Ghossan bin Malik: Ketika Berhala Berbicara dan Mengakui Kebenaran Muhammad
Mencari Kebenaran di Tengah Kegelapan. Di masa-masa awal kenabian, ketika cahaya Islam baru mulai menyinari Jazirah Arab, Allah memiliki cara-cara yang luar biasa untuk menunjukkan kebenaran risalah Muhammad. Salah satu kisah yang paling menakjubkan adalah tentang seorang pemuda dari Bani Amir bernama Ghossan bin Malik. Ia datang dari negeri yang jauh, menempuh perjalanan panjang dengan untanya yang kelelahan, untuk menemui Rasulullah.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menggambarkan bagaimana Allah dapat membuka hati seseorang melalui berbagai cara yang tidak terduga. Dari mulut berhala yang selama ini mereka sembah, justru keluar pengakuan tentang kebenaran Islam. Sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa ketika kebenaran telah datang, kebatilan akan hancur dengan sendirinya.
Kisah ini diriwayatkan dalam berbagai kitab klasik, di antaranya dalam Al-Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir dan Al-Isabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Para ulama sirah mencatatnya sebagai salah satu peristiwa mukjizat yang menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad.
❖
Kedatangan Seorang Musafir di Majelis Rasulullah
Pada suatu hari, Rasulullah duduk bersama para sahabatnya, termasuk di antaranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Suasana tenang menyelimuti majelis tersebut. Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki menunggang unta menghampiri mereka. Debu-debu perjalanan masih melekat di tubuhnya, dan unta yang ditungganginya tampak kelelahan. Semua tanda menunjukkan bahwa ia telah menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Laki-laki itu turun dari untanya dan tanpa banyak basa-basi bertanya:
"أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟"
Ayyukum Muhammad?
"Manakah yang namanya Muhammad?"
Salah seorang sahabat menunjuk dengan penuh adab ke arah Rasulullah. Orang itu kemudian menghadap kepada beliau dan berkata dengan nada yang unik, bukan nada permusuhan, tetapi juga bukan nada ketundukan biasa:
"أَتُعْطِينِي أَمْرَ رَبِّكَ أَمْ أُعْطِيكَ أَمْرَ آلِهَتِي؟"
Atu'thīnī amra rabbika am u'thīka amra ālihatī?
"Maukah engkau memberikan perintah Tuhanmu, atau aku yang akan membeberkan perintah-perintah berhalaku?"
Pertanyaan ini sungguh tidak biasa. Biasanya orang-orang musyrik datang dengan sikap sombong dan menantang. Namun laki-laki ini datang dengan tawaran dialog yang seimbang. Ia seolah ingin membandingkan mana yang lebih benar: ajaran yang dibawa Muhammad atau ajaran nenek moyangnya.
Rasulullah menjawab dengan tenang dan penuh kewibawaan:
"بَلْ أَنَا أُعْطِيكَ أَمْرَ رَبِّي"
Bal ana u'thīka amra rabbī
"Aku yang akan membeberkan perintah Tuhanku."
Beliau kemudian mulai menjelaskan tentang Islam, tentang fondasi agama yang dibangun di atas lima perkara sebagaimana disebutkan dalam hadits terkenal:
"بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ"
Buniyal islāmu 'alā khamsin: syahādati an lā ilāha illallāh wa anna muḥammadar rasūlullāh, wa iqāmiṣ ṣalāh, wa ītā'iz zakāh, wa ṣaumi ramaḍān, wa ḥajjil bait.
"Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah."
❖
Pengakuan Seorang Pencari Kebenaran
Belum sempat Rasulullah menyelesaikan penjelasannya, laki-laki itu tiba-tiba menyela:
"Nama saya Ghossan bin Malik."
Ia kemudian mulai bercerita tentang latar belakang kedatangannya. Sebuah kisah yang membuat semua yang hadir tercengang.
"Kami memiliki berhala. Setiap bulan Rajab, kami memujanya. Setiap hari, kami mengabdi kepadanya. Pada suatu hari, sahabatku yang bernama Isham menyerahkan persembahan dan hendak menyembelih kurban di depan berhala itu."
Ghossan melanjutkan dengan suara yang penuh keheranan:
"Ketika ia mengangkat tangannya, tiba-tiba terdengar suara dari lubang mulut berhala itu: 'Wahai Isham, telah datang Islam. Berhala tidak lagi berguna. Darah akan terlindungi, kekerabatan akan tersambung, dan kebenaran akan tampak.'"
Betapa gembiranya hati Isham mendengar suara itu. Ia segera keluar dan mengumumkan kepada orang-orang tentang kabar kedatangan seorang nabi di Tihamah. Kabar ini mulai tersebar di kalangan mereka.
Beberapa hari kemudian, datang pula Thariq untuk menyerahkan persembahan. Ketika ia mengangkat tangan untuk menyembelih kurbannya, kembali terdengar suara dari lubang mulut berhala itu:
"Wahai Thariq, telah diutus seorang nabi yang jujur. Ia datang dengan membawa wahyu dari Allah Yang Maha Perkasa."
Thariq pun keluar dan mengumumkannya kepada orang-orang. Kabar tentang Rasulullah semakin santer terdengar di kalangan mereka. Namun mereka masih ragu: mana yang dusta dan mana yang nyata? Mana yang benar dan mana yang palsu?
❖
Saat Berhala Berbicara dan Pecah
Ghossan melanjutkan kisahnya:
"Tiga hari kemudian, akulah yang menyerahkan persembahan untuk berhala itu. Ketika tanganku terangkat siap menyembelih kurban, kudengar suara lantang dari lubang mulut berhala itu. Ia berkata dengan jelas:"
"يَا غَسَّانُ بْنَ مَالِكٍ الْعَامِرِيَّ، قَدْ جَاءَ الْحَقُّ عَلَى لِسَانِ نَبِيٍّ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ بِتِهَامَةَ، السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَهُ، وَالْوَيْلُ لِمَنْ خَالَفَهُ، يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَيَدْعُو إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ"
Yā Ghassānu bna Mālikil 'Āmirī, qad jā'al ḥaqqu 'alā lisāni nabiyyin min banī hāsyimin bi Tihāmah, as-salāmu 'alā man ittaba'ah, wal wailu liman khālafah, yahdī ilal ḥaqqi wa yad'ū ilā yaumil qiyāmah.
"Wahai Ghossan bin Malik al-Amiri, telah datang kebenaran melalui lisan seorang nabi dari Bani Hasyim di Tihamah. Keselamatan bagi yang mengikutinya, dan celaka bagi yang menentangnya. Ia memberi petunjuk kepada kebenaran dan mengajak kepada hari kiamat."
Seketika itu juga, berhala yang selama ini di sembah terangkat dengan sendirinya. Lalu roboh dan pecah berantakan. Berhala itu hancur dengan sendirinya, seolah mengakui bahwa masanya telah berakhir.
Mendengar cerita ini, Rasulullah mengucapkan :
"اللَّهُ أَكْبَرُ"
Allāhu akbar
"Allah Maha Besar."
Para sahabat yang hadir pun mengikuti beliau bertakbir, mengagungkan Allah atas kebesaran-Nya yang telah menunjukkan kebenaran melalui cara yang begitu jelas.
❖
Syair Ghossan bin Malik
Setelah suasana sedikit tenang, Ghossan berkata kepada Rasulullah:
"Wahai Rasulullah, aku telah merangkai sebuah syair. Izinkan aku melantunkannya untukmu."
Rasulullah mengizinkannya. Maka Ghossan pun berdiri dan melantunkan syairnya dengan penuh penghayatan:
أَقْبَلْتُ أَسْأَلُ عَنْ مُحَمَّدٍ
أَقْطَعُ بِالْقَفْرِ ذَاتَ الرَّمْلِ
لِأَنْصُرَ الْخَيْرَ وَأَهْلَ الْهُدَى
وَرَبَّطْتُ حُبَّهُ بِحَبْلِ
حَبْلِي وَحَبْلُكَ فِي الْعُهُودِ
إِنِّي آمَنْتُ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى
هَذَا الدِّينُ، وَنَعْلِي فِي قَدَمِي
"Aku datang bertanya tentang Muhammad
Kupacu langkah di padang pasir berdebu
Untuk membela kebaikan dan pemilik petunjuk
Kutalikan cintaku dalam ikatan
Taliku dan talimu dalam ikrar
Sungguh aku beriman kepada Allah Yang Maha Tinggi
Inilah agama, sedangkan terompahku ada di kakiku"
Syair ini menggambarkan perjalanan panjangnya untuk mencari kebenaran, kegundahan hatinya sebelum menemukan Islam, dan keyakinannya setelah mendapatkan petunjuk.
❖
Analisis Data: Tiga Peristiwa Berhala Berbicara
Kisah ini mengandung beberapa data penting yang perlu dianalisis lebih dalam:
1. Kronologi Peristiwa
Dari penuturan Ghossan, terjadi tiga peristiwa berurutan dalam waktu yang berdekatan:
1. Isham, Bulan Rajab Berhala berbicara mengabarkan kedatangan Islam
2. Thariq, Beberapa hari kemudian Berhala berbicara tentang nabi yang jujur
3. Ghossan, Tiga hari setelah Thariq Berhala berbicara lalu pecah berantakan
Urutan ini menunjukkan bahwa berhala itu tidak hanya berbicara sekali, tetapi berulang kali. Ini menguatkan bahwa peristiwa tersebut bukan kebetulan atau halusinasi, melainkan sebuah mukjizat yang nyata.
2. Isi Pesan dari Berhala
Pesan yang disampaikan berhala itu sangat menarik untuk dicermati:
· Pertama, berhala mengakui bahwa Islam telah datang dan berhala tidak lagi berguna. Ini adalah pengakuan dari "lisan" sesembahan mereka sendiri.
· Kedua, berhala menyebut bahwa dengan Islam, darah akan terlindungi. Ini merujuk pada prinsip Islam yang mengharamkan pertumpahan darah tanpa hak.
· Ketiga, kekerabatan akan tersambung. Islam justru memperkuat tali silaturahmi, bukan memutuskannya.
· Keempat, kebenaran akan tampak. Islam datang untuk menghilangkan kebatilan dan menegakkan kebenaran.
Dalam pesan kedua, berhala menyebut Nabi Muhammad sebagai "nabi yang jujur" dan menyebut wahyu yang dibawanya berasal dari "Allah Yang Maha Perkasa". Ini menunjukkan bahwa meskipun berhala itu sendiri adalah benda mati yang disembah secara batil, Allah menjadikannya sebagai media untuk menyampaikan kebenaran.
3. Kehancuran Berhala
Puncak dari peristiwa ini adalah ketika berhala itu sendiri yang mengumumkan kebenaran Islam, lalu terangkat dan pecah berantakan. Ini adalah simbol yang sangat kuat: kebatilan pada akhirnya akan hancur dengan sendirinya ketika kebenaran datang.
Allah berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
Bal naqdzifu bil haqqi 'alal bāṭili fa yadma'uhū fa idzā huwa zāhiq
"Sebenarnya Kami melemparkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap." (QS. Al-Anbiya': 18)
Kehancuran berhala Ghossan adalah bukti nyata dari ayat ini.
❖
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Ghossan bin Malik
1. Allah Memiliki Cara yang Tak Terduga untuk Memberi Hidayah
Tidak ada yang bisa membayangkan bahwa berhala—simbol kemusyrikan—justru menjadi wasilah hidayah bagi para penyembahnya. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia bisa membuat benda mati berbicara untuk menunjukkan kebenaran.
2. Kebenaran Akan Selalu Menang
Berhala itu pada akhirnya hancur. Ini adalah simbol bahwa kebatilan, meskipun tampak kuat dan telah lama dianut, pada akhirnya akan lenyap ketika berhadapan dengan kebenaran. Tidak ada satu pun yang bisa bertahan di hadapan kekuatan Allah.
3. Kejujuran dalam Mencari Kebenaran
Ghossan dan kedua sahabatnya tidak menutup mata terhadap apa yang mereka alami. Mereka tidak bersikap defensif ketika berhala mereka sendiri "berbicara" tentang kebenaran Islam. Sikap jujur terhadap realitas inilah yang mengantarkan mereka pada iman.
4. Pentingnya Tabayyun (Memverifikasi Kebenaran)
Ghossan mengatakan bahwa mereka masih ragu dan ingin membuktikan mana yang benar. Ia tidak langsung percaya begitu saja, tetapi memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menemui Rasulullah. Sikap kritis namun tetap terbuka ini adalah teladan dalam mencari kebenaran.
5. Kelembutan Rasulullah dalam Menyambut Pencari Kebenaran
Rasulullah tidak menghardik Ghossan meskipun cara bertanya dan sikapnya masih kental dengan budaya jahiliyah. Beliau justru menyambutnya dengan terbuka, menjelaskan Islam dengan sabar, dan mengizinkannya melantunkan syair. Ini adalah dakwah bil hikmah yang sesungguhnya.
6. Syair sebagai Media Ekspresi Keimanan
Rasulullah mengizinkan Ghossan melantunkan syairnya. Ini menunjukkan bahwa seni dan sastra dapat menjadi sarana yang baik untuk mengekspresikan keimanan, selama tidak bertentangan dengan syariat.
❖
Enam Pelajaran Utama dari Kisah Ghossan bin Malik
1. Hidayah Bisa Datang dari Arah yang Tidak Disangka
Berhala yang selama ini disembah justru menjadi media hidayah. Ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap siapa pun. Bisa jadi orang yang saat ini masih jauh dari Islam, suatu saat mendapat hidayah melalui cara yang tidak terduga.
2. Kehancuran Kebatilan Pasti Terjadi
Berhala itu pada akhirnya pecah. Tidak ada kebatilan yang abadi. Setiap kebatilan pasti akan lenyap ketika kebenaran datang dengan kekuatan yang sesungguhnya.
3. Pencarian Kebenaran Memerlukan Pengorbanan
Ghossan menempuh perjalanan panjang dengan untanya yang kelelahan. Ia rela meninggalkan kampung halaman demi menemui Rasulullah. Ini mengajarkan bahwa mencari kebenaran tidak bisa dengan setengah hati.
4. Dialog yang Santun Lebih Efektif
Rasulullah tidak marah dengan pertanyaan Ghossan yang khas dengan gaya orang Badui. Beliau justru merespons dengan tenang dan menjelaskan dengan baik. Hasilnya, Ghossan dan sahabat-sahabatnya masuk Islam.
5. Setiap Orang Bisa Menjadi Dai
Isham, Thariq, dan Ghossan—setelah mendapatkan hidayah—langsung mengumumkannya kepada orang-orang. Mereka tidak menunda-nunda untuk menyampaikan kebenaran yang mereka temukan.
6. Seni Bisa Menjadi Sarana Dakwah
Syair Ghossan yang indah menunjukkan bahwa ekspresi seni yang baik dapat menjadi media untuk mengungkapkan keimanan dan bahkan berdakwah.
❖
Ketika Berhala Menjadi Saksi Kebenaran
Kisah Ghossan bin Malik adalah salah satu bukti paling menakjubkan tentang bagaimana Allah menunjukkan kebenaran Islam. Sebuah berhala—benda mati yang tidak berakal—dijadikan oleh Allah sebagai media untuk berbicara dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan yang benar. Kemudian berhala itu hancur dengan sendirinya, seolah memberi pelajaran bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah.
Ghossan pulang ke kampungnya bukan hanya dengan membawa berita, tetapi dengan membawa iman. Ia dan kedua sahabatnya, Isham dan Thariq, adalah bukti bahwa hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui cara apa saja.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebenaran pasti akan menang, dan tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat menghalangi datangnya pertolongan Allah.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan