Bulan Safar: Meluruskan Mitos dan Mengenal Fakta Sejarahnya
Memasuki Bulan Kedua dalam Kalender Hijriah
Setelah melewati bulan Muharram yang penuh kemuliaan, umat Islam kini memasuki bulan kedua dalam kalender Hijriah, yaitu bulan Safar. Di tengah masyarakat, bulan ini kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar. Ada yang menganggapnya sebagai bulan sial, bulan penuh musibah, atau waktu yang tidak baik untuk memulai sesuatu. Bahkan tidak sedikit yang masih meyakini bahwa pada bulan Safar terjadi berbagai bencana dan kesialan, terutama pada hari Rabu minggu terakhir.
Namun, benarkah anggapan tersebut memiliki landasan dalam ajaran Islam? Ataukah ini hanya warisan kepercayaan jahiliah yang masih mengakar? Artikel ini akan mengupas tuntas tentang bulan Safar dari berbagai sudut pandang: makna namanya, sejarah penamaan, tradisi masyarakat Arab pra-Islam, dan yang terpenting—bagaimana Islam memandang bulan ini berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
---
Makna dan Asal-Usul Nama Safar
Secara etimologis, kata صفر (Safar) dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna yang saling berkaitan. Imam Ibnu Manzhur dalam kitab Lisānul ‘Arab menjelaskan bahwa nama Safar diambil dari beberapa kemungkinan asal-usul .
- Pertama, Safar berarti kosong atau sepi. Penamaan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab di masa lampau yang meninggalkan rumah-rumah mereka pada bulan ini untuk berperang atau melakukan perjalanan jauh. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsīr Ibnu Katsīr menjelaskan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
Ṣafar: summiya bi dzālika likhulūwi buyūtihim minhum, ḥīna yakhrujūna lil qitāli wal asfār
“Safar dinamakan dengan nama tersebut karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk berperang dan bepergian.”
- Kedua, Safar juga berarti kekosongan ladang dari tanaman. Pada bulan ini, masyarakat Arab memiliki kebiasaan memanen seluruh tanaman yang mereka tanam, sehingga ladang-ladang menjadi kosong dari tumbuhan.
- Ketiga, Safar berkaitan dengan serangan suku-suku Arab terhadap kabilah lain. Mereka akan menyerang dan memaksa kabilah tersebut pergi dalam keadaan kosong tanpa persiapan karena ketakutan .
Selain itu, terdapat pendapat bahwa nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit yang diyakini oleh orang-orang Arab Jahiliah, yaitu penyakit safar yang bersarang di dalam perut akibat ulat besar yang berbahaya. Ada juga yang mengatakan Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut . Karena itulah mereka menganggap bulan ini sebagai bulan yang penuh dengan kejelekan.
---
Tradisi Jahiliah Seputar Bulan Safar
Masyarakat Arab pra-Islam memiliki dua kebiasaan keliru yang berkaitan dengan bulan Safar, sebagaimana dijelaskan dalam sumber-sumber Islam klasik .
1. Praktik An-Nasi' (Penggeseran Bulan Haram)
Orang-orang Arab Jahiliah melakukan praktik yang disebut an-nasi' (penggeseran) terhadap bulan-bulan haram. Mereka sengaja menggeser bulan Muharram ke bulan Safar atau sebaliknya agar dapat berperang di bulan yang seharusnya dihormati. Allah mengkritik praktik ini dalam Al-Qur'an:
انما النسئ زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاما ويحرمونه عاما ليواطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله
Innamā an-nasī'u ziyādatun fī al-kufri yuḍallu bihī alladzīna kafarū yuḥillūnahū 'āman wa yuḥarrimūnahū 'āman li yuwāṭi'ū 'iddata mā ḥarramallāhu fa yuḥillū mā ḥarramallāh
"Sesungguhnya menggeser-geser bulan (haram) itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan (pengeseran) itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah haramkan, lalu mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah." (QS. At-Taubah: 37)
2. Keyakinan Kesialan (Thiyarah)
Kepercayaan lain yang sangat kuat di kalangan masyarakat Jahiliah adalah anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Mereka meyakini bahwa pada bulan ini terjadi berbagai musibah dan bencana. Akibatnya, mereka enggan melakukan aktivitas penting seperti pernikahan, perjalanan, atau memulai usaha pada bulan ini .
---
Pandangan Islam: Membantah Mitos Kesialan
Islam datang untuk meluruskan berbagai keyakinan sesat yang berkembang di masyarakat Jahiliah, termasuk anggapan tentang kesialan bulan Safar. Rasulullah dengan tegas membantah keyakinan ini melalui sabda beliau.
Hadits tentang Larangan Thiyarah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر
Lā 'adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafar
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (tanda kesialan), tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari, no. 5387; Muslim, no. 2220)
Syekh Abu Bakar Syata ad-Dimyathi menjelaskan bahwa hadits ini ditujukan untuk menolak keyakinan dan anggapan orang-orang Jahiliah yang mempercayai setiap sesuatu dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya; baik keburukan maupun kebaikan. Selain itu, hadits ini juga menolak setiap penyandaran suatu kejadian kepada selain Allah. Artinya, semua kejadian yang terjadi murni karena kehendak Allah yang sudah tercatat sejak zaman azali, bukan disebabkan waktu, zaman, dan anggapan salah lainnya .
Penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Lathā’iful Ma‘ārif memberikan penjelasan yang sangat tegas tentang masalah ini:
واما تخصيص الشؤم بزمان دون زمان كشهر صفر او غيره فغير صحيح
Wa ammā takhshīṣu asy-syu’mi bi zamānin dūna zamānin ka syahri ṣafarin au ghairihī fa ghairu ṣaḥīḥ
“Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Safar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.”
Ibnu Rajab juga menegaskan bahwa barometer baik dan tidaknya suatu zaman tidak dilihat dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya, tetapi dari amal yang dilakukan oleh manusia. Beliau berkata:
فكل زمان شغله المؤمن بطاعة الله فهو زمان مبارك عليه، وكل زمان شغله العبد بمعصية الله فهو مشؤوم عليه
Fa kullu zamānin syaghalahū al-mu'minu bi ṭā'atillāhi fahuwa zamānun mubārakun ‘alaihi, wa kullu zamānin syaghalahū al-‘abdu bi ma‘ṣiyatillāhi fahuwa masy’ūmun ‘alaih
“Setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah, maka merupakan zaman yang diberkahi; dan setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan bermaksiat kepada Allah, maka merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi).”
---
Bukti Sejarah: Peristiwa Penting di Bulan Safar
Untuk semakin meyakinkan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial, para ulama mencatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam yang justru terjadi pada bulan ini dan membawa keberkahan. Habib Abu Bakar Al-Adni dalam karyanya menyebutkan beberapa bukti berikut :
1. Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah
Rasulullah melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid pada bulan Safar. Pernikahan ini menjadi awal dari kebahagiaan rumah tangga Rasulullah dan melahirkan putra-putri beliau, termasuk Fatimah az-Zahra yang menjadi ibu dari para cucu beliau.
2. Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra
Pernikahan mulia antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra, juga dilangsungkan pada bulan Safar. Pernikahan ini melahirkan keturunan Rasulullah yang terus berlanjut hingga saat ini.
3. Hijrah Rasulullah ke Madinah
Peristiwa hijrah yang menjadi tonggak sejarah kebangkitan Islam terjadi pada bulan Safar. Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah pada bulan ini, yang kemudian menjadi awal dari terbentuknya masyarakat Islam yang kuat.
4. Perang Abwa (Perang Pertama)
Perang pertama dalam sejarah Islam, yaitu Perang Abwa (Ghazwah Waddan), terjadi pada bulan Safar. Dalam peperangan ini, umat Islam meraih kemenangan telak atas kaum kafir.
5. Perang Khaibar
Perang Khaibar yang terkenal dengan kemenangan gemilang umat Islam juga terjadi pada bulan Safar. Dalam perang ini, umat Islam berhasil menaklukkan benteng-benteng Yahudi yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa bulan Safar justru menjadi saksi berbagai peristiwa agung dan kemenangan umat Islam. Tidak ada satupun yang membawa kesialan atau bencana sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang terpengaruh mitos jahiliah.
---
Amalan yang Dianjurkan di Bulan Safar
Sebagaimana bulan-bulan lainnya, tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan hanya untuk bulan Safar. Namun demikian, beberapa amalan sunnah tetap dianjurkan untuk dilakukan secara umum, seperti:
1. Puasa Sunnah
Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa sunnah. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
افضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Afḍalu aṣ-ṣiyāmi ba‘da ramaḍāna syahru allāhi al-muḥarramu
"Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram." (HR. Muslim)
Adapun puasa di bulan Safar, hukumnya sama dengan puasa sunnah di bulan-bulan lainnya. Tidak ada keutamaan khusus, tetapi juga tidak ada larangan.
2. Memperbanyak Istighfar dan Doa
Setiap waktu adalah waktu yang baik untuk bertaubat dan berdoa kepada Allah. Tidak ada bulan yang terlarang untuk memohon ampunan.
3. Menjaga Amalan Sunnah Lainnya
Shalat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan amalan-amalan baik lainnya tetap dianjurkan sebagaimana di bulan-bulan lainnya.
---
Kesimpulan: Safar Bukan Bulan Sial, Tapi Bulan Biasa yang Penuh Potensi Kebaikan
1. Safar adalah bulan biasa seperti bulan-bulan lainnya. Tidak memiliki keistimewaan khusus, tetapi juga tidak memiliki keburukan khusus.
2. Anggapan Safar sebagai bulan sial
Adalah mitos yang berasal dari tradisi jahiliah dan telah dibantah langsung oleh Rasulullah melalui hadits-hadits shahih.
3. Peristiwa
Sejarah membuktikan bahwa bulan Safar justru menjadi saksi berbagai peristiwa agung dan kemenangan umat Islam, seperti pernikahan Rasulullah dengan Khadijah, hijrah ke Madinah, dan Perang Khaibar.
4. Kebaikan dan keburukan yang terjadi pada suatu waktu bukan disebabkan oleh waktu itu sendiri. Tetapi oleh amal yang dilakukan manusia dan kehendak Allah.
5. Seorang muslim hendaknya tidak terjebak dalam keyakinan-keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Yang terpenting adalah mengisi setiap waktu dengan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan.
Sebagaimana pesan Imam Ibnu Rajab, "Setiap zaman yang diisi dengan ketaatan akan menjadi zaman yang diberkahi, dan setiap zaman yang diisi dengan kemaksiatan akan menjadi zaman kesialan." Maka jadikanlah bulan Safar dan setiap bulan lainnya sebagai waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk disia-siakan dengan rasa takut yang tidak berdasar.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan