Menjadi Budak Demi Sedekah: Kisah Nabi Khidir dan Kemuliaan di Balik "Bi Wajhillah"

Dalam khazanah Islam, terdapat kisah-kisah luar biasa yang mengajarkan tentang ketulusan, pengorbanan, dan kedalaman iman. Salah satu kisah yang paling menakjubkan adalah tentang Nabi Khidir 'alaihissalam, seorang nabi yang memiliki keistimewaan luar biasa dari Allah. Beliau dikenal sebagai guru Nabi Musa AS dan memiliki ilmu laduni yang diajarkan langsung oleh Allah سبحانه وتعالى.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Fa wajadaa 'abdan min 'ibaadinaa aataynaahu rahmatan min 'indinaa wa 'allamnaahu min ladunnaa 'ilmaa

"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi: 65)

Namun di balik semua kemuliaan itu, terdapat sebuah kisah yang menunjukkan betapa rendah hatinya seorang nabi. Kisah tentang bagaimana Nabi Khidir rela menjadi budak hanya karena ingin memenuhi permintaan seorang pengemis yang meminta dengan menyebut nama Allah. Sebuah pelajaran tentang keikhlasan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia.

Sumber Kisah dan Konteksnya

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dalam kitabnya Al-Mu'jam al-Ausath dan juga dalam Al-Mu'jam al-Kabir, sebagaimana dinukil dalam berbagai kitab klasik seperti Hilyatul Auliya karya Abu Nu'aim Al-Ashfahani . Rasulullah ﷺ sendiri yang menceritakan kisah ini kepada para sahabatnya, sebagai pelajaran tentang keutamaan bersedekah dan memuliakan orang yang meminta dengan menyebut nama Allah.

Dalam kitab 'Inayatul Muftaqir bima Yata'allaqu bi Sayyidina al-Khidr 'alaihissalam disebutkan kisah ini dengan detail, menjadi bahan renungan bagi para pencari ilmu dan hikmah .


Pertemuan di Pasar Bani Israil

Pada suatu hari, Nabi Khidir 'alaihissalam sedang berjalan-jalan di sebuah pasar di tengah perkampungan Bani Israil. Beliau tidak sedang menunjukkan identitasnya sebagai nabi, melainkan berbaur seperti orang biasa. Di tengah keramaian pasar itu, beliau berpapasan dengan seorang budak مكاتب (mukatab)—seorang budak yang memiliki perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan jika mampu membayar sejumlah uang tebusan. Budak itu bebas berusaha mencari uang untuk membayar tebusan dirinya .

Melihat sosok Nabi Khidir yang tampak saleh dan berwibawa, meskipun tidak mengenalnya, budak itu segera menghampiri dan berkata:

"تَصَدَّقْ عَلَيَّ يَا سَيِّدِي بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ"

"Tashaddaq 'alayya yaa sayyidii baarakallaahu fiik"

"Bersedekahlah untukku, Tuan. Semoga Allah memberkatimu."

Nabi Khidir menatapnya dengan penuh kelembutan, namun beliau benar-benar tidak memiliki apa pun saat itu. Beliau menjawab:

"مَا عِنْدِي شَيْءٌ أَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَيْكَ"

"Maa 'indii syai'un atashaddaqu bihi 'alaik"

"Aku tidak memiliki sesuatu pun untuk kusedekahkan kepadamu."

Namun budak itu tidak menyerah. Ia terus merayu dengan penuh harap:

"Bi wajhillah (Demi mengharap wajah Allah), saya memohon kepadamu, bersedekahlah kepadaku. Kulihat Tuan adalah seorang yang baik, saya ingin sekali memperoleh berkah darimu." 

Kalimat "Bi wajhillah" yang diucapkan budak itu bukanlah kalimat biasa. Ini adalah sumpah dengan menyebut nama Allah, sebuah permohonan yang sangat serius di kalangan Bani Israil. Mendengar kalimat itu, hati Nabi Khidir tersentuh. Beliau tidak tega mengecewakan orang yang meminta dengan mengatasnamakan Tuhan semesta alam.


Keputusan Besar: Menjual Diri

Setelah berpikir sejenak, Nabi Khidir mengambil keputusan yang di luar nalar. Beliau berkata kepada budak itu:

"Aku beriman kepada Allah, tetapi aku tak memiliki apa pun yang bisa kuberikan kepadamu, kecuali engkau mau menjualku sebagai budak." 

Budak itu terperanjat. Ia sendiri adalah seorang budak, bagaimana mungkin ia bisa menjual orang merdeka sebagai budak? Dengan ragu ia bertanya:

"Benarkah Tuan bersedia menjadi budak hanya karena hendak bersedekah kepadaku?"

Nabi Khidir menjawab dengan tegas:

"Engkau telah meminta kepadaku dengan 'Bi wajhillah'. Demi Allah, aku tidak ingin mengecewakanmu. Juallah diriku sebagai budak." 

Budak itu pun memberanikan diri. Ia membawa Nabi Khidir kepada seorang hartawan kaya raya di pasar budak. Setelah melalui tawar-menawar, Nabi Khidir laku terjual seharga 400 dirham—jumlah yang cukup untuk membayar tebusan kemerdekaan budak itu .

Uang itu diterima oleh budak tersebut dengan perasaan haru dan takjub. Ia tidak pernah membayangkan bahwa permintaan sederhananya akan berakhir dengan seseorang yang rela menjadi budak demi memenuhi permintaannya.


Tinggal di Rumah Majikan Baru

Sejak saat itu, Nabi Khidir tinggal di rumah majikannya yang telah membeli dirinya. Hari-hari berlalu, namun sang majikan tidak pernah menyuruhnya melakukan pekerjaan apa pun. Hal ini membuat Nabi Khidir merasa tidak enak. Bagaimanapun, ia telah dibeli dengan harga yang tidak murah, sudah seharusnya ia memberikan manfaat kepada majikannya.

Suatu hari, Nabi Khidir berkata kepada majikannya:

"Tuan, Anda telah membeli diriku. Jangan sungkan memerintahku untuk melakukan sesuatu pekerjaan."

Majikannya menjawab dengan penuh iba:

"Dirimu sudah tua dan lemah. Aku khawatir pekerjaan itu nanti akan memberatkanmu." 

Nabi Khidir meyakinkannya:

"Atas kuasa Allah, tidak ada suatu pekerjaan pun yang akan memberatkan diriku." 

Mendengar keyakinan itu, majikannya akhirnya memberi perintah:

"Baiklah, jika itu maumu. Pindahkan batu-batu itu ke belakang rumah."


Mukjizat yang Tak Tersangka

Di halaman rumah majikan itu memang bertumpuk batu-batu besar yang biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu jika dipindahkan oleh seorang pekerja. Bahkan jika dikerjakan oleh enam orang sekaligus, batu-batu itu baru akan selesai dipindahkan dalam waktu beberapa hari .

Majikan itu kemudian pergi untuk suatu keperluan. Ketika ia kembali, matanya terbelalak tak percaya. Belum sampai setengah hari ia pergi, seluruh batu-batu besar itu telah berpindah ke tempat yang diinginkannya. Padahal ia hanya memerintahkan satu orang tua yang renta.

Dengan takjub ia berkata:

"Alangkah baik pekerjaanmu. Sungguh engkau mempunyai kekuatan yang tidak kusangka-sangka." 

Kepercayaan dan Pekerjaan Berikutnya

Karena sangat terkesan dengan kinerja Nabi Khidir, majikannya semakin percaya. Pada suatu hari, ia hendak bepergian selama beberapa hari. Ia memanggil Nabi Khidir dan berkata:

"Aku akan pergi beberapa hari. Jagalah keluargaku dengan baik."

Nabi Khidir menjawab:

"Baik, tetapi perintahkan pula aku mengerjakan sesuatu selama engkau pergi."

Majikannya kembali ragu:

"Aku khawatir akan memberatkanmu."

Nabi Khidir sekali lagi meyakinkan:

"Tidak ada sesuatu yang akan memberatkan diriku." 

Majikannya berpikir sejenak, lalu berkata:

"Jika demikian, buatlah batu bata. Aku berencana membangun rumah setelah pulang dari perjalanan ini."

Majikan itu kemudian berangkat. Beberapa hari kemudian ketika ia pulang, ia tidak menemukan tumpukan batu bata seperti yang dibayangkannya. Sebaliknya, di hadapannya telah berdiri sebuah rumah megah persis seperti yang ia rencanakan, di lokasi yang ia inginkan. Padahal ia tidak pernah menceritakan gambaran rumah itu kepada siapa pun .


Pengakuan dengan "Bi Wajhillah"

Melihat kejadian demi kejadian yang tidak masuk akal, majikan itu mulai curiga. Ia segera menemui Nabi Khidir dan berkata:

"Bi wajhillah, aku bertanya kepadamu. Siapa sebenarnya engkau ini? Bagaimana semua ini bisa terjadi?" 

Kalimat "Bi wajhillah" yang sama kembali terucap. Nabi Khidir kemudian tersenyum dan mulai menceritakan semuanya:

"Engkau telah bertanya kepadaku dengan 'Bi wajhillah', dan kalimat itulah yang menyebabkan aku menjadi budak. Aku adalah Khidir, yang namanya mungkin pernah engkau dengar." 

Nabi Khidir kemudian menceritakan peristiwa sejak awal: tentang pertemuannya dengan budak mukatab, tentang permintaan "Bi wajhillah" yang membuatnya tidak tega menolak, hingga keputusannya untuk dijual sebagai budak agar permintaan itu terpenuhi.

Setelah itu, Nabi Khidir menyampaikan sebuah pelajaran penting:

"Barang siapa yang diminta dengan 'Bi wajhillah' tetapi menolak, padahal dia mampu memberi, maka di hari kiamat nanti ia akan menghadap Allah tanpa daging, dengan nafas tersengal-sengal." 


Reaksi Sang Majikan

Mendengar penjelasan itu, majikannya tersentak. Perasaannya campur aduk antara takjub, takut, haru, dan menyesal. Ia tidak menyangka bahwa selama ini ia telah memiliki seorang nabi sebagai budak di rumahnya. Dengan gugup ia berkata:

"اعْفُ عَنِّي يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَوَاللَّهِ لَوْ عَلِمْتُ مَا اسْتَعْمَلْتُكَ وَلَا ابْتَعْتُكَ"

"I'fu 'annii yaa nabiyyallaah, fawallaahi law 'alimtu mastakhdamtuka walaabta'tuka"

"Maafkan aku wahai Nabiyullah, demi Allah sekiranya aku mengetahui, aku tidak akan mempekerjakanmu dan tidak akan membelimu."

Kemudian ia berkata:

"فَأَنْتَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا فِدَاءَ عَلَيْكَ، وَأَقِمْ عِنْدَنَا نَخْدُمُكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ"

"Fa anta hurrun li wajhillahi laa fidaa'a 'alaik, wa aqim 'indanaa nakhdumuka yaa nabiyyallaah"

"Engkau merdeka karena wajah Allah, tanpa tebusan. Tinggallah bersama kami, kami akan melayanimu wahai Nabiyullah."

Nabi Khidir menjawab dengan lembut:

"لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ حُرًّا لِأَتَفَرَّغَ لِعِبَادَةِ رَبِّي"

"Laa haajata lii fii dzaalik, wa laakin uhibbu an akuuna hurran li atafarrugha li 'ibaadati rabbii"

"Aku tidak membutuhkan itu. Aku lebih suka merdeka agar bisa lebih leluasa beribadah kepada Tuhanku."

Kemudian Nabi Khidir berdoa dengan penuh syukur:

"الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَوْثَقَنِي فِي عُبُودِيَّتِهِ سَاعَةً، ثُمَّ نَجَّانِي مِنْهَا"

"Alhamdulillaahilladzii autsaqanii fii 'ubudiyyatihi saa'atan, tsumma najjaanii minhaa"

"Segala puji bagi Allah yang mengikatku dalam perbudakan sesaat, kemudian menyelamatkan diriku darinya."


Makna "Bi Wajhillah" dan Keutamaannya

Ungkapan "بِوَجْهِ اللَّهِ" (Bi wajhillah) secara harfiah berarti "demi wajah Allah" atau "demi mengharap wajah Allah". Ini adalah bentuk permohonan yang sangat serius, di mana seseorang meminta dengan mengatasnamakan Allah Yang Maha Mulia.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa di kalangan Bani Israil, permintaan dengan menyebut nama Allah adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Siapa pun yang diminta dengan cara seperti itu, jika ia mampu memberi namun menolak, maka ia akan mendapatkan konsekuensi berat di akhirat.

Hadits yang diriwayatkan dari Nabi Khidir ini mengajarkan beberapa hal:

1. Memuliakan orang yang meminta dengan nama Allah adalah keharusan. Jika seseorang meminta kepada kita dengan menyebut nama Allah, dan kita mampu memenuhinya, maka jangan sekali-kali menolaknya.

2. Balasan bagi yang menolak sangat berat. Di hari kiamat, orang yang menolak permintaan "Bi wajhillah" padahal mampu, akan datang dalam keadaan tanpa kulit dan daging di wajahnya, dengan nafas tersengal-sengal sebagai azab atas kekikirannya.

3. Keberkahan terletak pada keikhlasan. Nabi Khidir tidak memiliki harta, namun ia memberikan dirinya sendiri. Ini adalah bentuk sedekah tertinggi: mengorbankan diri demi memenuhi kebutuhan orang lain.


Enam Pelajaran dari Kisah Nabi Khidir

1. Keutamaan kalimat "Bi wajhillah"
   Kalimat ini memiliki kedudukan istimewa.Ketika seseorang meminta dengan mengatasnamakan Allah, seorang nabi pun rela menjadi budak demi memenuhinya. Ini mengajarkan untuk tidak meremehkan permintaan orang yang datang dengan membawa nama Allah.

2. Kekayaan sejati bukan pada harta, tetapi pada hati yang ikhlas
   Nabi Khidir tidak memiliki uang, tetapi ia memiliki dirinya. Ia rela kehilangan kemerdekaannya demi membuat orang lain bahagia. Inilah makna kekayaan hati yang sesungguhnya.

3. Kesederhanaan dan kerendahan hati seorang nabi
   Nabi Khidir adalah seorang nabi yang memiliki ilmu laduni, mampu melihat hal-hal gaib, dan menjadi guru Nabi Musa. Namun ia tidak segan menjadi budak, bekerja memindahkan batu dan membuat batu bata. Tidak ada kesombongan sedikit pun dalam dirinya.

4. Pertolongan Allah datang kepada hamba-Nya yang tulus
   Ketika Nabi Khidir bekerja dengan ikhlas sebagai budak, Allah memudahkan pekerjaannya.Batu-batu besar berpindah dalam sekejap, rumah megah berdiri dalam waktu singkat. Ini adalah karomah yang Allah berikan karena ketulusannya.

5. Balasan buruk bagi yang menolak permintaan dengan nama Allah
   Ancaman bagi yang menolak "Bi wajhillah" sangat menakutkan:menghadap Allah tanpa kulit dan daging di wajahnya, dengan nafas tersengal-sengal. Ini adalah gambaran azab yang mengerikan bagi orang-orang kikir.

6. Kemerdekaan sejati adalah bebas beribadah kepada Allah
   Nabi Khidir memilih merdeka agar bisa lebih bebas beribadah.Ini mengajarkan bahwa tujuan akhir dari segala aktivitas adalah untuk beribadah kepada Allah. Kemerdekaan fisik tidak berarti jika hati masih terbelenggu dunia.


Kisah Nabi Khidir yang rela menjadi budak demi sedekah adalah teladan tentang keikhlasan yang melampaui batas-batas nalar manusia. Beliau mengajarkan bahwa memberi bukan hanya tentang harta, tetapi juga tentang pengorbanan diri. Beliau mengajarkan bahwa kalimat "بِوَجْهِ اللَّهِ" (Bi wajhillah) adalah sesuatu yang agung, yang tidak boleh diabaikan.

Semoga kita semua diberikan kepekaan untuk memuliakan orang yang meminta dengan nama Allah, dan dijauhkan dari sifat kikir yang menyebabkan azab di akhirat. Dan semoga kita dapat meneladani kerendahan hati Nabi Khidir, yang meskipun seorang nabi, tidak segan menjadi budak demi kebaikan orang lain.

والله اعلم بالصواب
Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.