Tamak yang Membawa Petaka: Kisah Nabi Isa dan Pengikut Palsu
Dalam perjalanan dakwah para nabi, tidak semua orang yang datang dengan wajah ramah memiliki hati yang tulus. Ada kalanya seseorang mendekati seorang nabi bukan karena iman, tetapi karena kepentingan pribadi yang tersembunyi. Kisah berikut ini mengisahkan tentang Nabi Isa 'alaihissalam yang bertemu dengan seseorang yang mengaku ingin bersahabat, namun ternyata menyimpan sifat tamak dan suka berbohong.
Kisah ini mengandung pelajaran berharga tentang bagaimana sifat tercela dapat menghancurkan kesempatan emas untuk berada dekat dengan seorang utusan Allah. Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan betapa sabarnya para nabi dalam menghadapi keburukan akhlak manusia, serta bagaimana mukjizat yang diperlihatkan bertujuan untuk menyadarkan, bukan sekadar menunjukkan kekuasaan.
❖
Pertemuan di Tengah Jalan
Suatu ketika, Nabi Isa 'alaihissalam sedang berjalan seorang diri. Beliau menelusuri jalanan tanpa tujuan khusus, mungkin tengah merenungkan kebesaran Allah atau sekadar menikmati ciptaan-Nya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba seorang laki-laki datang mendekat dengan tergesa-gesa. Wajahnya berseri-seri, seolah telah lama menanti momen ini.
"Hai Isa, sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Kebetulan sekali sekarang kita berjumpa di sini," sapa orang itu penuh semangat.
Nabi Isa yang dikenal dengan kebijaksanaannya menatap orang itu dengan pandangan tenang. "Ada perlu apa engkau mencariku?" tanya beliau.
Orang itu menjawab dengan penuh antusiasme, "Aku ingin bersahabat denganmu dan selalu ingin bersamamu."
Tanpa banyak bertanya, Nabi Isa menjawab singkat, "Boleh."
Demikianlah awal dari sebuah perjalanan yang akan mengungkap tabir hati seseorang. Nabi Isa tidak menolak seseorang yang datang dengan niat baik, meskipun beliau adalah seorang nabi besar yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Inilah akhlak mulia para nabi: mereka selalu membuka pintu bagi siapa pun yang ingin mendekat, tanpa memandang status atau latar belakang.
❖
Ujian Pertama: Roti yang Hilang
Orang itu kemudian berjalan mengikuti Nabi Isa, berada tepat di sampingnya. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tepi sebuah sungai. Karena menganggapnya sebagai sahabat, Nabi Isa mengajaknya makan bersama. Namun ternyata roti yang dimiliki Nabi Isa hanya tinggal sepotong kecil.
Dengan penuh kebijaksanaan, Nabi Isa membelah roti itu menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk dirinya, satu bagian untuk orang itu, dan satu bagian lagi disisakan.
"Makanlah, aku hendak mencari air untuk diminum," kata Nabi Isa seraya beranjak pergi.
Setelah mendapatkan air, Nabi Isa kembali menjumpai orang yang mengaku sebagai sahabatnya itu. Betapa terkejut beliau ketika melihat roti yang tinggal sepotong telah lenyap tanpa bekas.
"Ke mana roti yang sisa sebagian tadi?" tanya Nabi Isa dengan nada datar, tanpa nada marah.
Orang itu menjawab dengan acuh tak acuh, "Entahlah, saya tidak tahu."
Nabi Isa hanya diam. Beliau tidak mengusut lebih jauh, tidak pula memojokkan orang itu dengan pertanyaan beruntun. Sikap ini menunjukkan kesabaran seorang nabi yang luar biasa. Beliau memberi kesempatan, mungkin berharap orang itu akan jujur suatu saat nanti.
Para ulama menjelaskan bahwa sifat diam dalam menghadapi keburukan orang lain kadang lebih utama daripada membeberkannya di muka umum. Nabi Isa mengajarkan bahwa menasihati seseorang tidak harus dengan cara yang memalukan, tetapi dengan memberi ruang untuk memperbaiki diri.
❖
Mukjizat Pertama: Rusa yang Hidup Kembali
Nabi Isa kemudian mengajak orang itu melanjutkan perjalanan. Mereka memasuki hutan tanpa tujuan yang jelas, berjalan cukup lama hingga keduanya merasa keletihan dan lapar.
Saat rasa lapar mulai terasa, terjadilah sesuatu yang menakjubkan. Nabi Isa memanggil seekor rusa yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Sungguh ajaib, rusa itu segera mendekat, menuruti panggilan Nabi Isa tanpa rasa takut. Ini adalah salah satu mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Isa.
Rusa itu kemudian disembelih dan dibakar oleh Nabi Isa. Beliau mengajak orang itu makan bersama sekenyang-kenyangnya. Setelah selesai makan, Nabi Isa melakukan sesuatu yang lebih menakjubkan lagi. Beliau memanggil rusa yang telah disembelih dan dimakan itu, dan atas izin Allah, binatang itu hidup kembali, lalu berlari menuju semak-semak.
Menyaksikan kejadian itu, hati orang itu pasti bergetar. Ia menyaksikan langsung kekuasaan Allah yang luar biasa. Melihat hal itu, Nabi Isa kembali bertanya dengan lembut,
"Demi Allah yang telah memperlihatkan kekuasaan-Nya kepadamu, sekali lagi aku ingin bertanya. Dan jawablah terus terang, siapa yang memakan sisa sepotong roti tadi?"
Namun jawaban yang keluar masih sama, "Sungguh, saya tak tahu."
Orang itu tetap mempertahankan kebohongannya, meskipun mukjizat besar telah diperlihatkan di hadapannya. Ini menunjukkan betapa kuatnya sifat tamak dan bohong telah mengakar dalam hatinya. Ia lebih memilih berdusta daripada mengakui kesalahan, meskipun ia tahu bahwa di hadapannya adalah seorang nabi yang maksum.
❖
Mukjizat Kedua: Berjalan di Atas Air
Nabi Isa kembali diam. Beliau tidak memaksa, tidak pula menghardik. Dengan kesabaran yang tak bertepi, beliau mengajak orang itu melanjutkan perjalanan. Mereka akhirnya sampai di tepi sungai yang sangat lebar, mungkin terlalu lebar untuk diseberangi dengan berenang atau rakit sederhana.
Di sinilah mukjizat kedua diperlihatkan. Nabi Isa menggandeng tangan orang itu, dan dengan izin Allah, mereka berjalan di atas air hingga sampai ke seberang. Air yang biasanya hanya bisa dilalui ikan dan perahu, kini menjadi jalan setapak yang kokoh bagi dua orang manusia.
Mukjizat berjalan di atas air ini menunjukkan betapa agungnya kekuasaan Allah yang diberikan kepada Nabi Isa. Beliau tidak hanya bisa menyembuhkan orang sakit atau menghidupkan orang mati, tetapi juga menaklukkan hukum alam atas izin Allah.
Setibanya di seberang sungai, Nabi Isa kembali bertanya dengan penuh kelembutan,
"Demi Allah yang telah memperlihatkan bukti kekuasaan-Nya kepadamu, aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu. Siapakah yang memakan sisa roti yang kemarin?"
Namun jawaban yang sama kembali terdengar, "Saya tidak tahu."
Tiga kali Nabi Isa bertanya, tiga kali pula orang itu berdusta. Mukjizat demi mukjizat telah diperlihatkan, namun hatinya masih tetap keras membela kebohongannya. Ini mengingatkan kita pada firman Allah:
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka azab yang berat." (QS. Al-Baqarah: 7)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus berdusta dan menutup mata dari kebenaran, Allah bisa saja mengunci hatinya sehingga kebenaran tidak lagi mampu masuk.
❖
Ujian Terakhir: Emas dari Tanah
Nabi Isa kembali mengajaknya berjalan, kali ini dalam diam. Setelah beberapa lama, mereka beristirahat di tempat yang teduh. Saat duduk melepaskan lelah, Nabi Isa mengambil segenggam tanah, kemudian meremasnya dalam genggaman.
"Atas izin Allah, jadilah engkau sebongkah emas," seru Nabi Isa.
Seketika itu juga, tanah dalam genggaman Nabi Isa berubah menjadi emas murni yang berkilau. Subhanallah, inilah mukjizat lain yang Allah berikan kepada nabi-Nya: kemampuan mengubah benda mati menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
Nabi Isa kemudian membagi emas itu menjadi tiga bagian yang sama besar. Satu bagian untuk beliau, satu bagian disodorkan kepada orang itu, dan satu bagian lagi masih berada di tangan beliau.
Melihat hal itu, orang yang sejak tadi diam bertanya dengan nada penasaran, "Yang satu bagian lagi untuk siapa?"
Nabi Isa menjawab dengan tenang, "Untuk yang memakan sisa roti tadi."
Mendengar ucapan Nabi Isa, muncullah sifat tamak yang selama ini ditutupi rapat-rapat. Orang itu langsung tersipu malu, namun kali ini ia tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya.
"Nabi Isa, sebenarnya akulah yang memakan sisa roti tadi. Maafkan aku telah membohongi engkau," katanya dengan suara tertunduk.
❖
Enam Pelajaran dari Sebuah Perjalanan
Kisah singkat ini mengandung banyak hikmah yang dapat dipetik:
1. Pentingnya kejujuran dalam setiap keadaan. Orang itu berdusta tentang hal sepele—sepotong roti—namun dusta kecil itu mengantarkannya pada kebinasaan hubungan dengan seorang nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
"Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)
1. Sifat tamak dapat menghancurkan peluang besar. Orang itu sebenarnya memiliki kesempatan emas untuk menjadi sahabat Nabi Isa. Namun karena tamak pada sepotong roti, ia kehilangan segalanya. Berapa banyak orang hari ini yang kehilangan keberkahan karena tamak pada hal-hal duniawi yang remeh?
2. Kesabaran dalam memberi nasihat. Nabi Isa tiga kali bertanya, tiga kali pula orang itu berdusta. Namun beliau tidak pernah marah, tidak pernah menghardik. Beliau memberi kesempatan berkali-kali, berharap orang itu sadar. Ini adalah teladan bagi para pendakwah: bersabar dalam menghadapi mereka yang keras kepala.
3. Mukjizat tidak selalu membawa hidayah. Orang itu menyaksikan tiga mukjizat besar: rusa hidup kembali, berjalan di atas air, dan tanah berubah emas. Namun semua itu tidak membuatnya bertobat. Hidayah adalah hak prerogatif Allah; tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya masuk ke hati seseorang.
4. Kebohongan akan terbuka pada waktunya. Orang itu berpikir kebohongannya tentang roti tidak akan diketahui siapa pun. Namun akhirnya kebenaran terungkap juga, dan justru melalui cara yang memalukan. Tidak ada kebohongan yang bisa bersembunyi selamanya.
5. Niat harus diluruskan sejak awal. Jika orang itu datang dengan niat tulus untuk bersahabat dan belajar, pasti ia akan mendapatkan banyak kebaikan. Namun karena niatnya sudah tercampur kepentingan pribadi, akhirnya ia hanya mendapatkan emas, dan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.
❖
Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua orang yang datang dengan wajah ramah memiliki hati yang tulus. Ada kalanya seseorang mendekati orang saleh bukan karena ingin belajar, tetapi karena ingin memanfaatkan. Dan pada akhirnya, merekalah yang paling rugi.
Orang itu mendapatkan emas yang diinginkannya. Tapi apakah emas itu memberinya kebahagiaan? Kita tidak tahu. Yang jelas, ia kehilangan kesempatan untuk duduk bersama seorang nabi, menyaksikan mukjizat secara langsung, dan belajar hikmah dari sumbernya. Emas sebanyak apa pun tidak bisa menggantikan semua itu.
Semoga kita dijauhkan dari sifat tamak dan dusta yang dapat menghancurkan hubungan kita dengan orang-orang saleh. Dan semoga kita selalu diberi kejujuran dalam setiap ucapan dan perbuatan, karena kejujuran adalah jalan menuju surga.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan