Kearifan Nabi Isa AS: Teladan Bijaksana dalam Setiap Ucapan dan Sikap

Dalam sejarah kenabian, setiap rasul memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nabi Isa 'alaihissalam adalah salah satu dari lima rasul Ulul Azmi yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah SWT. Selain mukjizatnya yang luar biasa seperti dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir, dan berbicara sejak dalam buaian, ada satu aspek menarik dari pribadi Nabi Isa yang patut kita teladani, yaitu kebijaksanaan dan kearifannya dalam berdakwah meskipusianya relatif muda ketika diangkat menjadi rasul.

Kisah-kisah tentang kearifan Nabi Isa AS ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan mengandung mutiara hikmah yang relevan untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kesabaran menghadapi kritik, kebijaksanaan menjawab pertanyaan, dan adab menutup aib sesama muslim.


Diangkat Menjadi Rasul di Usia Muda

Nabi Isa 'alaihissalam diangkat oleh Allah SWT menjadi rasul ketika berusia tiga puluh tahun . Usia yang terbilang muda untuk memangku tanggung jawab besar sebagai utusan Allah. Namun demikian, Allah telah membekalinya dengan hikmah dan kebijaksanaan yang luar biasa.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di antara kaumnya, Bani Israil, ada sebagian yang merasa tidak puas dengan kenabian Isa. Mereka terus berusaha mencari-cari kelemahan dan celah untuk meragukan kapasitasnya sebagai pemimpin.

Dialog Pertama: Jawaban yang Menohok

Salah seorang dari mereka berkata dengan nada merendahkan,

"Umurmu masih terlalu muda, bagaimana mungkin engkau akan menjadi pimpinan dan panutan kami?"

Pertanyaan ini dilontarkan untuk meragukan kapasitas Nabi Isa. Namun dengan tenang dan penuh hikmah, Nabi Isa menjawab,

"Aku sudah cukup tua bila dibandingkan dengan Nabi Ibrahim ketika baru lahir."

Jawaban ini sangat cerdas dan bijaksana. Nabi Isa mengajak mereka berpikir secara jernih bahwa usia bukanlah satu-satunya parameter kebijaksanaan. Beliau membandingkan dengan Nabi Ibrahim yang juga telah dipilih Allah sejak muda. Orang yang bertanya pun terdiam, kehabisan argumentasi.

Dialog Kedua: Ujian di Zaman Berbeda

Orang lain yang juga merasa kurang puas kembali melontarkan kritik,

"Di zaman pimpinan Nabi Zakaria, kehidupan di sini sangat tenteram. Tetapi di zaman kenabianmu sekarang, banyak sekali kerusuhan. Bukankah itu sudah menunjukkan sebatas mana kemampuanmu?"

Sekilas kritik ini terdengar masuk akal. Namun Nabi Isa kembali menjawab dengan kebijaksanaan yang mendalam,

"Memang betul, sebab di zaman Nabi Zakaria, umatnya seperti aku. Sedangkan di masa sekarang, umatku seperti kamu semuanya."

Jawaban ini mengajarkan kita bahwa kondisi suatu zaman sangat ditentukan oleh kualitas umatnya sendiri. Bukan semata-mata karena kemampuan pemimpin. Dua orang yang mengkritik itu pun tidak dapat berkata-kata lagi.


Nilai-Nilai Kehidupan Menurut Nabi Isa

Pada suatu kesempatan, seorang murid bertanya kepada Nabi Isa AS tentang hal-hal yang berharga dalam kehidupan manusia. Dialog ini sarat dengan pelajaran spiritual yang sangat dalam.

1. Akal Sebagai Anugerah Utama

Murid itu bertanya, "Apakah yang paling berharga bagi manusia?"

Nabi Isa menjawab, "Akal. Sebab dengan akal, manusia dapat mensejahterakan kehidupannya."

Dalam pandangan Islam, akal memang merupakan anugerah terbesar setelah iman. Dengan akal, manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bermanfaat dan mudarat. Akal menjadi alat untuk memahami wahyu dan mengelola alam semesta.

Firman Allah SWT:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ra'd: 4)

2. Sahabat yang Menasihati

Murid bertanya lagi, "Kalau tidak ada (akal)?"

Nabi Isa menjawab, "Sahabat yang mau memberikan nasihat."

Ini menunjukkan betapa pentingnya lingkungan pertemanan yang baik. Rasulullah SAW bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

"Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

3. Harta Halal

Murid bertanya lagi, "Kalau tidak ada?"

Nabi Isa menjawab, "Harta yang halal dan dapat dibanggakan."

Harta halal menjadi penopang kehidupan. Dalam Islam, harta bukanlah tujuan utama, tetapi wasilah (sarana) untuk beribadah dan membantu sesama. Harta yang halal juga menjaga martabat seseorang dari kehinaan meminta-minta.

4. Diam

Murid bertanya lagi, "Kalau tidak ada?"

Nabi Isa menjawab, "Diam."

Ini adalah pelajaran berharga tentang adab berbicara. Diam lebih baik daripada berkata-kata tanpa ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Mati

Murid bertanya terakhir, "Kalau tidak bisa diam?"

Nabi Isa menjawab, "Mati." Beliau menjelaskan, "Manusia jika tidak punya apa-apa tetapi tidak bisa diam, biasanya mulutnya hanya dipakai untuk mengeluh dan dengki."

Sungguh dalam maknanya. Orang yang tidak memiliki akal, sahabat baik, harta halal, dan tidak bisa menjaga lisannya, maka kehidupannya seperti mayat hidup. Lisannya hanya menjadi sumber keburukan bagi diri sendiri dan orang lain.


Pelajaran Berharga tentang Menutup Aib

Salah satu ajaran Nabi Isa AS yang sangat relevan dengan kondisi kita saat ini adalah nasihatnya tentang menutup aib saudara sesama muslim. Dalam sebuah riwayat, Nabi Isa bertanya kepada para sahabatnya (Hawariyyun):

"Bagaimana jika kalian melihat salah seorang saudaramu terbuka auratnya ketika tidak sadar, misalnya pada waktu dia sedang tidur? Apakah yang akan kalian lakukan? Kau tutupi aurat saudaramu itu, atau akan kau buka sekalian biar telanjang bulat?"

Para sahabat menjawab, "Sebagai orang yang waras, tentu saja akan kami tutupi agar auratnya tidak kelihatan lagi. Masa akan kami buka biar telanjang bulat?"

Kemudian Nabi Isa berkata,

"Begitulah seharusnya orang yang beradab. Tetapi, mengapa apabila saudaramu terbuka aibnya, malah seringkali justru dibeberkan ke mana-mana, bahkan ditambah dengan membongkar aib-aibnya yang lain? Apakah hal itu tidak berarti sama dengan menelanjangi saudaramu sendiri di muka umum? Bila seseorang telah dibentangkan seluruh aibnya di muka umum, biasanya akan menjadi nekad di dalam maksiat serta akan malu untuk kembali kepada masyarakat yang sopan. Karena itu, janganlah suka membongkar aib orang lain, apalagi membeberkannya hingga meluas ke mana-mana. Orang yang memiliki aib seharusnya diberi peringatan secara bijaksana agar mau bertobat."

Hadis tentang Menutup Aib

Pelajaran dari Nabi Isa ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim no. 2590, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 2544) 

Dalam riwayat lain disebutkan:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia, melainkan Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat." (HR. Muslim no. 2590)

Betapa indahnya sikap Allah dalam menutupi aib hamba-Nya yang bertobat. Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang shahih, pada zaman Nabi Musa AS, Bani Israil ditimpa musim kemarau panjang. Nabi Musa memimpin doa memohon hujan, namun tak kunjung terkabul. Allah SWT lalu berfirman kepada Nabi Musa bahwa di antara mereka ada seorang hamba yang telah bermaksiat selama 40 tahun, dan karena dialah hujan tidak diturunkan. Allah memerintahkan agar orang itu keluar dari barisan mereka.

Nabi Musa pun menyerukan agar orang yang dimaksud keluar. Orang yang berdosa itu sadar bahwa dirinyalah yang dimaksud. Dalam hatinya ia bergumam, "Ya Allah, aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun, dan selama itu Engkau menutupi aibku. Sungguh kini aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah tobatku."

Setelah ia bertobat dengan tulus, turunlah hujan yang lebat. Nabi Musa keheranan dan bertanya kepada Allah, "Ya Allah, Engkau turunkan hujan, padahal tidak seorang pun yang keluar dari barisan kami." Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun." Musa berkata, "Ya Allah, tunjukkan orang itu kepadaku." Allah berfirman, "Wahai Musa, Aku telah menutupi aibnya ketika ia bermaksiat kepada-Ku. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya, padahal ia telah bertobat dan kembali kepada-Ku?"

Subhanallah, betapa agungnya kasih sayang Allah. Jika Allah saja menutupi aib hamba-Nya yang durhaka selama 40 tahun, lalu mengapa kita sebagai sesama manusia justru gemar membuka dan menyebarkan aib saudara kita sendiri?

Kapan Membuka Aib Diperbolehkan?

Para ulama menjelaskan bahwa pada dasarnya menutup aib adalah kewajiban. Namun ada beberapa kondisi yang memperbolehkan seseorang untuk membuka aib orang lain, di antaranya :

1. Untuk keperluan pengadilan/kesaksian, ketika diminta menjadi saksi atas suatu kejadian.

2. Untuk melindungi orang lain dari bahaya, misalnya memberi tahu karakter buruk seseorang yang akan menjadi mitra bisnis atau pasangan hidup.

3. Untuk kemaslahatan umum, seperti dalam proses jarh wa ta'dil (kritik terhadap perawi hadis) demi menjaga kemurnian syariat.

4. Ketika seseorang dizalimi, ia boleh mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada pihak berwenang.

5. Untuk meminta fatwa, ketika seseorang butuh solusi atas suatu masalah yang berkaitan dengan orang lain.

Namun di luar kondisi-kondisi darurat tersebut, menutup aib saudara muslim adalah akhlak mulia yang sangat dianjurkan.


Hikmah dan Kesimpulan

Dari kisah-kisah kearifan Nabi Isa AS di atas, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga:

1. Kebijaksanaan dalam berdialog. Nabi Isa mengajarkan kita untuk menjawab pertanyaan atau kritik dengan cara yang santun namun tetap menegakkan kebenaran. Beliau tidak marah atau defensif, tetapi memberikan jawaban yang membuat lawan bicaranya berpikir.

2. Menjaga lisan. Dialog Nabi Isa tentang nilai-nilai kehidupan mengingatkan kita bahwa lisan adalah pisau bermata dua. Jika tidak bisa berkata baik atau bermanfaat, diam adalah pilihan terbaik. Jika diam pun tidak mampu, maka itu pertanda "kematian" hati.

3. Menutup aib sesama muslim. Pelajaran paling berharga adalah tentang etika menutupi kesalahan orang lain. Analogi Nabi Isa tentang aurat fisik dan aib sosial sangat tepat. Membuka aib orang lain sama kejamnya dengan menelanjangi seseorang di hadapan publik.

4. Memberi kesempatan bertobat. Tujuan kita mengetahui kesalahan orang lain bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk membantunya kembali ke jalan yang benar dengan cara yang bijaksana.

Semoga kita semua diberi kemampuan untuk meneladani akhlak mulia para nabi, khususnya dalam hal menjaga lisan dan menutupi aib saudara sesama muslim. Mari kita ingat selalu bahwa suatu saat kita pun pasti sangat mengharapkan Allah dan hamba-hamba-Nya yang lain menutupi aib-aib kita.

"Ya Allah, tutuplah aib-aib kami, amankanlah kami dari segala ketakutan, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang saling mencintai karena-Mu."

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Wallahu a'lam bish-shawab.
Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.