Ketika Kebun Menguji Kekhusyukan: Teladan Keikhlasan Abu Thalhah r.a.
Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, berbagai kenikmatan dunia sering kali menjadi ujian bagi kualitas ibadahnya. Harta, usaha, bahkan sesuatu yang dicintai dapat tanpa disadari mengalihkan hati dari kekhusyukan. Kisah para sahabat Rasulullah ﷺ menunjukkan bagaimana mereka menjaga kemurnian ibadah dengan keikhlasan yang luar biasa. Salah satu teladan indah tersebut datang dari sahabat mulia, Abu Thalhah r.a.
Ujian Kekhusyukan di Kebun Kurma:
Abu Thalhah r.a. dikenal sebagai sahabat yang taat dan bersungguh‑sungguh dalam beribadah. Suatu hari, ketika sedang bekerja di kebun kurmanya, waktu shalat pun tiba. Ia segera berwudhu dan menunaikan shalat di kebunnya.
Di tengah shalat, perhatiannya sempat tertarik oleh seekor burung yang terbang dan hinggap di antara pepohonan kurma. Burung itu bergerak dari satu dahan ke dahan lain hingga akhirnya tersesat di antara rimbunnya daun. Tanpa disadari, pandangan Abu Thalhah r.a. mengikuti gerakan burung tersebut, sehingga ia lupa jumlah rakaat yang sedang dikerjakannya.
Setelah menyelesaikan shalat, ia merasakan penyesalan mendalam. Ia menyadari bahwa kebun yang dimilikinya telah menjadi sebab berkurangnya kekhusyukan dalam ibadahnya.
---
Keikhlasan yang Mengagumkan
Dengan hati penuh penyesalan, Abu Thalhah r.a. mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata bahwa kebunnya telah membuatnya lalai dalam shalat. Karena itu, ia ingin menyerahkan kebun tersebut untuk kepentingan di jalan Allah. agar menjadi penebusan kelalaiannya.
Ia berkata, "Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan aku lalai dari shalatku. Karena itu, aku ingin memberikan kebun ini untuk digunakan dijalan Allah. Apapun yang engkau sukai untuk digunakan, maka pergunakanlah!".
Sikap ini menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap kualitas ibadah mereka. Mereka tidak hanya menyesali kesalahan, tetapi juga bersegera melakukan amal nyata sebagai bentuk taubat dan keikhlasan.
Kisah serupa dimasa khalifa utsman ra
Kisah serupa juga terjadi pada kekhalifahan utsman ra. Seorang sahabat anshar pernah kehilangan kekhusukan shalat karena terpikat oleh buah kurma yang sudah masak di kebunnya. Ia pun menyadari dan merasa sedih karena lalai dan akhirnya menyerahkan kebunnya untuk kepentingan fi sabilillah.
Ia berkata, " Ya amirul mukminin, aku berikan kebun ini untuk fi sabilillah. Apa yang engkau ingin lakukan dengan kebunku ini silahkan lakukan sesukamu."
Maka khalifah utsman ra. Kemudian menjual kebun tersebut, dengan harga "Lima puluh dirham" dan hasil dari penjualannya digunakan untuk kepentingan kaum muslimin fi sabilillah. Tindakan ini menjadi bukti nyata bahwa para sahabat sangat menjaga hati mereka agar tidak terikat berkebihan pada keni'matan dunia.
Hikmah dan pelajaran
Kisah ini mengajarkan bahwa kekhusyuan adalah harta yang berharga dalam ibadah yang harus dijaga dengan kesungguhan. Ketika sesuatu di dunia mulai mengganggu hubungan kita dengan Allah, seorang mukmin hendaknya segera menyadari dan berusaha memperbaiki diri.
Keikhlasan para sahabat menjadi teladan bahwa harta bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita mampu meneladani semangat mereka: menjaga hati tetap fokus dalam ibadah, serta siap mengorbankan apa pun yang menghalangi kedekatan kita dengan-Nya.
Hikayat Lainnya :
❀ Hikayat Islam Penuh Hikmah: Kebaikan yang Mengubah Nasib Seorang Majusi dan Keluarganya
Gabung dalam percakapan