Tak Mampu Menjawab: Kisah Rabi'ah Al-Adawiyah dan Tiga Ulama
Ilmu dan kedudukan sering kali membuat seseorang merasa tinggi. Namun, ada kalanya kesadaran akan keterbatasan diri justru menjadi bukti kebesaran jiwa. Kisah berikut ini mempertemukan kita dengan seorang wanita ahli sufi yang zuhud, Rabi'ah Al-Adawiyah, dan tiga ulama besar yang datang melamarnya. Namun, alih-alih menerima lamaran, Rabi'ah justru mengajukan sederet pertanyaan yang membuat mereka terdiam. Bukan karena tidak tahu jawaban secara ilmiah, tetapi karena pertanyaan-pertanyaan itu menyentuh relung takdir yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Kisah ini mengajarkan tentang kerendahan hati, kesadaran akan kelemahan diri, dan pentingnya selalu bergantung kepada Allah dalam setiap urusan.
❖
Tiga Pelamar dari Kalangan Ulama
Suatu hari, tiga orang laki-laki saleh dan terkemuka datang ke rumah Rabi'ah Al-Adawiyah. Mereka adalah Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit Al-Bunani. Ketiganya adalah ulama besar pada masanya, dikenal dengan keilmuan, kewarganegaraan, dan kedekatan mereka dengan Allah. Mereka datang dengan maksud mulia: melamar Rabi'ah untuk dijadikan istri.
"Wahai Rabi'ah, pilihlah salah satu di antara kami sebagai suamimu. Menikah adalah sunnah Rasulullah ﷺ, dan kami semua ingin hidup bersamamu dalam ketaatan kepada Allah," kata salah seorang dari mereka.
Rabi'ah mendengar dengan tenang. Ia tidak langsung menjawab ya atau tidak. Dengan bijaksana, ia berkata, "Aku tidak dapat memilih salah satu di antara kalian untuk menjadi suamiku. Hanya, siapa yang dapat memecahkan beberapa permasalahan ini, dialah calon suamiku."
Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit Al-Bunani saling berpandangan. Mereka menyetujui syarat itu. Mereka yakin, dengan ilmu yang mereka miliki, tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Rentetan Pertanyaan yang Mengguncang Hati
Rabi'ah kemudian mengajukan pertanyaan pertamanya, ditujukan kepada Hasan Al-Bashri yang paling senior di antara mereka.
"Wahai Hasan, apa pendapatmu bila ada seseorang yang berkata bahwa nanti pada hari yang dijanjikan, ia tidak peduli terhadap orang-orang yang masuk neraka, dan tidak peduli pula terhadap orang-orang yang masuk surga. Termasuk golongan manakah dia itu nanti?"
Hasan Al-Bashri terdiam. Dahinya berkerut. Ia berpikir keras, namun tidak menemukan jawaban. Akhirnya ia berkata jujur, "Aku tidak tahu."
Rabi'ah melanjutkan pertanyaan kedua. "Malaikat telah membentuk diriku sewaktu aku dalam kandungan. Apakah aku menjadi orang yang bahagia atau orang yang sengsara?"
Hasan kembali terdiam. Ini adalah persoalan takdir, qadha dan qadar, yang hanya Allah yang mengetahuinya. "Aku tidak tahu," jawabnya lagi.
Pertanyaan ketiga dilontarkan. "Bila ada orang berkata kepada seseorang agar jangan takut dan bersedih, sementara kepada orang lain ia mengatakan mereka tak berhak bergembira. Maka termasuk kelompok manakah orang itu?"
Hasan Al-Bashri menggeleng. "Aku tidak tahu."
Rabi'ah terus bertanya. "Kuburan bisa menjadi taman surga, dan juga bisa menjadi lubang neraka. Bagaimana kuburanku nanti?"
"Aku tidak tahu."
"Pada suatu hari ada wajah-wajah yang putih berseri, ada pula wajah yang hitam kelam. Bagaimana wajahku nanti?"
"Aku tidak tahu."
Terakhir, Rabi'ah bertanya, "Bila pada hari kiamat ada orang yang berseru bahwa ketahuilah, si fulan telah mendapat kebahagiaan dan fulan bin fulan sangat sengsara. Maka termasuk golongan mana aku ini?"
Hasan Al-Bashri hanya bisa menjawab dengan kalimat yang sama, "Aku tidak tahu."
Air Mata di Penghujung Majelis
Setelah mendengar rentetan pertanyaan Rabi'ah, ketiga ulama besar itu tidak bisa berkata-kata. Bukan karena marah atau tersinggung, tetapi karena hati mereka tersentuh. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar teka-teki, melainkan pengingat akan kedudukan manusia di hadapan Allah. Semua yang ditanyakan Rabi'ah adalah perkara gaib, masa depan, dan takdir yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah.
Mereka sadar bahwa meskipun memiliki ilmu luas, ada batas-batas yang tidak bisa ditembus oleh akal manusia. Mereka pun menangis. Air mata mengalir membasahi pipi. Mereka menangisi diri mereka sendiri, menangisi ketidaktahuan mereka, dan menangisi betapa kecilnya mereka di hadapan kebesaran Allah.
Setelah beberapa saat, mereka bangkit dan pergi meninggalkan rumah Rabi'ah. Mereka tidak lagi membicarakan soal pernikahan. Yang tersisa hanyalah kesadaran baru bahwa hidup ini penuh misteri, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui.
❖
Makna di Balik Pertanyaan Rabi'ah
Pertanyaan-pertanyaan Rabi'ah bukanlah pertanyaan biasa. Ia menyentuh fondasi keimanan seorang muslim:
1. Tentang Hari Pembalasan
Pertanyaan pertama tentang orang yang tidak peduli pada penghuni surga dan neraka mengingatkan kita pada firman Allah:
وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا
Wa laa yakhaafu 'uqaabaa
"Dan dia tidak takut terhadap akibatnya." (QS. Asy-Syams: 15)
Hanya orang yang benar-benar yakin dengan janji Allah yang bisa bersikap seperti itu. Namun, siapa yang bisa memastikan dirinya termasuk golongan tersebut?
2. Tentang Takdir Manusia
Pertanyaan kedua tentang nasib bahagia atau sengsara adalah inti dari keyakinan kepada qadha dan qadar. Allah berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Innaa kulla syai'in khalaqnaahu bi qadr
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49)
Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sementara hasil akhirnya berada di tangan Allah.
3. Tentang Janji Manusia
Pertanyaan ketiga tentang seseorang yang menyuruh orang lain agar tidak takut dan bersedih, sementara kepada yang lain ia mengatakan tak berhak gembira, mengingatkan bahwa hidayah dan ketenangan hati adalah pemberian Allah semata.
4. Tentang Alam Kubur
Pertanyaan keempat tentang kubur yang bisa menjadi taman surga atau lubang neraka adalah pengingat bahwa nasib di alam barzakh tergantung pada amal selama hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ
Al qabru rawdhatun min riyaadhil jannati au hufratun min hufarin naar
"Kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka." (HR. Tirmidzi)
5. Tentang Wajah di Hari Kiamat
Pertanyaan kelima tentang wajah putih dan hitam merujuk pada firman Allah:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
Yauma tabyadhdhu wujuuhun wa taswaddu wujuuh
"Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram." (QS. Ali Imran: 106)
6. Tentang Seruan di Hari Kiamat
Pertanyaan terakhir tentang seruan kebahagiaan dan kesengsaraan adalah pengingat bahwa pada hari itu tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Semua amal akan ditampakkan.
❖
Pelajaran Berharga
Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa hikmah:
1. Kerendahan Hati Para Ulama
Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit Al-Bunani tidak malu mengatakan "tidak tahu". Mereka tidak bergeming atau mencoba menjawab asal-asalan. Kejujuran mereka adalah bukti ketakwaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
Man su'ila 'an 'ilmin fa katamahu, uljima yaumal qiyaamati bi lijaamin min naar
"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekang dari api neraka." (HR. Abu Daud)
Namun, menjawab tanpa ilmu juga dosa. Para ulama ini memilih diam karena memang tidak tahu.
2. Kedudukan Rabi'ah Al-Adawiyah
Rabi'ah bukan sekadar wanita zuhud. Ia memiliki pemahaman mendalam tentang hakikat kehidupan. Pertanyaan-pertanyaannya bukan untuk menjebak, tetapi untuk mengingatkan.
3. Manusia Tidak Tahu Masa Depan
Tidak seorang pun tahu apakah ia akan mati dalam keadaan husnul khatimah atau su'ul khatimah. Karena itu, kita harus selalu berdoa dan memohon keteguhan iman hingga akhir hayat.
4. Menangis karena Takut kepada Allah
Ketiga ulama itu menangis. Tangisan mereka adalah tanda hidupnya hati. Mereka sadar bahwa meskipun dikenal sebagai ulama besar, mereka tetap hamba yang lemah di hadapan Allah.
5. Prioritas Akhirat
Kisah ini juga mengajarkan bahwa urusan akhirat lebih penting daripada urusan duniawi. Mereka datang untuk melamar, tetapi pulang dengan membawa renungan mendalam.
❖
Kita mungkin tidak pernah mendapat pertanyaan seperti yang diajukan Rabi'ah. Namun, setiap muslim pasti akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa di alam kubur nanti. Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya tentang Tuhan, agama, dan nabi kita. Jika kita tidak siap menjawab, celakalah kita.
Maka, persiapkan diri sebaik mungkin. Perbanyak ilmu, perbaiki amal, dan jangan pernah merasa aman dari siksa Allah. Karena tidak ada yang tahu bagaimana akhir perjalanan hidup ini.
Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Famay ya'mal mitsqaala dzarratin khairay yarah, wa may ya'mal mitsqaala dzarratin syarray yarah
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
❖
Kisah Rabi'ah Al-Adawiyah dan tiga ulama besar ini adalah pengingat bahwa ilmu manusia sangat terbatas. Yang Maha Mengetahui hanyalah Allah. Maka, jangan sombong dengan ilmu, jangan bangga dengan amal, dan jangan merasa aman dari siksa-Nya. Teruslah berusaha, berdoa, dan memohon ampunan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang rendah hati, takut kepada-Nya, dan mendapatkan husnul khatimah. Aamiin.
والله أعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan