Habis untuk Sedekah: Kisah Imam Syafi'i yang Lebih Memilih Berbagi daripada Membeli Tanah

Ada sebuah pepatah bijak: "Harta yang kita infakkan di jalan Allah tidak akan pernah habis, justru ia akan berkembang dan menjadi tabungan abadi di akhirat." Kisah berikut ini adalah bukti nyata bagaimana seorang ulama besar, Imam Syafi'i, lebih memilih membagikan seluruh bekal perjalanannya kepada orang-orang yang membutuhkan daripada membelanjakan untuk kepentingan duniawi. Sebuah teladan tentang kedermawanan dan keyakinan kuat bahwa Allah akan mengganti setiap kebaikan dengan balasan yang lebih baik.

Imam Syafi'i tidak hanya dikenal sebagai mujtahid besar pendiri mazhab Syafi'i, tetapi juga sebagai pribadi yang zuhud, dermawan, dan sangat bergantung kepada Allah. Perjalanan hidupnya penuh dengan hikmah, dan salah satu momen paling mengesankan adalah ketika ia dalam perjalanan pulang dari Yaman menuju Mekkah.

Perjalanan dari Yaman ke Mekkah

Suatu ketika, Imam Syafi'i berada dalam perjalanan pulang dari Yaman menuju kota Mekkah. Di tangannya masih tersisa uang bekal sebesar 10 dinar. Seorang sahabat yang menemani perjalanannya berkata, "Wahai Imam, setibanya di Mekkah nanti, dengan uang itu engkau dapat membeli sebidang tanah. Itu akan menjadi investasi yang baik bagimu."

Imam Syafi'i hanya diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Pikiran dan hatinya sibuk dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rencana membeli tanah.

Beberapa saat kemudian, Imam Syafi'i mengajak sahabatnya itu berhenti di suatu tempat. Mereka pun mendirikan kemah untuk beristirahat. Setelah kemah siap, Imam Syafi'i duduk di tanah. Di hadapannya, ia mengeluarkan uang 10 dinar itu dan membeberkannya di atas tanah.

Sahabatnya mengira Imam Syafi'i sedang menghitung ulang atau menyimpannya kembali. Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan.

Sedekah di Tengah Perjalanan

Imam Syafi'i mulai membagi-bagikan uang itu satu per satu kepada setiap orang yang lewat di depan kemahnya. Para musafir, pedagang, dan orang-orang yang tampak membutuhkan, semuanya mendapat bagian. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, tidak menghitung berapa yang tersisa, tidak pula menimbang-nimbang apakah ia sendiri masih membutuhkan uang itu untuk perjalanan.

Hingga waktu shalat Dhuhur tiba, seluruh uang 10 dinar itu telah habis dibagikan. Tidak tersisa satu dirham pun. Imam Syafi'i kemudian berdiri, mengibaskan pakaiannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Wajahnya tenang, hatinya lapang.

Sahabatnya yang sejak tadi memperhatikan dengan heran akhirnya bertanya, "Wahai Imam, bagaimana engkau nanti tiba di Mekkah tanpa memiliki uang sepeser pun? Perjalanan kita masih panjang, dan kita membutuhkan bekal."

Imam Syafi'i menjawab dengan kalimat yang sarat makna, "Seandainya aku memasuki kota Mekkah dengan membawa uang itu, aku tidak menjamin keselamatanmu."

Maksudnya, jika ia masih memiliki uang dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, ia khawatir akan mendapat celaka atau keberkahan hilang dari perjalanan mereka. Imam Syafi'i lebih memilih bergantung sepenuhnya kepada Allah daripada membawa harta yang bisa membuatnya lalai.

Nasihat Berharga untuk Sahabat

Setelah memberikan jawaban singkat itu, Imam Syafi'i kemudian menasihati sahabatnya dengan kata-kata yang penuh hikmah:

"Wahai anak Adam, infakkanlah harta kalian, berbuatlah lapang, agar dirimu dilapangkan dalam persoalan. Janganlah engkau terlalu berhemat demi belanja di duniamu, niscaya engkau akan disediakan belanja yang cukup. Belanjakanlah sisanya untuk akhiratmu, sebelum jiwamu dipanggil Tuhan."

Nasihat ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Matsalulladziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillahi kamatsali habbatin anbatat sab'a sanaabila fii kulli sumbulatin mi'atu habbah, wallaahu yudaa'ifu liman yasyaa'u, wallaahu waasi'un 'aliim

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)

Imam Syafi'i memahami betul janji Allah ini. Ia yakin bahwa 10 dinar yang diinfakkan akan diganti dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, baik di dunia maupun di akhirat.


Keutamaan Sedekah dalam Islam

Kisah Imam Syafi'i ini mengingatkan kita pada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Maa naqashat shadaqatun min maal

"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)

Maksudnya, sedekah tidak akan membuat harta berkurang secara hakiki. Justru Allah akan menggantinya dengan berkah, membersihkan sisa harta, dan melipatgandakan pahala.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya adalah:

رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنفِقُ يَمِينُهُ

Rajulun tashaddaqa bi shadaqatin fa akhfaahaa hatta laa ta'lama syimaaluhu maa tunfiqu yamiinuh

"Seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia sembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Syafi'i tidak perlu menyembunyikan sedekahnya, tetapi keikhlasannya tampak dari caranya membagikan tanpa mengharap pujian atau balasan dari siapa pun.

Tawakal Imam Syafi'i

Keputusan Imam Syafi'i untuk menghabiskan seluruh bekalnya juga menunjukkan tingginya tingkat tawakal kepada Allah. Ia tidak khawatir tentang bagaimana ia akan sampai ke Mekkah. Ia yakin bahwa Allah yang mengurus hamba-Nya yang bersedekah akan mencukupi kebutuhannya.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Wa man yattaqillaaha yaj'al lahu makhrojaa, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Imam Syafi'i adalah orang yang sangat bertakwa. Ia tidak ragu bahwa Allah akan mengirimkan rezeki dari arah yang tidak ia duga, meskipun saat itu ia tidak punya apa-apa di tengah padang pasir.

Pelajaran dari Kisah Imam Syafi'i

Beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa ini:

1. Kedermawanan adalah Ciri Orang Beriman

Imam Syafi'i tidak menunda-nunda sedekah. Begitu ada kesempatan, ia segera berbagi. Ia tidak berpikir, "Nanti saja di Mekkah," atau "Sebagian saja dulu." Ia memberi semuanya saat itu juga.

2. Harta Bukan Tujuan, tapi Alat untuk Beribadah

Bagi Imam Syafi'i, uang 10 dinar itu bukanlah tujuan akhir. Ia tidak terikat padanya. Ia melihatnya sebagai amanah yang harus disalurkan sebaik-baiknya sebelum ia tiba di kampung halaman.

3. Keyakinan Bahwa Allah Akan Mengganti

Imam Syafi'i yakin bahwa apa yang ia infakkan tidak akan sia-sia. Allah pasti menggantinya, baik di dunia maupun di akhirat. Keyakinan ini lahir dari pemahaman mendalam tentang janji-janji Allah.

4. Menjaga Keselamatan dengan Sedekah

Jawaban Imam Syafi'i bahwa ia tidak menjamin keselamatan sahabatnya jika masih membawa uang itu menunjukkan bahwa sedekah bisa menjadi sebab keselamatan dari berbagai marabahaya. Rasulullah ﷺ bersabda:

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

Daawuu mardhaakum bish shadaqah

"Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah." (HR. Baihaqi)

Sedekah juga bisa menolak bala dan musibah.

5. Prioritas Akhirat di Atas Dunia

Imam Syafi'i mengajarkan kita untuk mendahulukan kepentingan akhirat daripada keinginan duniawi. Tanah di Mekkah mungkin menggiurkan, tetapi pahala sedekah jauh lebih berharga.

6. Memberi Nasihat dengan Tindakan

Imam Syafi'i tidak hanya berbicara tentang sedekah, tetapi langsung mempraktikkannya. Ia juga menasihati sahabatnya setelah memberi contoh nyata. Ini adalah metode dakwah yang paling efektif.

Mari kita bayangkan sejenak. Apakah kita mampu melakukan seperti Imam Syafi'i? Memberikan seluruh uang yang kita miliki kepada orang lain, tanpa menyisakan sepeser pun untuk diri sendiri? Mungkin berat. Tapi setidaknya, kita bisa belajar untuk lebih dermawan, tidak terlalu mencintai harta, dan yakin bahwa Allah akan mengganti setiap kebaikan.

Tidak semua orang dipanggil untuk memberi seluruh hartanya. Namun, setiap muslim dipanggil untuk memberi sebagian hartanya, rutin bersedekah, dan tidak kikir terhadap apa yang Allah karuniakan. Karena harta yang kita infakkan adalah satu-satunya harta yang benar-benar kita miliki. Sisanya hanya titipan yang akan ditinggalkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ إِنْ تَبْذُلِ الْفَضْلَ خَيْرٌ لَكَ، وَإِنْ تُمْسِكْهُ شَرٌّ لَكَ

Ibna aadama innaka in tabdzil fadhla khairun laka, wa in tumsikhu syarrun laka

"Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menginfakkan kelebihan hartamu, itu lebih baik bagimu. Dan jika engkau menahannya, itu buruk bagimu." (HR. Muslim)


Kisah Imam Syafi'i ini menjadi pengingat bahwa kedermawanan adalah investasi terbaik. Tanah di Mekkah mungkin bisa dibeli dengan 10 dinar, tetapi pahala sedekah akan terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Imam Syafi'i memilih yang kekal daripada yang fana, memilih tabungan akhirat daripada kepemilikan duniawi.

Semoga Allah menganugerahkan kita hati yang dermawan, keyakinan yang kuat, dan keikhlasan dalam berbagi. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu menginfakkan harta di jalan kebaikan, dan kelak mendapat balasan surga yang penuh kenikmatan.

والله أعلم بالصواب


Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.