Jangan Remehkan Si Fakir: Ketika Seorang Miskin Lebih Mulia di Sisi Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia menilai orang lain dari apa yang tampak: pakaian, harta, atau penampilan fisik. Yang kaya dihormati, yang miskin dipandang sebelah mata. Padahal di sisi Allah, kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ada di dalam hatinya. Kisah berikut ini mengajarkan betapa berbahayanya meremehkan orang fakir, dan bagaimana seorang hamba yang tampak lemah bisa memiliki kedudukan yang begitu tinggi di mata Allah hingga para nabi pun membelanya.
❖
Pertemuan di Masjid
Syaikh Abu Muhammad, seorang yang terhormat dan dekat dengan kalangan istana, baru saja menyelesaikan shalat Ashar di sebuah masjid. Suasana masjid tenang, para jamaah perlahan meninggalkan tempat. Tiba-tiba masuk seorang pemuda dengan penampilan yang memprihatinkan. Rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan seluruh raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Jelas sekali pemuda itu adalah seorang fakir yang mungkin tidak memiliki tempat berteduh.
Tanpa menghiraukan sekelilingnya, pemuda itu langsung mengambil tempat di samping Syaikh Abu Muhammad dan melaksanakan shalat Ashar. Selesai shalat, ia tidak pergi. Ia duduk bersedekap dengan posisi menekukkan kepala di antara dua lututnya, menunggu waktu Maghrib tiba dalam keadaan diam dan khusyuk.
Setelah shalat Maghrib berjamaah dilaksanakan, pemuda itu kembali duduk dalam posisi yang sama. Tubuhnya tampak menggigil kedinginan. Malam mulai turun, hawa dingin menusuk tulang, namun ia tetap bertahan di masjid tanpa selimut atau pakaian hangat.
❖
Undangan Istana dan Permintaan Sederhana
Di tengah situasi itu, datang seorang utusan raja mencari Syaikh Abu Muhammad. Sang raja mengundangnya untuk menghadiri jamuan makan malam di istana. Sebagai seorang yang dekat dengan penguasa, tentu ini adalah kehormatan yang tidak bisa ditolak.
Sebelum berangkat, Syaikh Abu Muhammad menoleh kepada pemuda fakir itu. Mungkin ada secuil rasa iba di hatinya, atau mungkin hanya sekadar basa-basi. Ia bertanya,
"Maukah engkau ikut bersamaku menghadiri undangan Baginda Raja?"
Pemuda itu mengangkat kepala, menatap Syaikh Abu Muhammad dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun jawabannya sungguh di luar dugaan.
"Terima kasih. Aku tidak ingin pergi ke sana. Aku hanya menginginkan surbanmu untuk kupakai menghangatkan tubuhku yang kedinginan."
Permintaan yang sangat sederhana. Selembar surban, bukan undangan makan mewah di istana. Namun alih-alih melepas surbannya dan memberikannya, Syaikh Abu Muhammad justru mengerutkan kening. Tanpa berkata sepatah pun, ia pergi meninggalkan pemuda itu.
❖
Malam yang Panjang di Istana
Di istana, pesta makan berlangsung meriah. Hidangan lezat berjejer, percakapan hangat mengalir, dan Syaikh Abu Muhammad larut dalam kemewahan malam itu. Pikirannya melayang jauh, tak tersisa sedikit pun ingatan tentang pemuda fakir yang kedinginan di masjid.
Jam menunjukkan larut malam ketika acara usai. Syaikh Abu Muhammad kembali ke masjid dengan langkah gontai. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati pemuda itu masih berada di tempat yang sama. Masih dengan posisi duduk bersedekap, masih menggigil kedinginan, dan masih tanpa selimut.
Namun sungguh tidak berperasaan, Syaikh Abu Muhammad justru menggelar sajadahnya untuk tidur tidak jauh dari tempat duduk pemuda itu. Ia memejamkan mata, membiarkan pemuda itu bergulat dengan dinginnya malam seorang diri.
❖
Mimpi yang Menggetarkan
Dalam tidurnya, Syaikh Abu Muhammad bermimpi sesuatu yang luar biasa. Ia melihat rombongan agung tengah berjalan. Di sana ada Rasulullah ﷺ bersama para nabi. Cahaya memancar dari wajah mereka, keharuman semerbak memenuhi ruang.
Syaikh Abu Muhammad segera mendekat dengan perasaan haru dan bahagia. Betapa mulianya bisa bertemu Rasulullah dalam mimpi. Ia mengucapkan salam dengan penuh hormat. Namun alangkah terkejutnya ketika Rasulullah ﷺ justru memalingkan muka. Tidak ada sambutan, tidak ada balasan salam yang hangat.
Jantung Syaikh Abu Muhammad berdegup kencang. Rasa takut dan cemas menyelimuti. Dengan suara bergetar ia bertanya,
"Wahai Rasulullah, apa dosaku hingga engkau memalingkan muka dariku?"
Rasulullah ﷺ menjawab dengan tegas namun penuh makna,
"Seorang fakir dari umatku telah meminta sesuatu darimu, tapi engkau tidak menghiraukannya."
Seketika itu juga Syaikh Abu Muhammad terbangun. Seluruh tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi dahi. Ia segera menoleh ke tempat pemuda fakir itu duduk. Namun tempat itu kosong. Samar-samar terdengar suara langkah kaki menjauh.
❖
Kejaran dan Penyesalan
Tanpa berpikir panjang, Syaikh Abu Muhammad bergegas bangkit dan berlari mengejar. Ia berteriak memanggil-manggil di kegelapan malam,
"Hai pemuda! Berhentilah! Ini surban yang kau minta tadi. Sekarang kuberikan padamu!"
Pemuda itu menghentikan langkahnya. Perlahan ia menoleh, menatap Syaikh Abu Muhammad yang terengah-engah. Namun di wajahnya tidak tampak kebahagiaan atau kelegaan. Justru ada kesejukan yang aneh, seolah ia berada di alam yang berbeda.
Dengan suara tenang namun menusuk, pemuda itu berkata,
"Ketika seorang fakir menginginkan sesuatu darimu, engkau tidak menghiraukannya. Dan engkau baru memberikannya setelah dimintakan oleh 124 ribu nabi. Sekarang, aku tidak membutuhkan lagi sesuatu darimu."
Pemuda itu berbalik dan pergi meninggalkan Syaikh Abu Muhammad yang terpaku di tempatnya. Ia hanya bisa berdiri, tak tahu apa yang harus dilakukan, merasakan penyesalan yang tak terperi.
❖
Kemuliaan Orang Fakir dalam Pandangan Islam
Kisah ini mengajarkan bahwa orang fakir memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Mereka yang tampak lemah dan hina di mata manusia bisa jadi adalah kekasih Allah yang doanya mustajab.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan." (QS. Al-Insan: 8)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ayat ini turun menggambarkan kebiasaan orang-orang saleh yang memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, meskipun mereka sendiri menyukai makanan tersebut . Memberi makan orang miskin bukan sekadar amal biasa, tetapi bukti keimanan yang akan membawa pelakunya masuk surga .
Bahkan dalam Al-Qur'an, Allah mengabarkan bahwa salah satu sebab utama orang kafir masuk neraka adalah karena mereka tidak memberi makan orang miskin. Allah berfirman:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ . قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ . وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ
"Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?" Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin." (QS. Al-Muddaththir: 42-44)
Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa memberi makan orang miskin adalah manifestasi keimanan, dan mengabaikan mereka adalah jalan menuju kebinasaan .
❖
Keutamaan Orang Miskin yang Sabar
Rasulullah ﷺ sendiri memiliki perhatian khusus terhadap orang-orang miskin. Bahkan beliau berdoa:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan kumpulkanlah aku bersama kelompok orang-orang miskin pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi)
Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya mengapa beliau berdoa demikian, Rasulullah ﷺ menjawab, "Orang-orang miskin akan masuk surga empat puluh tahun lebih dulu daripada orang-orang kaya. Wahai Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin meskipun hanya dengan setengah kurma. Sayangilah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, maka Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat."
Mahfud MD dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa hadits ini sebetulnya ditujukan untuk para pemimpin dan orang kaya, agar mereka rendah hati dan tidak sombong . Orang miskin yang sabar dan ikhlas lebih cepat masuk surga karena mereka tidak memiliki banyak harta yang harus dihisab .
❖
Tujuh Pelajaran dari Kisah Seorang Fakir
1. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta dan penampilan. Pemuda fakir yang kusut dan kedinginan ternyata memiliki kedudukan begitu tinggi hingga Rasulullah sendiri membelanya di alam mimpi. Di mata Allah, yang mulia adalah yang bertakwa, bukan yang kaya raya.
2. Permintaan sederhana dari orang lemah adalah ujian. Syaikh Abu Muhammad diminta sesuatu yang sangat mudah: selembar surban untuk menghangatkan tubuh. Namun ia gagal dalam ujian sederhana ini. Sering kali Allah menguji hamba-Nya melalui hal-hal kecil yang tampak sepele.
3. Sikap acuh terhadap fakir bisa mendatangkan murka Allah. Rasulullah ﷺ memalingkan muka dari Syaikh Abu Muhammad bukan tanpa sebab. Mengabaikan orang miskin adalah dosa besar yang bisa membuat seseorang kehilangan syafaat.
4. Waktu membantu orang lain ada batasnya. Pemuda itu berkata, "Sekarang aku tidak membutuhkan lagi sesuatu darimu." Ada masa ketika pintu pertolongan masih terbuka, dan ada masa ketika pintu itu tertutup selamanya. Jangan menunda-nunda kebaikan.
5. Orang fakir bisa lebih mulia dari orang kaya yang lalai. Dalam mimpi itu, pemuda fakir disebut oleh 124 ribu nabi, sementara Syaikh Abu Muhammad yang terhormat justru dijauhkan. Status sosial dunia tidak ada artinya di hadapan Allah.
6. Memberi makan dan membantu orang miskin adalah jalan menuju surga. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang yang memberi makan orang miskin termasuk dalam kriteria orang yang dijamin masuk surga . Sebaliknya, mengabaikan mereka bisa menjerumuskan ke neraka .
7. Keikhlasan dalam memberi lebih utama daripada jumlah yang diberikan. Dalam QS. Al-Insan ayat 9, Allah memuji orang-orang yang memberi makan dengan niat hanya mengharap rida Allah, tanpa mengharap balasan atau terima kasih . Pemuda itu tidak meminta diundang ke istana, hanya selembar surban. Namun pemberian yang ikhlas sekecil apa pun lebih bernilai di mata Allah daripada jamuan mewah yang diberikan dengan setengah hati.
❖
Kisah ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang memiliki kelebihan harta atau kedudukan. Jangan sekali-kali meremehkan orang fakir. Bisa jadi mereka yang tampak hina di mata manusia adalah wali-wali Allah yang tersembunyi. Satu senyuman, satu bantuan sederhana, atau bahkan selembar surban bisa menjadi penentu kedudukan kita di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ
"Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian." (HR. Bukhari)
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong dan acuh tak acuh terhadap mereka yang membutuhkan. Dan semoga kita diberi kepekaan untuk melihat kemuliaan di balik kesederhanaan.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan