adalah :
1. سلام قولا من رب رحيم
(Salamun qaulam min rabbin rahim) 100x
2. سلام على نوح في العالمين
(Salamun 'ala nuhin fil 'alamin) 100 kali
3. سلام على إبراهيم
(Salamun 'ala ibrahim) 100 kali
4. سلام على موسى وهارون
(Salamun 'ala musa wa harun) 100 kali
5. سلام على إل ياسين
(Salamun 'ala il yasin) 100 kali
Semua asma' ini dibaca masing-masing 100 kali lalu ditiupkan pada tulisan rajah.
Dan yang ditulis adalah 7 ayat yang mengandung lafadz salamun (keselamatan), yang dikenal dengan Ayat Salamun dibawah ini :
1. سلام قولا من رب رحيم
Salāmun qaulan mir rabbin raḥīm (QS Yasin: 58)
2. سلام على نوح في العالمين
Salāmun 'alā nūḥin fil 'ālamīn (QS As-Saffat: 79)
3. سلام على إبراهيم
Salāmun 'alā ibrāhīm (QS As-Saffat: 109)
4. سلام على موسى وهارون
Salāmun 'alā mūsā wa hārūn (QS As-Saffat: 120)
5. سلام على إل ياسين
Salāmun 'alā ilyāsīn (QS As-Saffat: 130)
6. سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين
Salāmun 'alaikum ṭibtum fadkhulūhā khālidīn (QS Az-Zumar: 73)
7. سلام هي حتى مطلع الفجر
Salāmun hiya ḥattā maṭla'i al-fajr (QS Al-Qadr: 5)
Cara Penggunaan: Ayat-ayat itu ditulis di kertas atau piring yang bersih atau sejenisnya yang tulisannya bisa luntur. Kemudian, tuangkan air dan diaduk sambil membaca shalawat, setelah itu diminum.
Perhatian: Ayat diatas saya tidak tuliskan secara lengkap dan sempurna hanya untuk contoh saja.
Air Wafaq: Dibagikan kepada Masyarakat
Setelah wafaq dimasukkan ke dalam air, air tersebut menjadi berkah dan bisa diminum oleh masyarakat. Inilah yang disebut dengan air wafaq atau air tolak bala .
Para kyai dan ulama yang membuat air wafaq ini biasanya membagikannya kepada masyarakat luas. Dalam tradisi di berbagai daerah, setelah proses pembuatan wafaq selesai, masyarakat beramai-ramai datang untuk meminta air tersebut, ada yang membawa gelas, ada pula yang membawa botol untuk menyimpannya .
❖
Siapa yang Boleh dan Siapa yang Tidak?
Untuk Masyarakat Awam
Bagi masyarakat awam yang belum mendalami ilmu agama secara mendalam, disarankan untuk:
1. Tidak mengkhususkan amalan tertentu yang diyakini sebagai sunnah Rebo Wekasan
2. Tidak meyakini bahwa hari tersebut membawa sial atau bala tertentu
3. Tetap melaksanakan ibadah rutin seperti shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, dan berdoa sebagaimana biasa
4. Memperbanyak doa perlindungan secara umum, tanpa mengkaitkannya dengan keyakinan khusus pada hari tersebut
Yang terpenting: Jangan ikut-ikutan mengamalkan ritual yang belum jelas ilmunya. Jika ada tetangga atau kerabat yang mengajak, cukup diam dan tidak usah ikut. Jangan pula mengganggu mereka yang melakukannya, karena bagi mereka yang telah mendapat ijazah, amalan tersebut adalah bagian dari tradisi keilmuan yang sah.
Bagi yang Pernah Diijazah
Bagi mereka yang telah mendapat ijazah secara langsung dari gurunya — baik ijazah shalat Rebo Wekasan, doa-doa khusus, maupun amalan wafaq — maka mereka boleh mengamalkannya dengan syarat:
1. Memahami makna dan tujuan amalan tersebut
2. Tidak meyakini bahwa amalan tersebut memiliki kekuatan sendiri di luar izin Allah
3. Menjalankannya dengan niat ikhlas karena Allah
4. Tidak menyebarluaskannya sebagai kewajiban bagi orang lain
Mengapa Tidak Sembarang Orang?
Syaikh Abdul Hamid Quds al-Makki dalam Kanz al-Najah wa al-Surur menjelaskan bahwa amalan-amalan seperti ini adalah bagian dari khawash (keistimewaan) yang tidak semua orang mampu menjalankannya dengan benar. Orang yang tidak paham bisa saja salah dalam menempatkan keyakinan, yang berakibat fatal bagi keimanannya .
Ini adalah peringatan yang sangat penting. Amalan-amalan seperti wafaq dan shalat dengan niat khusus bukanlah konsumsi publik yang bisa dilakukan tanpa pemahaman yang benar.
❖
Doa yang Bisa Diamalkan Secara Umum
Meskipun tidak dianjurkan mengamalkan shalat khusus Rebo Wekasan bagi yang belum mendapat ijazah, ada doa yang bisa dibaca oleh siapa saja. Doa ini bisa dibaca setelah shalat Subuh atau setelah shalat Dhuha, atau kapan saja sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah.
Berikut doa tolak bala yang diajarkan oleh para ulama :
اللهم افتح لنا ابواب الخير وابواب البركة وابواب النعمة وابواب الرزق وابواب القوة وابواب الصحة وابواب السلامة وابواب العافية وابواب الجنة اللهم عافنا من كل بلاء الدنيا وعذاب الآخرة واصرف عنا بحق القرآن العظيم ونبيك الكريم شر الدنيا وعذاب الآخرة غفر الله لنا ولهم برحمتك يا ارحم الراحمين سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
Allāhummaftaḥ lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni‘mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shiḥḥah, wa abwābas salāmah, wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id dunyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi ḥaqqil Qur’ānil ‘aẓīm wa nabiyyikal karīm syarrad dunyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi raḥmatika yā arḥamar rāḥimīn. Subḥāna rabbika rabbil ‘izzati ‘ammā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn
"Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Al-Qur’an yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai Zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam."
❖
Kisah Siti Masyitoh: Teladan Orang yang Dibukakan Hijab
Untuk memahami mengapa ada orang yang "dibukakan hijab" dan ada yang tidak, kita bisa merenungkan kisah Siti Masyitoh, seorang perempuan saleh yang hidup di zaman Fir'aun.
"Kisah ini saya singkat karena terlalu panjang untuk pembahasan artikel ini, Insya-allah akan saya buat nanti kisah lengkapnya dilain waktu."
Siti Masyitoh adalah pengasuh anak Fir'aun yang diam-diam beriman kepada Allah. Ketika imannya terbongkar karena ucapan "Bismillah" saat mengambil sisir yang terjatuh, ia dihadapkan pada ujian yang sangat berat. Fir'aun memerintahkan agar ia dan anak-anaknya direbus dalam air mendidih .
Inilah yang disebut sebagai orang yang dibukakan hijab—mereka yang dapat melihat realitas di balik realitas. Anak Siti Masyitoh yang masih menyusu tiba-tiba bisa berbicara untuk menguatkan ibunya. Ia berkata:
يا أماه لا تخافي، فإن الله معنا، وإن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة
Yā ummāhu lā takhāfī, fa innallāha ma'anā, wa inna 'adzāba al-dunyā ahwanu min 'adzābi al-ākhirah
"Ibu, jangan takut. Sesungguhnya Allah bersama kita. Dan sesungguhnya siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat."
Ketika Siti Masyitoh ragu, anaknya kembali berkata:
تعالي يا أمي، إن الذي ترينه نارا إنما هو برد وسلام، وإنما يرى الناس ما يرون بأعينهم الظاهرة، ولو كشف لهم لرأوا ما أرى
Ta'ālī yā ummī, inna alladzī tarainahū nāran innamā huwa bardun wa salām, wa innamā yarā al-nāsu mā yarauna bi a'yunihim al-ẓāhirati, wa lau kusyifa lahum larā'au mā arā
"Kemarilah ibu, sesungguhnya yang ibu lihat sebagai api itu hanyalah dingin dan sejuk. Sesungguhnya manusia melihat apa yang mereka lihat dengan mata lahir mereka. Seandainya dibukakan bagi mereka, niscaya mereka melihat apa yang aku lihat."
Inilah perbedaan antara orang yang dibukakan hijab dan yang tidak. Mereka yang dibukakan hijab dapat melihat hakikat di balik bentuk lahiriah. Mereka melihat api yang tampak membara sebagai dingin dan sejuk, karena di dalamnya ada surga yang menanti .
Siti Masyitoh kemudian berkata dengan tegas:
بسم الله توكلت على الله والله أكبر
Bismillāhi tawakkaltu 'alallāhi wallāhu akbar
"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, Allah Maha Besar."
Ia pun terjun ke dalam minyak mendidih. Dengan kekuasaan Allah, yang tercium bukan bau hangus, melainkan aroma wangi yang sangat harum — Wangi yang kemudian dicium oleh Rasulullah dalam perjalanan Isra' Mi'raj .
❖
Pelajaran dari Kisah Siti Masyitoh
Kisah ini mengajarkan beberapa hal penting:
1. Hijab (tabir) adalah nyata. Tidak semua orang dapat melihat hakikat di balik yang tampak. Orang yang tidak dibukakan hijab hanya melihat api sebagai api, minyak mendidih sebagai minyak mendidih.
2. Keyakinan orang yang dibukakan hijab tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Sebagaimana anak Siti Masyitoh tidak bisa memaksa orang-orang di sekitarnya untuk melihat apa yang ia lihat.
3. Amalan spiritual seperti wafaq dan doa-doa khusus adalah untuk mereka yang memiliki kedudukan dan pemahaman yang benar. Bukan konsumsi publik yang bisa dilakukan sembarangan.
4. Orang yang tidak dibukakan hijab— Yang melihat segala sesuatu hanya dengan mata lahir—tidak akan pernah percaya pada hal-hal seperti ini.
Adapun yang tidak percaya, biarlah. Seperti kata pepatah, "Biarin aja. Ini hanya untuk yang percaya."
❖
Penutup: Menyikapi Tradisi dengan Bijak
Rebo Wekasan adalah tradisi yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Nusantara. Sebagai bagian dari kekayaan khazanah Islam lokal, ia mengandung nilai-nilai positif seperti meningkatkan ibadah, mempererat silaturahmi, dan mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah.
Namun, sebagai muslim yang taat, kita harus mampu memilah mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang perlu diluruskan. Keyakinan bahwa hari tertentu membawa sial harus dibersihkan dari hati, karena bertentangan dengan tauhid dan hadits-hadits shahih.
Tentang amalan-amalan seperti shalat khusus dan wafaq, kita harus memahami bahwa ini adalah amalan yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan ahli ibadah dan para arifin. Ia bukan untuk konsumsi publik, dan hanya boleh diamalkan oleh mereka yang telah mendapat ijazah dan pemahaman yang benar.
Bagi masyarakat awam, cukup memperbanyak doa, dzikir, dan amalan-amalan yang telah diajarkan secara umum. Jika ada yang mengajak ikut serta dalam ritual-ritual khusus, kita bisa diam dan tidak usah ikut. Jangan pula mengganggu mereka yang melakukannya, karena bagi mereka yang telah mendapat ijazah, itu adalah bagian dari tradisi keilmuan yang sah.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Innamā al-a'mālu bin-niyyāt
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita semua diberikan pemahaman yang benar dan kemampuan untuk mengamalkan ajaran Islam dengan baik, serta dijauhkan dari keyakinan-keyakinan yang menyimpang.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan