Kisah Abdullah Bin Mubarak dan Bahram al Majusi

Salam Rasulullah untuk Seorang Majusi: Kisah Abdullah bin Mubarak dan Bahram yang Husnul Khatimah.

Dalam sejarah Islam, terdapat kisah-kisah menakjubkan tentang bagaimana Allah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya melalui jalan yang tidak terduga. Salah satu kisah paling mengharukan adalah tentang Bahram, seorang Majusi penyembah api, yang mendapatkan salam langsung dari Rasulullah ﷺ melalui mimpi seorang ulama besar. Bukan karena ibadahnya, bukan pula karena ilmunya, tetapi karena setetes kasih sayang yang ia berikan kepada seorang janda muslimah yang kelaparan bersama anak-anaknya.

Kisah ini diriwayatkan dalam kitab-kitab klasik seperti Qomi'ut Tughyan karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Durratu an-Nashihin Fi al-Wa'd wa al-Irsyad karya Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir . Sebuah pelajaran bahwa Allah melihat hati dan amal, bukan status dan keyakinan seseorang. Dan bahwa kedermawanan bisa menjadi pintu hidayah yang tak terduga.


Siapa Abdullah bin Mubarak?

Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi adalah seorang ulama besar, ahli hadits, sufi, sekaligus saudagar kaya raya. Beliau lahir pada tahun 118 Hijriah. Ayahnya adalah seorang berkebangsaan Turki yang sebelumnya merupakan seorang budak, sedangkan ibunya berasal dari Khawarizm di Persia .

Imam adz-Dzahabi dalam ensiklopedinya Siyar A'lam an-Nubala' menyebut Abdullah bin Mubarak sebagai: "Imam, Syaikhul Islam, yang paling alim di masanya. Dia pemimpin orang-orang yang bertakwa di zamannya, al-Hafidz al-Ghazi (seorang pejuang)." 

Beliau dikenal sangat dermawan. Setiap tahunnya, Abdullah bin Mubarak menginfakkan 100 ribu dirham untuk kaum muslimin yang membutuhkan. Kekayaannya tidak membuatnya lalai dari ibadah dan jihad di jalan Allah .


Mimpi di Hijir Ismail

Pada suatu tahun, Abdullah bin Mubarak pergi menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Setelah menyelesaikan thawaf dan berbagai ritual haji, ia beristirahat sejenak di area Hijir Ismail. Karena kelelahan, ia pun tertidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah ﷺ. Wajah baginda nabi tampak berseri-seri. Beliau bersabda:

"Jika engkau pulang ke Baghdad nanti, pergilah ke sebuah kampung, carilah seorang Majusi bernama Bahram. Sampaikan salamku untuknya dan kabarkan bahwa Allah SWT meridhainya." 

Abdullah bin Mubarak terbangun dengan kaget. Hatinya berdebar tak percaya. Bagaimana mungkin seorang Majusi—penyembah api—mendapat salam dari Rasulullah dan kabar keridhaan Allah? Ia bergumam dalam hati:

"لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. هَذَا حُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ"

"Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim. Hadza hulmun minasy syaithan."

"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ini mimpi dari setan."

Ia segera bangkit, berwudhu, lalu shalat dan thawaf mengelilingi Ka'bah untuk mengusir gangguan setan. Namun ketika ia kembali tertidur, mimpi yang sama datang lagi. Hal ini berulang sampai tiga kali . Dalam Islam, setan tidak bisa menyerupai Rasulullah dalam mimpi. Maka Abdullah bin Mubarak pun yakin bahwa mimpi itu adalah benar dan berasal dari Allah.


Perjalanan ke Kampung Bahram

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, Abdullah bin Mubarak bergegas pulang ke Baghdad. Ia mencari kampung yang disebutkan dalam mimpinya. Setelah bertanya kepada penduduk setempat, ia akhirnya menemukan seorang laki-laki tua yang bernama Bahram.

"Apakah Anda Bahram, orang Majusi?" tanya Abdullah.

"Ya, benar," jawab lelaki tua itu.

Abdullah kemudian mulai bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan amal baik orang ini sehingga mendapatkan kehormatan sebesar itu dari Allah dan Rasul-Nya.


Dialog Abdullah dengan Bahram: Mencari Amal Kebaikan

"Apakah Anda memiliki perbuatan baik di sisi Allah?" tanya Abdullah.

Bahram menjawab dengan polosnya, "Ya, saya gemar memberi pinjaman kepada orang-orang. Saat mereka melunasi, saya meminta mereka membayar lebih dari jumlah pinjaman. Ini menurut saya adalah kebaikan."

Abdullah menggeleng, "Itu haram. Itu adalah riba. Adakah perbuatan lain?" 

"Ya, saya memiliki empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Saya menikahkan mereka sesama saudara kandung. Saya khawatir mereka menjadi milik orang lain."

"Itu juga haram. Pernikahan saudara kandung tidak dibenarkan dalam agama mana pun. Ada lagi?"

"Ya, saya rayakan pernikahan mereka dengan pesta besar ala Majusi, dihadiri lebih dari seribu orang."

"Itu juga haram. Masih ada yang lain?" 

Bahram kemudian berkata dengan nada agak malu, "Ya... saya memiliki seorang putri yang sangat cantik. Kecantikannya tiada tanding di negeri ini. Saya tidak menemukan pemuda yang pantas untuknya. Maka saya nikahi dia sendiri. Saya rayakan pernikahan itu dengan pesta mewah."

Abdullah bin Mubarak hampir putus asa. Semua yang disebutkan Bahram adalah kemaksiatan dan dosa besar. Ia mulai berpikir, mungkinkah ada kesalahan dalam mimpinya?

"Adakah lagi perbuatan lain?" tanya Abdullah untuk terakhir kalinya. 


Kisah di Balik Malam yang Sunyi

Bahram terdiam sejenak, matanya menerawang. Lalu ia mulai bercerita tentang sebuah peristiwa yang hampir terlupakan:

"Seminggu yang lalu, pada suatu malam, saya sedang bersiap-siap untuk mendatangi istri saya—yang juga putri saya sendiri. Tiba-tiba saya melihat seorang wanita masuk ke halaman rumah saya. Ia mengambil sedikit api dari lampu saya, lalu pergi. Tak lama kemudian ia kembali, mengambil api lagi. Demikian seterusnya sampai tiga kali." 

"Saya curiga. Mungkin wanita ini adalah mata-mata pencuri. Saya pun mengikutinya diam-diam. Saya ikuti langkahnya hingga ia masuk ke sebuah gubuk reyot di pinggir kampung."

Bahram melanjutkan dengan suara bergetar:

"Saat sampai di depan gubuk itu, saya mendengar suara anak-anak kecil yang merengek. Mereka berkata, 'Ibu... apakah ibu membawa makanan? Kami sudah tidak tahan lagi menahan lapar. Kami sudah sangat kelaparan.'"

"Wanita itu menangis tersedu-sedu. Dalam tangisnya ia berkata, 'Anak-anakku, bersabarlah. Ibu malu meminta kepada selain Allah. Apalagi meminta kepada musuh Allah, orang Majusi itu. Lebih baik kita bersabar.'"

Seketika hati Bahram luluh. Ia yang selama ini hidup dalam kemusyrikan dan kemaksiatan, merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Saya segera pulang ke rumah. Saya ambil nampan besar, saya isi dengan berbagai makanan dan kebutuhan. Lalu saya sendiri yang mengantarkannya ke gubuk wanita itu. Saya ketuk pintu, saya berikan nampan itu, lalu saya pergi tanpa berkata sepatah pun." 


Kabar Gembira dari Langit

Mendengar cerita itu, mata Abdullah bin Mubarak berkaca-kaca. Ia menemukan apa yang selama ini dicarinya.

"Wahai Bahram, inilah amal kebaikanmu. Inilah sebabnya Rasulullah mengirimkan salam untukmu dan mengabarkan bahwa Allah meridhaimu." 

Abdullah kemudian menceritakan seluruh mimpinya: tentang pertemuan dengan Rasulullah di Hijir Ismail, tentang pesan agar ia mencari Bahram, dan tentang salam serta kabar gembira dari Allah.

Bahram tertegun. Tubuhnya bergetar. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang keriput. Laki-laki tua yang selama puluhan tahun menyembah api ini, yang hidup dalam berbagai kemaksiatan, tiba-tiba merasakan cahaya iman menerobos relung hatinya yang paling dalam.

Dengan suara terbata-bata, ia mengucapkan:

"أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ"

"Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah."

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." 


Akhir yang Indah (Husnul Khatimah)

Seketika setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Bahram jatuh pingsan. Abdullah bin Mubarak berusaha menyadarkannya, namun rupanya Bahram telah menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggal dunia saat itu juga, dalam keadaan baru saja memeluk Islam .

Abdullah bin Mubarak tidak bisa meninggalkan jenazahnya. Dengan penuh kehormatan, ia memandikan, mengafani, menshalati, dan menguburkan Bahram di pemakaman kaum muslimin .

Laki-laki yang sepanjang hidupnya tenggelam dalam kemusyrikan dan dosa, berakhir dengan husnul khatimah karena satu amal baik yang tulus: memberi makan seorang janda muslimah dan anak-anaknya yang kelaparan.


Pesan Terakhir: Kedermawanan Mengubah Musuh Menjadi Kekasih

Setelah peristiwa itu, Abdullah bin Mubarak berkata dengan penuh makna:

"يَا عِبَادَ اللَّهِ، تَعَطَّفُوا عَلَى خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ الَّذِي يَفْعَلُ ذَلِكَ يَقْدِرُ أَنْ يُحَوِّلَ الْأَعْدَاءَ إِلَى أَوْلِيَاءَ"

"Wahai hamba-hamba Allah, berbelas kasihlah kepada sesama makhluk Allah. Karena siapa yang melakukan itu, ia mampu mengubah musuh menjadi kekasih." 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kedermawanan memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

"الْجَوَادُ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ"

"Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang bakhil (pelit) jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka." (HR. Tirmidzi) 

Bahkan dalam hadits lain disebutkan:

"إِنَّ الْجَاهِلَ الْجَوَادَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيلٍ"

"Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang pelit." 


Hikmah dari Kisah Bahram al-Majusi

1. Allah Melihat Hati dan Niat, Bukan Status
   Bahram adalah seorang Majusi penyembah api. Namun karena ketulusan hatinya membantu seorang janda muslimah, Allah mengampuni dosa-dosanya dan memberinya hidayah di akhir hayat. Ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh meremehkan siapa pun. Bisa jadi orang kafir sekalipun memiliki hati yang lebih lembut dari sebagian muslim .

2. Sedekah yang Ikhlas Bisa Menjadi Pintu Hidayah
   Bahram memberi makan janda itu tanpa pamrih, tanpa ingin dipuji, bahkan ia pergi tanpa memperkenalkan diri. Inilah sedekah yang paling utama: sedekah yang tersembunyi, yang tidak diketahui tangan kiri apa yang diberikan tangan kanan.

3. Jangan Meremehkan Amal Kecil
   Bahram mungkin berpikir itu hanya perbuatan biasa. Namun di mata Allah, amal itu begitu besar hingga mengundang salam Rasulullah dari alam barzakh. Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan mengantarkan kita ke surga.

4. Pintu Taubat Terbuka Sampai Akhir Hayat
   Bahram menghabiskan puluhan tahun dalam kemusyrikan dan berbagai dosa besar. Namun karena satu amal baik yang tulus, Allah membukakan pintu taubat untuknya. Ia meninggal dalam keadaan Islam. Ini adalah kabar gembira bagi siapa pun yang masih diberi kesempatan hidup.

5. Kedermawanan Memiliki Kekuatan Mengubah Musuh
   Bahram yang awalnya memusuhi Islam—karena ia adalah penyembah api yang hidup di tengah komunitas Majusi—pada akhirnya menjadi seorang muslim karena kebaikan hatinya kepada seorang muslimah. Ini membuktikan bahwa akhlak mulia adalah sarana dakwah paling efektif.

6. Jangan Menghakimi Orang Lain
   Abdullah bin Mubarak hampir putus asa karena semua jawaban Bahram adalah dosa. Namun di balik semua dosa itu, tersembunyi satu mutiara amal yang membuatnya mulia di sisi Allah. Kita tidak tahu di mana letak kebaikan seseorang.

7. Bersikap Dermawanlah kepada Semua Makhluk
   Pesan terakhir Abdullah bin Mubarak sangat relevan untuk kita renungkan. Kedermawanan tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi kepada semua makhluk Allah. Karena dengan kedermawanan, permusuhan bisa berubah menjadi persahabatan, kebencian bisa berubah menjadi cinta.

Kisah Bahram al-Majusi adalah salah satu bukti bahwa rahmat Allah melampaui segala batas. Seorang penyembah api yang hidup dalam kegelapan dosa, karena setetes kasih sayang kepada seorang hamba Allah yang lemah, akhirnya mendapat cahaya iman dan meninggal dalam keadaan diridhai Allah dan Rasul-Nya.

Abdullah bin Mubarak pulang dengan hati yang bergetar. Ia tidak hanya menyampaikan salam Rasulullah, tetapi juga menyaksikan sendiri bagaimana seorang Majusi berubah menjadi muslim dalam hitungan detik, lalu wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi, satu piring makanan yang kita berikan kepada orang yang kelaparan menjadi penyebab kita mendapatkan ridha Allah di akhir hayat.

والله اعلم بالصواب
Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.