Kisah Abdullah bin Ubay dan Keteguhan Iman Putranya
Sejarah Islam tidak hanya memuat kisah kemenangan kaum beriman, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ujian berupa kemunafikan muncul di tengah masyarakat Muslim. Salah satu peristiwa yang sarat pelajaran adalah kisah Abdullah bin Ubay, tokoh munafik di Madinah, serta sikap tegas putranya yang justru menjadi teladan keimanan. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-5 Hijriah, setelah ekspedisi Bani Musthaliq.
Perselisihan yang Hampir Memecah Kaum Muslimin
Sepulang dari peperangan Bani Musthaliq, sempat terjadi perselisihan kecil antara seorang dari kalangan Muhajirin dan seorang dari kaum Anshar. Perselisihan tersebut hampir berkembang menjadi konflik besar karena masing-masing pihak mulai membela kelompoknya.
Beberapa sahabat segera berusaha menenangkan keadaan sehingga perpecahan dapat dihindari. Namun, situasi yang hampir memanas ini justru dimanfaatkan oleh Abdullah bin Ubay untuk menebarkan provokasi.
Ucapan Provokatif Abdullah bin Ubay
Di tengah suasana tersebut, Abdullah bin Ubay menghasut sebagian orang dengan mengatakan bahwa kaum Muhajirin tidak seharusnya terus dibantu. Ia bahkan mengeluarkan kalimat yang merendahkan Rasulullah ﷺ dan kaum beriman, yang maknanya dikenal dalam riwayat dengan ungkapan:
ليخرجن الاعز منها الاذل
Layukhrijanna al-a‘azzu minha al-adzal“Yang merasa mulia akan mengusir yang dianggap hina dari Madinah.”
Ucapan ini didengar oleh sahabat muda Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, yang berada di tempat itu dan mendengarkan ketika Abdullah bin ubay mengatakn seperti itu. Zaid bin Arqam ra. Tidak rela mendengar ucapan Abdullah bin ubay. Ia berkata, "Demi Allah, kamulah yang hina. Kamu hina dalam pandangan kaummu, dan tidak seorangpun sudi membantumu. Muhammad saw. Adalah orang yang terhormat, dan menurut Allah. Beliau juga terhormat dikalangan kaumnya".
Akan tetapi Abdullah bin Ubay berkata, "Diamlah, aku hanya bercanda saja".
Kemudian Zaid melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Mendengar laporan tersebut Sayyidina Umar r.a meminta ijin Rasulullah untuk memisahkan kepala Abdullah bin ubay dari badannya.
Abdullah bin Ubay yang mengetahui bahwa perbuatannya sudah diketahui oleh Rasulullah ﷺ. Untuk mengemukakan alasan-alasannya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, tidak pernah pernah saya mengatakan seperti itu. Zaid ra, telah keliru mengatakannya".
Sebagian orang mencoba membela Abdullah bin Ubay dengan berbagai alasan, mereka berkata. "Ya Rasulullah, Abdullah bin ubay adalah seorang pembesar kaum kamil, ia adalah orang yang terhormat. Maka bertentangan sekali perkataan anak sekecil ini yang tidak bisa dipegang kejujurannya. Mungkin pendengarannya agak keliru atau salah paham dalam mengartikannya".
Rasulullah ﷺ. Menerima setiap perkataan pembelaan mereka. Sehingga pada saat itu tuduhan tersebut belum mendapatkan keputusan yang jelas.
Dengan sumpah palsunya Abdullah bin ubay telah datang menemui Rasulullah ﷺ. Menyatakan bahwa ia tidak bersalah, sebaliknya ia menuduh Zaid ra. yang telah berbohong. Apalagi alasan tersebut diterima Rasulullah ﷺ.
Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu.
Beliau merasa sedih dan terpukul karena pada awalnya sebagian orang tidak mempercayai laporannya tentang ucapan Abdullah bin Ubay, ia tidak pernah hadir lagi di majelis Rasulullah ﷺ. Sehingga turunlah ayat yang membenarkan perkataan Zaid ra.
Turunnya Wahyu yang Menjelaskan Kebenaran
Beberapa waktu kemudian, Allah menurunkan penjelasan melalui Surah Al-Munafiqun yang menyingkap sikap kemunafikan tersebut dan membenarkan laporan Zaid bin Arqam. Dengan turunnya wahyu itu, menjadi jelas bahwa ucapan Abdullah bin Ubay memang benar terjadi, sekaligus memperlihatkan bahwa Allah menjaga kehormatan Rasul-Nya dan kaum beriman.
Keteguhan Iman Putra Abdullah bin Ubay
Kisah ini semakin mengharukan ketika rombongan kembali mendekati Madinah. Putra Abdullah bin Ubay, yang juga bernama Abdullah dan merupakan seorang Muslim yang taat yang memegang agamanya dengan sungguh-sungguh.
Ketika Abdullah bin ubay mendekati kota Madinah, Abdulah "anaknya" sendiri. Keluar dan berdiri di depan gerbang kota dengan pedang yang terhunus. Ia menahan ayahnya masuk sebelum mengakui kesalahannya dan mengakui kemuliaan Rasulullah ﷺ. Ia berkata kepada ayahnya sendiri, "Engkaubtidak dapat masuk kedalam Madinah sebelum mengucapkan ikrar bahwa engkaulah yang bersalah dan engkaulah yang hina. Nabi Muhammad adalah orang yang Mulia".
Abdullah bin ubay, yang keheranan melihat perilaku ansknya. Karena sebelumnya ia sangat menghormati Ayahnya. Ia adalah anak yang shaleh, tapi karena persoalan itu ia jadi berpelikau seperti itu terhadapnya.
Dengan berat hati, sang ayah akhirnya mengakui kesalahannya. "Baik, aku adalah orang hina, dan Muhammad adalah orang yang Mulia". Dengan mengucapkan kalimat itu beberapa kali, sehingga ia diizinkan memasuki Madinah. Sikap sang putra menunjukkan bahwa keimanan harus ditempatkan di atas kepentingan keluarga, kedudukan, maupun kehormatan dunia.
❖
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi kaum Muslimin:
1. Bahaya provokasi dan fanatisme golongan yang dapat merusak persatuan umat.
2. Kejujuran akan selalu dimenangkan oleh kebenaran, meskipun pada awalnya diragukan oleh sebagian orang.
3. Keimanan sejati menuntut ketegasan prinsip, bahkan ketika harus berhadapan dengan keluarga sendiri.
4. Allah menjaga agama-Nya, dan siapa pun yang berusaha merendahkan Islam pada akhirnya akan terbuka keburukannya.
❖
Sejarah Abdullah bin Ubay dan putranya mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kedudukan atau keturunan, melainkan dari keimanan dan ketakwaannya. Ketika hati dipenuhi kejujuran dan kesetiaan kepada Allah serta Rasul-Nya, seseorang mampu berdiri teguh dalam kebenaran, meskipun harus menghadapi ujian yang berat. Semoga kisah ini menumbuhkan semangat menjaga persatuan umat dan memperkuat keteguhan iman dalam kehidupan kita sehari-hari.
Hikayat Lainnya :
Gabung dalam percakapan