Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Zubair: Dua Purnama Kedermawanan dari Keluarga Mulia
Kemuliaan yang Diwariskan.
Dalam lembaran sejarah Islam, terdapat nama-nama yang bersinar bukan hanya karena kedekatan mereka dengan Rasulullah, tetapi juga karena akhlak mulia yang mereka wariskan dari generasi ke generasi. Di antara mereka, ada dua sosok yang namanya mungkin tidak setenar ayah-ayah mereka, namun keteladanan mereka layak diukir dengan tinta emas: Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Zubair bin Awwam. Keduanya adalah sepupu dan sekaligus menantu dari para khalifah, namun yang membuat mereka istimewa bukanlah hubungan darah atau pernikahan, melainkan kedermawanan yang mengalir deras dalam jiwa mereka.
Kisah mereka bukan sekadar cerita tentang memberi uang atau harta. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kemuliaan bisa diwariskan, bagaimana kedermawanan bisa menjadi identitas keluarga, dan bagaimana pertolongan Allah datang kepada mereka yang memberi dengan ikhlas. Dari Ja'far bin Abi Thalib yang gugur di Mu'tah, lahirlah Abdullah yang menjadi Quthb al-Syuka (porosnya para dermawan). Dari Zubair bin Awwam yang syahid, lahirlah Abdullah yang mampu melunasi hutang-hutang ayahnya dengan pertolongan Allah. Dan ketika dua Abdullah ini bertemu, terjadilah dialog kedermawanan yang mengharukan.
---
Ja'far bin Abi Thalib: Sang Pemberani yang Mencintai Orang Miskin
Sebelum berbicara tentang Abdullah bin Ja'far, kita perlu mengenal sosok ayahnya terlebih dahulu. Abdullah bin Ja'far, adalah kakak kandung Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah yang sangat dicintai. Keluarga ini terkenal sebagai keluarga yang sangat dermawan, pemberani, dan terkemuka di kalangan Quraisy. Namun Ja'far memiliki keistimewaan khusus: ia sangat dekat dengan orang-orang miskin. Hari-harinya dihabiskan bersama mereka, bergaul, mendengarkan keluh kesah, dan membantu tanpa pamrih .
Ketika penyiksaan kaum Quraisy terhadap muslimin semakin menjadi-jadi, Ja'far ikut dalam rombongan hijrah pertama ke Habasyah. Di sana, ia menjadi juru bicara kaum muslimin di hadapan Raja Najasyi, membela agama Allah dengan kepandaian dan keberanian yang luar biasa . Sekembalinya dari Habasyah, ia langsung menuju Madinah dan menetap di sana. Namun kebersamaannya dengan Rasulullah tidak berlangsung lama. Dalam Perang Mu'tah, Ja'far gugur sebagai syahid, memegang bendera dengan tangan kanan yang putus, lalu tangan kiri, hingga akhirnya ia merangkul bendera itu dengan kedua lengannya yang tersisa .
Ketika berita syahidnya Ja'far sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ pergi ke rumahnya untuk bertakziah. Beliau memanggil anak-anak Ja'far, mengusap kepala mereka dengan penuh kasih, dan mendoakan keberkahan untuk mereka . Di antara anak-anak itu, Abdullah bin Ja'far menunjukkan sifat-sifat yang sama dengan ayahnya, bahkan melebihinya dalam hal kedermawanan. Sehingga ia digelari Quthb al-Syuka— "Porosnya para dermawan."
---
Abdullah bin Ja'far: Dermawan Sejak Usia Muda
Pada usia 17 tahun, Abdullah bin Ja'far telah dibaiat oleh Rasulullah ﷺ. Usia yang masih sangat muda, namun kedewasaannya sudah melampaui usianya. Ia tumbuh dalam naungan keluarga yang mengajarkan bahwa memberi adalah kebahagiaan, bukan kehilangan.
Suatu ketika, Abdullah bin Ja'far pernah memohon perlindungan kepada Ali bin Abi Thalib untuk seseorang. Ali dengan kemuliaannya bersedia memberi perlindungan, dan setelah orang itu bebas, sebagai rasa terima kasih, ia memberikan uang sebanyak 40 ribu dirham kepada Abdullah. Namun dengan segera Abdullah mengembalikan uang itu seraya berkata:
"إِنَّا لَا نَبِيعُ الْمَعْرُوفَ"
Innā lā nabī'ul ma'rūf
"Sesungguhnya kami tidak menjual kebaikan."
Baginya, kebaikan adalah investasi akhirat yang tak ternilai dengan harta dunia. Ia tidak rela jika pertolongannya dinilai dengan uang.
Pada kesempatan lain, ia berada di sebuah majelis ketika seseorang datang memberinya uang sebanyak dua ribu dirham. Tanpa pikir panjang, ia menerima uang itu dan segera membagikannya kepada seluruh hadirin di majelis tersebut hingga tidak tersisa sedikit pun . Baginya, harta yang ada di tangan adalah titipan yang harus segera disalurkan.
---
Membeli Gula untuk Dibagikan Gratis
Salah satu kisah paling terkenal tentang kedermawanan Abdullah bin Ja'far terjadi di pasar. Suatu hari, seorang pedagang datang membawa dagangan berupa gula dalam jumlah besar. Ia berharap bisa menjualnya dan mendapatkan keuntungan. Namun tak seorang pun sudi membeli gula tersebut. Entah karena harga yang tidak sesuai atau karena pasokan yang melimpah, gula itu tetap utuh tak terjual. Pedagang itu duduk termenung di depan dagangannya, diliputi kesedihan dan kerisauan.
Ketika Abdullah bin Ja'far lewat bersama pelayannya, ia melihat kegelisahan pedagang itu. Setelah mengetahui permasalahannya, tanpa ragu ia memerintahkan pelayannya untuk membeli semua gula tersebut. Pedagang itu tentu saja gembira bukan kepalang. Namun kejutan belum berakhir. Setelah gula itu menjadi miliknya, Abdullah bin Ja'far membagikannya kepada semua orang secara cuma-cuma . Ia tidak mengambil satu butir pun untuk dirinya, semuanya ia sedekahkan.
Inilah kedermawanan sejati: membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, hanya untuk membantu orang lain yang sedang kesulitan, lalu memberikannya lagi kepada mereka yang membutuhkan. Ia menjadi perantara rezeki bagi pedagang yang hampir bangkrut, sekaligus menjadi perantara kebahagiaan bagi banyak orang yang menerima gula gratis.
---
Tamu Malam yang Tak Pernah Pulang dengan Tangan Hampa
Kebiasaan Abdullah bin Ja'far tidak berhenti di siang hari. Di malam hari, ia memiliki tradisi yang sangat mulia. Setiap kali ada kabilah atau tamu yang datang, ia akan memastikan mereka mendapatkan makan dan minum. Semua keperluan tamu itu dipenuhinya tanpa diminta. Rumahnya selalu terbuka bagi siapa pun yang singgah, dan tangannya selalu siap memberi sebelum mulut sempat meminta .
Dalam budaya Arab, memuliakan tamu adalah bagian dari kehormatan. Namun Abdullah melampaui sekadar tradisi. Baginya, setiap tamu adalah hadiah dari Allah, dan melayani mereka adalah ibadah yang mendatangkan kebahagiaan.
---
Abdullah bin Zubair: Pewaris Kejujuran dan Hutang Sang Ayah
Di sisi lain Madinah, hiduplah Abdullah bin Zubair bin Awwam. Ayahnya, Zubair bin Awwam, adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, seorang pemberani yang dijuluki Hawari Rasulullah (pembela setia Rasulullah). Zubair juga terkenal sebagai saudagar kaya raya, namun kekayaannya tidak membuatnya lalai dari jalan Allah.
Suatu ketika, Zubair ikut bertempur dalam sebuah peperangan. Sebelum berangkat, ia memiliki firasat bahwa ini adalah pertempuran terakhirnya. Maka ia memanggil putranya, Abdullah bin Zubair, dan berwasiat:
"إِنِّي أَظُنُّ أَنِّي مَقْتُولٌ الْيَوْمَ، وَإِنَّ أَكْبَرَ هَمِّي دَيْنِي، فَانْظُرْ فِي قَضَاءِ دَيْنِي"
Innī aẓunnu annī maqtūlun al-yaum, wa inna akbara hammī dainī, fanẓur fī qaḍā'i dainī
"Aku mengira bahwa hari ini aku akan terbunuh. Dan yang paling besar menjadi perhatianku adalah hutang-hutangku. Maka perhatikanlah pelunasan hutang-hutangku."
Zubair kemudian menjelaskan secara rinci kepada siapa saja ia berhutang, dan bagaimana cara melunasinya. Setelah berwasiat, ia pun berangkat dan gugur sebagai syahid.
Sepeninggal Zubair, Abdullah bin Zubair mulai menghitung seluruh hutang yang ditinggalkan. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa total hutang ayahnya mencapai dua juta seratus ribu dirham. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.
Namun ada satu hal yang perlu diketahui: Zubair adalah seorang yang sangat jujur dan terpercaya. Banyak orang menitipkan harta dan uang mereka kepadanya. Namun Zubair selalu berkata kepada para penitip:
"لَا تَدْفَعُوهَا إِلَيَّ عَلَى أَنَّهَا أَمَانَةٌ، وَلَكِنْ عَلَى أَنَّهَا قَرْضٌ، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ أَمُوتَ فَلَا أَرُدَّهَا"
Lā tadfa'ūhā ilayya 'alā annahā amānah, wa lākin 'alā annahā qarḍ, fa innī akhāfu an amūta fa lā araddahā
"Janganlah kalian serahkan titipan itu kepadaku sebagai amanah, tetapi sebagai hutang. Sesungguhnya aku khawatir jika aku mati, aku tidak bisa mengembalikannya."
Dengan cara ini, Zubair memastikan bahwa jika ia meninggal, para pemilik harta tetap bisa menagihnya sebagai hutang yang harus dilunasi oleh ahli warisnya. Ini adalah bentuk kehati-hatian yang luar biasa dalam menjaga amanah.
Selain itu, Zubair juga berwasiat kepada Abdullah:
"يَا بُنَيَّ، إِذَا تَعَذَّرَ عَلَيْكَ قَضَاءُ الدَّيْنِ فَاسْتَعِنْ بِمَوْلَايَ"
Yā bunayya, idzā ta'adzdzara 'alaika qaḍā'ud daini fasta'in bi maulāya
"Wahai anakku, jika engkau kesulitan melunasi hutang, maka mintalah pertolongan kepada Tuanku."
Abdullah bertanya, "Siapakah tuanmu itu, wahai ayah?"
Zubair menjawab singkat namun dalam, "اللَّهُ" Allāh "Allah."
---
Pertolongan Allah dalam Setiap Kesulitan
Abdullah bin Zubair memulai usahanya melunasi hutang-hutang ayahnya. Setiap kali menghadapi kesulitan, ia mengangkat tangan dan berdoa:
"يَا مَوْلَى الزُّبَيْرِ، اقْضِ دَيْنَ الزُّبَيْرِ"
Yā maulaz-zubair, iqḍi dainaz-zubair
"Wahai Tuhan Zubair, lunasilah hutang Zubair."
Dengan izin Allah, hutang demi hutang dapat ia lunasi. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang bertawakal kepada Allah.
Suatu ketika, Abdullah bin Zubair menemukan dalam catatan hutang ayahnya bahwa Abdullah bin Ja'far tercatat berhutang satu juta dirham kepada Zubair. Ia pun mendatangi Abdullah bin Ja'far dan berkata:
"إِنَّ فِي كِتَابِ أَبِي أَنَّ لَهُ عَلَيْكَ أَلْفَ أَلْفِ دِرْهَمٍ"
Inna fī kitābi abī anna lahu 'alaika alfa alfi dirham
"Sesungguhnya dalam catatan ayahku, engkau berhutang kepadanya sejuta dirham."
Mendengar itu, Abdullah bin Ja'far tanpa ragu menjawab:
"فَخُذْهَا"
Fa khudzhā
"Ambillah uang itu sebagai pelunasan."
Namun setelah meneliti kembali catatan itu, Abdullah bin Zubair menyadari bahwa ia telah keliru. Sebenarnya ayahnyalah yang berhutang kepada Abdullah bin Ja'far, bukan sebaliknya. Dengan perasaan bersalah, ia segera kembali menemui Abdullah bin Ja'far dan menjelaskan kesalahannya.
Mendengar penjelasan itu, Abdullah bin Ja'far tersenyum dan berkata:
"لَا، لَا يَكْفِي، لَا بُدَّ أَنْ أَدْفَعَهَا"
Lā, lā yakfī, lā budda an adfa'ahā
"Tidak, tidak cukup hanya memaafkan. Aku harus tetap membayarnya."
Abdullah bin Zubair berkata, "Jika demikian, bayarlah sesuai kemampuanmu."
Lalu Abdullah bin Zubair menawarkan sebidang tanah sebagai pembayaran. Tanah itu adalah tanah tandus yang tidak berair, diperoleh dari harta rampasan perang. Ia berkata:
"خُذْ هَذِهِ الْأَرْضَ"
Khudz hādzihil arḍ
"Ambillah tanah ini."
Abdullah bin Ja'far menerima tanah itu. Setelah tanah itu menjadi miliknya, ia memerintahkan pelayannya:
"ابْسُطْ لِي سَجَّادَتِي عَلَى هَذِهِ الْأَرْضِ"
Ibsuṭ lī sajjādatī 'alā hādzihil arḍ
"Hamparkan sajadahku di atas tanah ini."
Ia lalu shalat dua rakaat di atas tanah itu, memperpanjang sujudnya, berdoa dengan khusyuk. Setelah selesai, ia berkata kepada pelayannya:
"احْفِرْ هَذَا الْمَكَانَ"
Iḥfir hādzal makān
"Galilah tempat ini."
Pelayannya mulai menggali, dan beberapa saat kemudian, terpancarlah mata air yang deras dari tempat itu. Tanah yang tadinya tandus dan tidak berair, kini menjadi sumber kehidupan. Berkat keberkahan doa dan kedekatannya dengan Allah, Abdullah bin Ja'far mendapatkan kebaikan dunia sekaligus akhirat .
---
Pelajaran dari Dua Purnama Kedermawanan
1. Kedermawanan Bisa Diwariskan
Ja'far bin Abi Thalib adalah seorang dermawan yang mencintai orang miskin. Sifat ini diwariskan kepada putranya, Abdullah, bahkan dengan kualitas yang lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa akhlak mulia bisa ditanamkan sejak dini dan menjadi karakter yang melekat dalam keluarga.
2. Kebaikan Tidak Boleh Dijual dengan Harga Apa Pun
Ketika Abdullah bin Ja'far mengembalikan 40 ribu dirham seraya berkata, "Kami tidak menjual kebaikan," ia mengajarkan bahwa pertolongan yang diberikan karena Allah tidak boleh dikomersialkan. Kebaikan adalah investasi akhirat yang nilainya jauh melebihi seluruh kekayaan dunia.
3. Beri dengan Tangan Kanan, Sembunyikan dari Tangan Kiri
Kisah pembelian gula dan pembagiannya secara gratis menunjukkan bahwa sedekah yang paling utama adalah yang tidak diketahui orang. Abdullah bin Ja'far tidak meminta publikasi, tidak ingin dipuji. Ia hanya ingin membantu pedagang yang sedang susah dan membahagiakan orang-orang yang membutuhkan.
4. Kehati-hatian dalam Memegang Amanah
Zubair bin Awwam mengajarkan bahwa memegang amanah orang lain bukan perkara enteng. Ia mengubah status titipan menjadi hutang agar keluarganya tetap bertanggung jawab mengembalikannya. Ini adalah pelajaran tentang integritas dan kehati-hatian yang luar biasa.
5. Bertawakal kepada Allah dalam Setiap Kesulitan
Wasiat Zubair untuk meminta pertolongan kepada Allah menjadi pegangan Abdullah bin Zubair. Setiap kali kesulitan datang, ia berdoa, "Wahai Tuhan Zubair, lunasilah hutang Zubair." Dan Allah selalu membukakan jalan keluar. Ini mengajarkan bahwa setelah usaha maksimal, berserahlah kepada Allah.
6. Doa Orang Saleh Membawa Berkah
Ketika Abdullah bin Ja'far shalat di atas tanah tandus, Allah memancarkan mata air deras dari tempat itu. Ini membuktikan bahwa doa orang saleh memiliki kekuatan luar biasa. Keberkahan hidup bukan hanya soal harta, tetapi juga soal kedekatan dengan Allah.
---
Kemuliaan yang Abadi
Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Zubair adalah dua bintang yang bersinar di langit generasi sahabat. Mereka tidak hanya mewarisi nama besar ayah-ayah mereka, tetapi juga mewarisi akhlak mulia yang membuat nama mereka harum sepanjang masa.
Kedermawanan Abdullah bin Zubair mengajarkan bahwa "Memberi bukanlah kehilangan, melainkan investasi. Kejujuran dan ketawakalan." Abdullah bin Ja'far mengajarkan bahwa "Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar jika kita bersandar kepada Allah." Dan pertemuan mereka dalam kisah tanah tandus mengajarkan bahwa Allah selalu memberi lebih dari yang kita bayangkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.
Semoga kita semua dapat meneladani kedermawanan para sahabat, bukan hanya dalam harta, tetapi juga dalam senyuman, dalam waktu, dan dalam perhatian kepada sesama. Karena memberi adalah cara terbaik untuk membuktikan bahwa kita benar-benar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan