Melawan Dingin yang Membeku: Ketaatan Syekh Izzudin bin Abdussalam di Malam yang Ekstrem
Ketaatan kepada Allah tidak mengenal musim. Ia tidak peduli pada panas terik atau dingin membeku. Bagi seorang mukmin sejati, perintah Allah adalah segalanya, meskipun harus bertaruh dengan nyawa. Kisah berikut ini menceritakan tentang Syekh Izzudin bin Abdussalam, seorang ulama besar yang dijuluki "Sultanul Ulama" (Rajanya Para Ulama). Pada suatu malam yang sangat dingin, ia mengalami mimpi basah bukan sekali, melainkan dua kali. Dengan air yang membeku menjadi es, ia tetap memaksakan diri untuk mandi junub. Sebuah ketaatan yang menggetarkan langit.
❖
Malam yang Membekukan Tulang
Syekh Izzudin bin Abdussalam adalah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Syafi'i. Ia dikenal karena ketegasannya dalam kebenaran, kedalaman ilmunya, dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah. Suatu malam, di tengah musim dingin yang sangat ekstrem, ia tertidur. Udara malam itu begitu dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang. Air di kolam rumahnya bahkan membeku menjadi lapisan es yang keras.
Di tengah malam, Syekh Izzudin terbangun karena mengalami mimpi basah (ihtilam). Ia sadar bahwa dirinya dalam keadaan junub dan wajib mandi besar sebelum dapat melaksanakan shalat atau menyentuh mushaf Al-Qur'an. Namun, kondisi udara yang luar biasa dingin menjadi ujian berat. Air yang tersedia beku, tidak bisa langsung digunakan.
Perjuangan Melawan Es
Syekh Izzudin tidak ragu. Ia bergegas menuju kolam, mengambil benda keras, dan mulai memukul-mukul lapisan es hingga pecah. Ia mengambil air yang sangat dingin itu, lalu menyiramkannya ke tubuh. Rasa dingin yang luar biasa seketika mengguncang pori-pori, membuat tubuhnya gemetar hebat. Namun, ia tetap melanjutkan mandi junub hingga selesai. Setelah itu, ia kembali ke tempat tidur dengan tubuh yang masih menggigil.
Namun, takdir berkata lain. Di sisa malam itu, ia kembali bermimpi basah untuk kedua kalinya. Kini ia dihadapkan pada pilihan yang lebih berat: mandi lagi dalam kondisi tubuh yang belum pulih dari dingin yang luar biasa, atau menunda hingga pagi? Sebagai ulama yang memahami betul kewajiban bersuci, ia tahu bahwa menunda mandi junub tanpa uzur adalah dosa. Apalagi, ia ingin segera bersih agar bisa melaksanakan shalat dan beribadah dengan sempurna.
Dengan tekad bulat, ia kembali ke kolam. Kali ini, rasa dingin terasa lebih menusuk. Ketika air pertama disiramkan ke tubuh, ia merasakan sengatan yang luar biasa. Tubuhnya langsung kaku, pikirannya mulai kacau, dan tak lama kemudian ia jatuh pingsan. Antara sadar dan tidak, ia mendengar suara yang menggema di telinganya:
"Untuk kemuliaanmu, Aku akan menggantikannya di dunia dan akhirat."
Ketaatan yang Mengundang Rahmat
Suara itu adalah kabar gembira dari Allah. Syekh Izzudin tidak hanya selamat dari malam yang ekstrem itu, tetapi juga mendapat jaminan kemuliaan dari Sang Pencipta. Ketaatannya yang luar biasa, yang mengabaikan rasa sakit dan ancaman jiwa, dibalas dengan rahmat yang tak terhingga.
Kisah ini mengajarkan bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan ketaatan hamba-Nya. Semakin berat ujian dalam menjalankan perintah, semakin besar pula pahala yang disediakan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ أَحْمَزُهَا
Afdlalul a'maali ah mazuhaa
"Amal yang paling utama adalah yang paling berat (dalam pelaksanaannya)." (HR. Ahmad)
Syekh Izzudin membuktikan sabda ini dengan tindakan nyata. Ia tidak mencari keringanan, tidak mencari alasan, meskipun udara dingin membekukan air dan mengancam keselamatan jiwanya. Ia hanya berpikir satu hal: bagaimana menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya.
❖
Hikmah di Balik Peristiwa
Kisah Syekh Izzudin bin Abdussalam mengandung banyak pelajaran berharga:
1. Ketaatan Harus Melebihi Segalanya
Seorang muslim sejati menjadikan perintah Allah sebagai prioritas tertinggi. Tidak ada alasan yang bisa menggugurkan kewajiban selama masih mampu melakukannya. Syekh Izzudin bisa saja beralasan bahwa udara terlalu dingin dan air membeku, sehingga ia menunda mandi hingga pagi. Namun, ia memilih untuk tetap melaksanakan kewajiban saat itu juga.
2. Allah Melihat Perjuangan, Bukan Hasil Akhir
Syekh Izzudin pingsan di tengah mandi. Namun, Allah tetap membalas niat dan perjuangannya. Ini mengajarkan bahwa yang dinilai di sisi Allah adalah usaha maksimal seorang hamba, meskipun hasilnya tidak sempurna.
3. Kemuliaan Dunia dan Akhirat untuk Orang Bertakwa
Janji Allah dalam Al-Qur'an terbukti nyata:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Wa man yattaqillaaha yaj'al lahu makhrojaa, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Syekh Izzudin mendapatkan jalan keluar dari pingsannya, dan rezeki berupa kemuliaan yang tidak pernah ia duga.
4. Pentingnya Menjaga Kesucian
Mandi junub bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga menyucikan jiwa. Syekh Izzudin sangat menjaga kesucian dirinya karena ia tahu bahwa ibadah tidak akan diterima tanpa bersuci yang benar. Ini mengajarkan kita untuk tidak menyepelekan masalah hadas dan najis.
5. Ulama Adalah Teladan dalam Ketaatan
Syekh Izzudin tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mempraktikkan apa yang ia ajarkan. Ketaatannya menjadi inspirasi bagi murid-muridnya dan generasi setelahnya. Inilah ciri ulama pewaris nabi: ilmunya bermanfaat, amalnya nyata.
6. Jangan Remehkan Kekuatan Niat
Niat Syekh Izzudin untuk taat meskipun dalam kondisi sulit telah mengundang pertolongan Allah. Niat yang kuat akan melahirkan perjuangan, dan perjuangan akan mendatangkan rahmat.
---
Relevansi untuk Kehidupan Kita
Kisah ini mungkin terasa ekstrem bagi kita yang hidup di zaman serba nyaman. Kita memiliki pemanas air, kamar mandi tertutup, dan berbagai fasilitas yang memudahkan. Namun, justru di sinilah tantangannya: apakah kita tetap taat meskipun segala kemudahan tersedia? Ataukah kenyamanan justru membuat kita malas dan mengabaikan perintah Allah?
Kita mungkin tidak diuji dengan dingin yang membekukan tulang, tetapi kita diuji dengan panasnya matahari saat berwudhu di siang hari, dengan malasnya tubuh saat bangun untuk shalat malam, dengan sibuknya dunia saat tiba waktu shalat. Semua ini adalah ujian ketaatan.
Jika Syekh Izzudin rela memecahkan es dan mandi dengan air yang membekukan pori-pori, lalu apa alasan kita untuk bermalas-malasan dalam beribadah?
Renungan
Mari kita renungkan sejenak: sudah sejauh mana ketaatan kita kepada Allah? Apakah kita termasuk orang yang menjadikan perintah-Nya sebagai prioritas, atau justru menjadikannya sebagai beban yang dicari-cari keringanannya?
Ketaatan Syekh Izzudin mengajarkan bahwa surga tidak diberikan kepada orang yang bermalas-malasan. Surga adalah milik mereka yang berjuang, yang rela mengorbankan kenyamanan demi meraih ridha Allah.
Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammaa ya'lamillaahulladziina jaahaduu minkum wa ya'lamash shaabiriin
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar?" (QS. Ali Imran: 142)
Ketaatan adalah jihad. Kesabaran dalam menjalankan perintah di tengah kesulitan adalah jihad. Dan jihad akan mengantarkan pada surga.
❖
Kisah Syekh Izzudin bin Abdussalam yang mandi junub di malam yang sangat dingin hingga pingsan adalah bukti nyata bahwa ketaatan sejati tidak mengenal batas. Ia rela memecahkan es, menyiram tubuh dengan air yang membekukan pori-pori, dan akhirnya pingsan. Namun, di balik semua itu, ia mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.
Semoga kita dapat meneladani semangat beliau dalam beribadah. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu taat, meskipun dalam kondisi sulit. Dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin.
والله أعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan