Imbalan yang Berlipat Ganda: Kisah Pemuda Dermawan dan Jaminan Surga dari Malik bin Dinar
Di kota Bashrah, hiduplah seorang ulama besar bernama Malik bin Dinar. Beliau adalah seorang tabi'in yang dikenal dengan kezuhudan dan kearifannya. Nama lengkapnya Abu Yahya al-Basri Malik bin Dinar, seorang ulama yang sempat hidup bersama beberapa sahabat nabi dan berguru kepada tabi'in yang alim . Namun siapa sangka, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Sebelum menjadi ulama besar, Malik bin Dinar pernah hidup dalam kemaksiatan sebagai seorang pemabuk berat. Namun Allah membuka pintu hatinya, dan ia bertobat menjadi hamba yang saleh dan zuhud .
Kisah berikut ini adalah salah satu episode dalam hidupnya yang menunjukkan bagaimana Allah membalas kedermawanan seorang hamba dengan balasan yang berlipat ganda, melebihi apa pun yang bisa dibayangkan oleh akal manusia.
❖
Pertemuan di Tengah Pembangunan Megah
Pada suatu hari, Malik bin Dinar berjalan-jalan di kota Bashrah bersama sahabatnya, Ja'far bin Sulaiman (Abu Sulaiman) . Di tengah perjalanan, perhatian mereka tertuju pada seorang pemuda tampan yang sedang sibuk memberi komando kepada para pekerjanya. Pemuda itu tengah mengawasi pembangunan sebuah gedung megah yang tampaknya akan menjadi kebanggaan kota.
Malik bin Dinar berkata kepada sahabatnya, "Lihatlah pemuda itu, alangkah tampan wajahnya, betapa rajinnya ia mengatur pembangunan itu. Aku ingin berdoa semoga Allah menyelamatkan pemuda itu, dan menjadikannya pemuda ahli surga" .
Keduanya kemudian menghampiri pemuda itu dan mengucapkan salam. Meski tidak mengenal mereka secara khusus, pemuda itu dapat merasakan aura kewibawaan dari kedua tamunya. Ia menyambut dengan ramah dan santun, lalu menanyakan maksud kedatangan mereka.
"Rupanya ada keperluan yang sangat penting sehingga anda berdua datang menemuiku," kata pemuda itu.
Malik bin Dinar langsung menuju pokok persoalan. "Benar. Aku sangat kagum dengan gedung yang sedang dibangun ini. Nampaknya bangunan ini kelak akan menjadi gedung termegah di kota Bashrah. Yang ingin aku ketahui, berapa perkiraan biaya yang kau keluarkan untuk membangun gedung ini?"
Pemuda itu menjawab singkat, "Seratus ribu dirham."
"Oh, sungguh besar sekali," ujar Malik bin Dinar. "Benar, dan nanti gedung ini memang akan menjadi yang terindah di antara gedung-gedung yang sudah ada," sahut pemuda itu dengan bangga.
❖
Tawaran yang Tidak Masuk Akal
Malik bin Dinar kemudian melontarkan sesuatu yang di luar dugaan. "Dengan biaya sebesar itu, aku menjanjikan kepadamu sebuah gedung yang lebih indah, lebih megah, dan lebih luas dari gedung yang kau rencanakan ini."
Pemuda itu terkejut. "Benarkah?"
"Serahkan saja uang itu padaku untuk kuteruskan kepada yang lebih berhak. Nanti engkau akan tahu hasilnya," jawab Malik bin Dinar.
Penawaran ini sungguh tidak masuk akal secara duniawi. Seratus ribu dirham diserahkan kepada seseorang yang tidak dikenal, dengan imbalan sebuah gedung di tempat yang tidak kelihatan. Namun ada aura kesalehan dan ketulusan dalam ucapan Malik bin Dinar yang membuat pemuda itu tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Pemuda itu berkata, "Aku tak bisa memutuskan hari ini. Akan kupikirkan malam nanti. Tunggu jawabanku besok pagi."
❖
Malam Penuh Doa dan Keputusan Besar
Semalaman itu, Malik bin Dinar tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan jawaban yang akan diberikan pemuda itu. Ketika waktu sahur tiba, ia memperbanyak doa untuk kebaikan pemuda tampan tersebut .
Pagi harinya, pemuda itu datang menemui Malik bin Dinar. Setelah saling mengucap salam, pemuda itu bertanya, "Apakah yang tuan katakan kemarin?"
Malik bin Dinar mengulangi tawarannya, lalu bertanya, "Apakah kamu sanggup melaksanakannya?"
Pemuda itu menjawab dengan tegas, "Ya."
Ia kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dirham yang telah dipersiapkannya dan menyerahkannya kepada Malik bin Dinar. Pemuda itu juga menyiapkan selembar kertas, tinta, dan pena.
Malik bin Dinar mengambil kertas itu dan menulis sebuah perjanjian:
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillahirrahmanirrahim
Saya Malik bin Dinar telah menjanjikan kepadamu atas nama Allah sebuah gedung di surga, sebagai ganti gedung yang telah engkau infaqkan di jalan-Nya. Aku membeli untukmu dengan uangmu ini sebuah gedung di surga yang lebih luas dan lebih indah daripada gedungmu itu, di bawah naungan yang sejuk, di sisi Tuhan Yang Maha Agung .
Setelah menandatangani surat itu, Malik bin Dinar menyerahkannya kepada pemuda tersebut. Kemudian bersama Ja'far bin Sulaiman, mereka memikul uang itu dan berkeliling kota Bashrah membagikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Hingga sore hari, tidak tersisa satu dirham pun dari uang itu.
❖
Empat Puluh Hari Kemudian
Empat puluh hari berlalu. Suatu subuh, usai melaksanakan shalat di mihrabnya, Malik bin Dinar menemukan selembar kertas terlipat. Ketika dibuka, tampak tulisan yang tidak ditulis dengan tinta biasa. Isinya:
"Inilah pembebasan dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana untuk Malik bin Dinar. Aku telah memenuhi janji pemuda itu dengan sebuah gedung yang dijanjikan Malik bin Dinar, serta melipatgandakannya tujuh puluh kali lipat dari apa yang ia sifatkan" .
Malik bin Dinar tercengang. Ia segera mengajak Ja'far bin Sulaiman untuk menemui pemuda dermawan itu dan menyampaikan kabar gembira ini.
Namun setibanya di rumah pemuda itu, pintu terkunci rapat. Dari dalam terdengar suara tangisan. Seorang tetangga berkata, "Pemuda itu telah meninggal kemarin. Kami memanggil tukang memandikan ketika ia sakratulmaut."
❖
Surat di Dalam Kafan
Malik bin Dinar segera mencari tukang memandikan itu. Setelah bertemu, ia bertanya, "Coba ceritakan kepadaku bagaimana keadaan pemuda itu saat meninggal?"
Tukang memandikan itu berkata, "Sebelum meninggal, pemuda itu berpesan kepadaku, 'Jika aku telah mati dan engkau mengkafaniku, letakkanlah surat ini di dalam kafanku.' Maka kulakukan apa yang diwasiatkannya."
Malik bin Dinar menunjukkan surat yang ditemukannya di mihrab. "Apakah surat semacam ini yang kau letakkan?"
Tukang memandikan itu terheran-heran. "Demi Allah, benar seperti surat itu. Aku yakin telah meletakkannya di antara tubuh dan kain kafan, lalu menguburkannya. Namun mengapa surat ini ada di tanganmu?"
Seketika itu juga, orang-orang yang hadir menangis terharu. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Allah menunjukkan kebesaran-Nya.
❖
Tawaran Kedua yang Tertolak
Seorang pemuda lain yang menyaksikan kejadian itu mendekati Malik bin Dinar dan berkata, "Wahai Malik, ambillah dariku dua ratus ribu dinar, dan janjikan kepadaku sebagaimana yang kau janjikan kepada pemuda yang telah meninggal itu."
Tawaran ini jauh lebih besar—dinar adalah uang emas, sedangkan yang pertama adalah dirham perak. Namun Malik bin Dinar menjawab dengan bijak,
"Yang sudah terjadi akan tetap berlalu, dan yang akan datang kita tak tahu. Allah memberi ketentuan dengan apa yang Dia kehendaki" .
Malik bin Dinar menyadari bahwa kemuliaan yang diterima pemuda pertama bukan semata karena uangnya, tetapi karena keikhlasan, ketepatan waktu, dan kehendak khusus dari Allah. Hal seperti itu tidak bisa diulang dengan perhitungan duniawi.
❖
Landasan Al-Qur'an tentang Lipat Ganda Sedekah
Kisah ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjanjikan lipat ganda bagi orang yang bersedekah. Namun angka "tujuh puluh kali lipat" yang disebut dalam surat dari Allah kepada pemuda itu menunjukkan bahwa hitungan Allah jauh melampaui hitungan manusia.
Dalam tafsir Kementerian Agama, ayat ini menggambarkan betapa besar karunia Allah bagi mereka yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya. Tidak hanya dilipatgandakan sepuluh kali, tetapi bisa mencapai tujuh ratus kali lipat atau lebih, sesuai kehendak Allah .
❖
Keutamaan Sedekah di Waktu Sulit
Pemuda dalam kisah ini melepaskan seratus ribu dirham yang telah ia siapkan untuk membangun gedung impiannya. Ia bersedekah di saat ia sangat membutuhkan harta itu untuk mewujudkan ambisinya. Inilah sedekah yang paling utama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sedekah yang paling utama adalah ketika engkau bersedekah dalam kondisi sehat, kikir terhadap harta, tatkala engkau takut kepada kefakiran, dan saat engkau mengharapkan kekayaan. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu hingga apabila nyawamu telah sampai di kerongkongan, engkau pun berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian,' padahal harta itu sudah menjadi milik ahli warisnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa sedekah yang paling besar pahalanya adalah sedekah yang dikeluarkan ketika seseorang masih sehat, masih mencintai hartanya, dan masih takut jatuh miskin. Saat itulah godaan untuk menahan harta paling kuat, sehingga sedekah menjadi bukti keimanan yang hakiki.
❖
Tiga Pelajaran dari Kisah Pemuda Dermawan
1. Sedekah terbaik adalah saat harta masih sangat dibutuhkan. Pemuda itu menginfakkan seluruh dana pembangunan gedungnya, sesuatu yang sangat ia cita-citakan. Ia tidak menunggu sampai kaya raya atau sampai ajal menjemput. Ia memanfaatkan kesempatan emas yang datang padanya.
2. Balasan Allah jauh melampaui hitungan manusia. Seratus ribu dirham dibalas dengan gedung di surga yang tujuh puluh kali lipat lebih indah dari yang ia bayangkan. Ini adalah bukti firman Allah bahwa siapa yang meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, Allah akan mengembalikan dengan berlipat ganda.
3. Waktu terbatas, jangan menunda kebaikan. Empat puluh hari setelah bersedekah, pemuda itu dipanggil menghadap Allah. Seandainya ia menunda-nunda, mungkin ia tidak sempat menuai hasil sedekahnya. Ini mengajarkan bahwa kematian tidak mengenal usia.
❖
Antara Ambisi Dunia dan Investasi Akhirat
Pemuda dalam kisah ini awalnya adalah seorang yang tengah bergelut dengan ambisi duniawi. Ia ingin membangun gedung megah yang akan menjadi kebanggaan kota. Namun ketika tawaran investasi akhirat datang, ia tidak ragu. Ia mempertukarkan gedung dunia yang fana dengan gedung surga yang abadi.
Keputusan ini menunjukkan kebesaran jiwa dan kedalaman imannya. Ia percaya pada janji Allah meskipun tidak melihat langsung. Ia yakin pada ucapan seorang ulama meskipun secara logika dagang, itu adalah transaksi yang paling merugi: memberi uang tunai untuk barang yang tidak kelihatan.
Namun itulah iman. Berdagang dengan Allah adalah bisnis yang paling menguntungkan. Allah berfirman dalam hadits qudsi, "Aku bersama orang yang bersedekah." Dalam riwayat lain, "Sedekah itu memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api."
❖
Kisah ini menutup dengan pemandangan yang mengharukan. Malik bin Dinar selalu menangis bila teringat pemuda dermawan itu. Ia terus mendoakannya, meskipun tahu bahwa pemuda itu telah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.
Seorang pemuda lain menawarkan dua ratus ribu dinar untuk mendapatkan jaminan serupa. Namun Malik bin Dinar menolak dengan bijak. Ia tahu bahwa kehendak Allah tidak bisa dibeli dengan harta. Pemuda pertama mendapatkan keistimewaan itu karena keikhlasan, ketepatan waktu, dan rahasia ilahi yang tidak diketahui siapa pun.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak ragu berinvestasi untuk akhirat. Jangan tunda sedekah ketika kesempatan datang. Bisa jadi, sedekah yang kita keluarkan hari ini adalah tiket menuju surga esok hari.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan