Dihyah al-Kalbi: Sahabat Nabi atau Tokoh Fiktif? Telaah Kritis Atas Buku Jibril wa al-Nabi

Sebuah Nama yang Melegenda...

Di antara nama-nama sahabat Rasulullah, ada satu nama yang dikenal bukan karena keilmuan atau keberaniannya di medan perang, melainkan karena ketampanannya. Dialah Dihyah al-Kalbi, seorang sahabat yang konon memiliki paras sangat tampan, hingga malaikat Jibril pun kerap menyerupainya ketika turun menyampaikan wahyu kepada Nabi.

Ada sebuah buku karya Fadel al-Rabi'i berjudul جبرائيل والنبي (Jibril dan Nabi) selesai saya baca. Buku ini menawarkan tinjauan sejarah yang kritis dan mendalam terhadap sosok Dihyah al-Kalbi. Pertanyaan besarnya: "Benarkah ia seorang sahabat Nabi? Ataukah ia malaikat Jibril yang menjelma menjadi manusia? Atau mungkin hanya sosok fiktif belaka?

Tulisan ini merupakan ringkasan dan ulasan atas buku tersebut, dengan harapan dapat membuka cakrawala berpikir kita dalam memahami sejarah Islam secara lebih kritis, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para ulama dan periwayat yang telah mewariskan khazanah ilmu kepada kita.

---
Dihyah Menurut Bahasa: Antara Pemimpin dan Permainan

Secara bahasa, nama دحية (Dihyah) memiliki perbedaan pelafalan di kalangan para ahli bahasa. Ibn al-Sikkit menyebutnya dengan kasrah huruf dal, دحية. Sementara ahli bahasa lainnya membacanya dengan fathah, دَحية.

Al-Sahib ibn 'Ibad dalam kitab kamusnya mengartikan kata ini sebagai رئيس (ra'is) yang berarti ketua atau pemimpin pasukan. Ibn Amr menambahkan bahwa kata Dihyah berasal dari bahasa Persia yang berarti سيد (sayyid), pemimpin. Senada dengan itu, al-Suhaili dalam kitab الروض الأنف merekam sebuah riwayat yang menyebut bahwa Dihyah merupakan gelar ra'is dalam ungkapan masyarakat Yaman.

Dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa malaikat Jibril mendatangi Nabi dalam rupa Dihyah, dan arti Dihyah adalah pemimpin dan komandan pasukan (رئيس الجندي ومقدمهم).

Namun, Fadel al-Rabi'i mengulas bahwa akar kata د ح ا (daha) sama sekali tidak mengantarkan pada arti pemimpin. Justru, kata tersebut merujuk pada sebuah permainan anak kecil yang disebut المدحاة (al-madḥah). Dalam Al-Qur'an sendiri, kata دحا memiliki arti البسط (al-basṭ) yang berarti melapangkan, seperti penafsiran al-Farra' pada kata دحاها dalam surah al-Nazi'at ayat 30:

والأرض بعد ذلك دحاها

Wal-arḍa ba'da dzālika daḥāhā

"Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya."

Penafsiran al-Farra' ini diperkuat oleh laporan Syamr tentang bait-bait syair yang diucapkan seorang badui kepadanya. 

Bait syair yang menunjukkan penggunaan kata daha dalam konteks melapangkan] Dalam tradisi Arab, kata دحا memang lebih dikenal dalam konteks melapangkan atau menghamparkan, bukan dalam arti pemimpin.

Bahkan dalam doa yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, kita temukan ungkapan:

اللهم داحي المدحوّات

Allāhumma dāḥil madḥuwāt

"Ya Allah, Yang Maha Melapangkan bumi."

Doa ini menunjukkan bahwa kata tersebut digunakan dalam konteks ketuhanan, bukan kepemimpinan.

Al-Rabi'i berasumsi bahwa adanya talfiq (rekayasa) yang dilakukan oleh para ahli bahasa terhadap arti nama Dihyah menunjukkan ketidaktahuan mereka, atau mereka hanya mencukupkan pada arti yang telah dikenal masyarakat Arab sebelumnya, terutama tradisi Nasrani Arab yang meyakini malaikat Jibril (yang mereka sebut Jibrail) sebagai pemimpin para malaikat.

Karena pengaruh tradisi tersebut, maka dibuat-buatlah arti nama Dihyah—sosok sahabat yang konon diserupai oleh malaikat Jibril—sebagai pemimpin pasukan. Jibril adalah pemimpin para malaikat, dan Dihyah berarti pemimpin. Sebuah korelasi yang tampaknya terlalu rapi untuk menjadi kebetulan.

---
Nasab Dihyah al-Kalbi: Antara yang Teridentifikasi dan yang Tersembunyi

Mari kita lihat nasab (silsilah) Dihyah berdasarkan riwayat hadis dan catatan para sejarawan muslim. Rangkaian nasab yang tercatat adalah sebagai berikut:

دحية بن خليفة بن فروة بن فضالة بن زيد بن امرئ القيس بن الخزرج بن عامر بن عوف بن بكر بن عذرة بن زيد اللات بن رفيدة بن ثور بن كلب بن وبرة

Dihyah bin Khalīfah bin Farwah bin Faḍālah bin Zaid bin Imri' al-Qais bin al-Khazraj bin 'Āmir bin 'Auf bin Bakr bin 'Udzrah bin Zaid al-Lāt bin Rafīdah bin Tsaur bin Kalb bin Wabrah


Dari rangkaian ini, kita dapat melihat beberapa catatan penting.

Pertama, pada nama al-Khazraj terdapat perbedaan di kalangan sejarawan. Kedua, pada nama Amir, rantai nasab terputus dan tidak jelas sambungannya. Ketiga, nama Kalb tidak teridentifikasi dengan jelas dalam literatur genealogi Arab. Keempat, jika nama teratas adalah Wabrah, semestinya nisbatnya adalah al-Wabri, bukan al-Kalbi. Namun ia dinisbatkan kepada al-Kalbi, yang justru menunjukkan ketidakjelasan asal-usulnya.

Lebih dari itu, para ahli nasab muslim belakangan tidak menyajikan rantai nasab yang proper. Tidak ditemukan pula nasab Dihyah ke bawah; tidak ada catatan tentang anak-anak dan keturunannya. Padahal, untuk bisa diterima, sebuah nasab harus memenuhi dua unsur pokok. Pertama, rantai nasab yang valid dan teridentifikasi. Kedua, adanya catatan tentang keturunan. Kedua unsur ini sama sekali tidak ditemukan dalam nasab Dihyah.

Keanehan ini menjadi salah satu pintu masuk bagi al-Rabi'i untuk mempertanyakan eksistensi historis sosok ini.

---
Peperangan yang Diikuti Dihyah: Antara Ada dan Tiada

Al-Rabi'i juga menemukan kerancuan yang signifikan dalam riwayat antara para sejarawan dan ahli nasab mengenai peperangan yang diikuti oleh Dihyah.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Dihyah ikut serta dalam Perang Uhud. Ibn Barri dan Ibn Abd al-Barr al-Andalusi termasuk di antara yang menyebut keterlibatannya dalam perang tersebut. Sementara itu, Ibn Qutaibah hanya mencatat ketidakhadiran Dihyah dalam Perang Badar, tanpa menyebutkan secara jelas peperangan apa saja yang ia ikuti. Adapun Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa Dihyah ikut serta dalam Perang Khandaq.

Tidak ada kesepakatan di kalangan penulis sejarah dan nasab tentang peperangan yang diikuti Dihyah. Sebagian menyebut Uhud, yang lain menyebut Khandaq, sementara ada pula yang hanya mencatat ketidakhadirannya dalam Perang Badar.

Yang lebih membingungkan, tidak ada satu pun catatan sejarah yang menyinggung peran Dihyah dalam ekspedisi Bani Quraidzah, padahal dalam beberapa riwayat hadis disebutkan keterlibatannya. Hanya tiga ekspedisi yang disebut-sebut, selebihnya tidak ada catatan tentang peran Dihyah pada masa-masa berikutnya.

Selain itu, tempat pemakaman Dihyah juga menjadi perdebatan, apakah di Palestina atau di Damaskus. Tahun meninggalnya pun tidak ada kesepakatan, apakah pada masa Muawiyah atau pada masa putranya, Yazid.

Pertanyaan yang lebih mendasar muncul. Jika Dihyah merupakan sahabat senior Nabi yang masuk Islam sebelum Perang Badar dan begitu dekat dengan Nabi, serta hidup hingga masa Muawiyah, mengapa tidak ada catatan atau riwayat yang menunjukkan perannya selama ia hidup? Di mana ia saat Abu Bakar memberantas nabi-nabi palsu dan memerangi orang-orang murtad? Di mana ia pada masa Umar, Utsman, Ali, dan Muawiyah? Sebagai sahabat senior, seharusnya namanya muncul dalam berbagai peristiwa penting. Namun kenyataannya, ia bagaikan hantu yang hanya muncul dalam beberapa riwayat terbatas.

---
Dihyah dalam Periwayatan Hadis: Antara Signifikan dan Remeh

Kita dapat menemukan beberapa hadis yang diriwayatkan dari atau tentang Dihyah al-Kalbi.
Beberapa riwayat memiliki kesamaan konten, yaitu Dihyah memberi hadiah pakaian kepada Nabi. Riwayat lain menyebut pengutusan Dihyah kepada Kaisar Heraklius untuk memeluk agama Islam. Ada pula riwayat tentang keinginan Dihyah memberi himar (keledai) kepada Nabi.

Bila ditimbang dan dibandingkan dengan hadis-hadis lain, riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki signifikansi apa pun dalam segi syariat agama maupun sebagai catatan sejarah. Isinya hanya seputar hadiah pakaian atau hewan, yang tidak membawa dampak hukum atau akidah.

Temuan lain al-Rabi'i justru memperbanyak daftar kerancuan. Misalnya tentang pemberian hadiah. Ada ketidakkonsistenan antara siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Apakah Dihyah yang memberi hadiah kepada Nabi, atau justru sebaliknya?

Dalam Musnad Ahmad disebutkan bahwa Nabi menghadiahkan sepotong jubah Mesir kepada Usamah bin Zaid, dan bukan kepada Dihyah.

Al-Rabi'i dengan sangat jeli mengurai riwayat-riwayat yang menyinggung sosok Dihyah, sehingga ditemukan berbagai isykal (problem) dan kontradiksi antara satu riwayat dengan riwayat lainnya. Semakin dalam ia meneliti, semakin banyak keanehan yang muncul.

---
Hipotesis al-Rabi'i: Sebuah Rekayasa Politik Bani Umayyah?

Setelah melalui analisis linguistik, genealogis, historis, dan hadis, al-Rabi'i sampai pada sebuah kesimpulan yang cukup berani, meskipun ia sendiri menyebutnya sebagai kesimpulan sementara.

Menurutnya, sosok Dihyah al-Kalbi merupakan tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh para pendukung Dinasti Umayyah (al-Umawiyyin) untuk memperkuat otoritas kekuasaan mereka. Dengan menciptakan tokoh fiktif bernama Dihyah al-Kalbi yang digambarkan sebagai jelmaan malaikat Jibril, mereka ingin memasukkan unsur kesucian ke dalam legitimasi politik mereka. Apalagi, tokoh ini diciptakan sedemikian rupa sehingga hidup hingga masa Muawiyah, khalifah pertama Bani Umayyah.

Tujuan politiknya cukup jelas. Dengan mengaitkan malaikat Jibril dengan seorang tokoh yang hidup hingga zaman Muawiyah, secara tidak langsung mereka ingin menunjukkan bahwa kekuasaan Bani Umayyah mendapatkan berkah dan legitimasi dari langit.

Namun perlu ditegaskan bahwa kesimpulan ini masih bersifat hipotesis dan memerlukan kajian lebih lanjut. Al-Rabi'i sendiri membuka ruang untuk diskusi dan penelitian lebih mendalam.

---
Sikap Kita sebagai Muslim: Antara Kritis dan Hormat

Telaah kritis seperti yang dilakukan Fadel al-Rabi'i ini seharusnya tidak membuat kita resah atau kehilangan hormat kepada para ulama dan periwayat terdahulu. Justru sebaliknya, penelitian semacam ini menunjukkan betapa kayanya khazanah Islam yang selalu terbuka untuk dikaji dan diteliti.

Sebagai muslim, kita memiliki kewajiban untuk terus belajar dan memverifikasi kebenaran, termasuk dalam hal sejarah. Namun kita juga harus menjaga adab dan tidak mudah terprovokasi oleh kesimpulan-kesimpulan yang belum pasti. Yang terpenting, kita harus membedakan antara ranah akidah yang bersifat qath'i (pasti) dan ranah sejarah yang bersifat zhanni (dugaan).

Akidah kita tentang malaikat Jibril tidak bergantung pada eksistensi historis Dihyah al-Kalbi. Jibril tetaplah Jibril, utusan Allah yang mulia, terlepas dari apakah ia pernah menyerupai seseorang atau tidak. Demikian pula, keimanan kita kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak akan berkurang meskipun suatu saat terbukti bahwa ada beberapa tokoh yang kontroversial secara historis.

Yang terpenting, kita mengambil hikmah dari semua ini. Bahwa sejarah adalah ilmu yang kompleks dan membutuhkan ketelitian. Bahwa tidak semua yang tercatat dalam kitab-kitab klasik terbebas dari kepentingan politik. Dan bahwa sikap terbaik adalah terus belajar dengan pikiran terbuka namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip akidah yang kokoh.

---
Penutup: Antara Fakta dan Rekaan

Setelah menelusuri analisis Fadel al-Rabi'i dalam bukunya جبرائيل والنبي, kita sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sosok Dihyah al-Kalbi masih menyimpan banyak misteri. Analisis linguistik menunjukkan keanehan dalam pemaknaan namanya. Rantai nasabnya tidak valid dan tidak memiliki keturunan yang jelas. Catatan tentang peperangan yang diikutinya simpang siur. Dan riwayat-riwayat hadis tentangnya tidak memiliki signifikansi serta penuh kontradiksi.

Semua ini mengarah pada kemungkinan bahwa Dihyah al-Kalbi adalah tokoh yang diciptakan belakangan untuk kepentingan tertentu. Namun sekali lagi, ini hanyalah hipotesis yang perlu diuji lebih lanjut.

Terlepas dari benar tidaknya hipotesis tersebut, yang dapat kita petik adalah pentingnya sikap kritis dalam mempelajari sejarah. Allah sendiri memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap setiap berita yang datang, sebagaimana firman-Nya:

يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين

Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā'akum fāsiqun binaba'in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fa tuṣbiḥū 'alā mā fa'altum nādimīn

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus dan melindungi kita dari kesesatan berpikir. Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui segala hakikat.

والله اعلم بالصواب
Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.