Kisah Masjid Dhirar: Ketika Niat Buruk Membangun Rumah Ibadah Berujung Penghancuran
Dalam sejarah dakwah Islam, kita sering mendengar tentang keutamaan membangun masjid. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua masjid yang didirikan mendapat ridha Allah? Ada satu peristiwa penting dalam sirah Nabawiyah yang mengajarkan kita tentang urgensi niat dalam setiap amal, termasuk dalam mendirikan tempat ibadah. Peristiwa tersebut adalah kisah Masjid Dhirar, sebuah masjid yang dibangun oleh kaum munafik, namun justru diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk dihancurkan.
Kisah ini mengandung pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa bangunan fisik masjid yang megah tidak berarti apa-apa jika di belakangnya tersimpan niat kotor, seperti memecah belah persatuan umat. Mari kita renungkan bersama peristiwa ini agar kita selalu menjaga keikhlasan dalam setiap langkah.
❖
Latar Belakang Berdirinya Masjid Dhirar
Peristiwa ini terjadi sepulangnya Rasulullah ﷺ dari Perang Tabuk, tepatnya di daerah Dzu Awan — suatu tempat yang berjarak sekitar satu jam perjalanan kaki dari Kota Madinah. Saat itu, sekelompok orang munafik yang tinggal di sekitar Quba telah mendirikan sebuah masjid yang mereka namakan Masjid Dhirar. Mereka berpura-pura membangunnya untuk tujuan kebaikan, namun sesungguhnya di balik itu semua tersimpan maksud yang sangat keji.
Setelah pembangunannya selesai, para pengurus masjid itu datang menghadap Rasulullah ﷺ dan meminta beliau berkenan mengimami salat di masjid tersebut. Mereka berharap dengan hadirnya Rasulullah, masjid itu akan dianggap sah dan mendapat berkah. Namun, Allah ﷻ yang Maha Mengetahui segala isi hati segera menurunkan wahyu yang membongkar tabir kelam di balik pendirian masjid tersebut.
Wahyu yang Membongkar Kedok Munafik
Ketika Rasulullah ﷺ masih dalam perjalanan pulang, Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 107:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَالْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ
Walladziina attakhadzuu masjidan dhirooron wa kufron wa tafriiqon baynal mu'miniina wa irshoodal liman haarobal laaha wa rosuulahuu min qoblu
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin, serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu."
Ayat ini dengan tegas menyebutkan tiga tujuan busuk dari pendirian Masjid Dhirar:
1. Menimbulkan kemudharatan terhadap kaum mukminin.
2. Memperkuat kekafiran mereka.
3. Memecah belah persatuan umat Islam yang telah terbina di Masjid Quba.
Selain itu, mereka juga menjadikan masjid itu sebagai markas untuk menanti kedatangan seorang tokoh yang sejak awal memerangi Allah dan Rasul-Nya. Siapakah tokoh yang ditunggu-tunggu itu?
Sosok di Balik Rencana Jahat
Orang yang dinanti-nantikan oleh para pembangun Masjid Dhirar adalah Abu 'Amir ar-Rahib, seorang pendeta Nasrani dari Syiria. Sebelumnya, Abu 'Amir adalah seorang ahli ibadah di masa Jahiliyah, namun ketika Islam datang, ia justru menolak dan memusuhi dakwah Rasulullah. Ia pergi ke Syiria dan bergabung dengan pasukan Romawi, lalu merencanakan untuk membawa tentara Romawi menyerang Madinah dan memerangi kaum muslimin.
Para munafik itu sengaja membangun masjid di dekat Masjid Quba dengan harapan kelak Abu 'Amir datang dan menjadikannya sebagai markas untuk melancarkan serangan. Mereka bahkan menyiapkan tempat itu khusus untuknya agar ia dapat bersembahyang di sana. Namun, rencana jahat itu gagal total karena Abu 'Amir keburu meninggal di Syiria sebelum sempat menginjakkan kaki di Madinah.
Perintah Penghancuran dari Rasulullah
Setelah wahyu turun, Allah melanjutkan firman-Nya dalam ayat berikutnya (At-Taubah: 108):
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Laa taqum fiihi abadan, lamasjidun ussisa 'alat taqwaa min awwali yaumin ahaqqu an taquuma fiih, fiihi rijaalun yuhibbuuna an yatathohharuu, wallaahu yuhibbul muthohhiriin
"Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih berhak engkau laksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Berdasarkan perintah Allah ini, Rasulullah ﷺ segera memanggil beberapa sahabat terpercaya, yaitu Malik bin ad-Dakhsyim, Ma'n bin Adi, dan saudaranya 'Ashim bin 'Adi radhiyallahu 'anhum. Beliau bersabda,
"Berangkatlah kalian ke masjid dhirar yang dibangun oleh orang-orang zalim dan munafik itu. Bakar dan hancurkanlah!"
Para sahabat pun segera melaksanakan perintah Rasulullah. Mereka pergi ke masjid tersebut, lalu membakarnya hingga hancur rata dengan tanah. Demikianlah akhir dari masjid yang dibangun dengan niat penuh kemunafikan.
❖
Kisah Masjid Dhirar mengandung pelajaran yang sangat dalam bagi kita, umat Islam di sepanjang zaman. Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat kita petik:
1. Niat adalah fondasi utama setiap amal.
Seindah apa pun bangunan masjid, jika niat pendirinya rusak, maka ia tidak akan diterima di sisi Allah. Bahkan, bangunan itu bisa menjadi sumber dosa dan kemurkaan-Nya.
2. Persatuan umat adalah harga mati. Setiap upaya yang bertujuan memecah belah kaum muslimin, meskipun dibungkus dengan kegiatan keagamaan, harus diwaspadai dan dilawan. Masjid seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemisah.
3. Allah senantiasa menjaga Rasul-Nya dan umat Islam. Meskipun kaum munafik merencanakan tipu daya dengan rapi, Allah membongkar rencana mereka melalui wahyu sebelum sempat terlaksana. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan membiarkan orang-orang beriman dalam bahaya tanpa pertolongan.
4. Keberkahan terletak pada ketakwaan, bukan pada fisik bangunan. Masjid Quba yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama tetap menjadi masjid yang mulia hingga kini. Sementara Masjid Dhirar yang megah (menurut ukuran zamannya) justru hancur karena tidak ada keberkahan di dalamnya.
❖
Renungan bagi Kita
Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai cermin. Ketika kita berniat membangun masjid, mushala, atau bahkan sekadar mengadakan majelis ilmu, tanyakanlah pada hati: "Apakah niatku benar-benar ikhlas karena Allah? Apakah tujuannya untuk mempersatukan kaum muslimin atau justru ada kepentingan pribadi dan golongan?"
Semoga Allah selalu membersihkan hati kita dari sifat munafik, dan menjadikan setiap amal kita semata-mata mengharap wajah-Nya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disebut dalam firman-Nya:
"Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu)." (QS. At-Taubah: 56)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Gabung dalam percakapan