Kalender Hijriah: Jejak Kebangkitan Umat yang Ditetapkan oleh Sahabat Pilihan
Waktu yang Tak Terlepas dari Ibadah...
Dalam kehidupan seorang muslim, waktu bukan sekadar angka yang berlalu. Ia adalah pengingat akan kewajiban, penanda rahmat, dan saksi bisu perjalanan iman. Di antara bentuk penghormatan Islam terhadap waktu adalah penetapan kalender Hijriah—sebuah sistem penanggalan yang tidak hanya mengatur urusan dunia, tetapi juga menyatu dengan denyut nadi ibadah umat.
Puasa Ramadhan, ‘Idul Fitri, ‘Idul Adh-ha, hari Arafah, puasa ‘Asyura, hingga puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan)—semuanya memiliki rujukan yang sama: "Bulan dan tanggal dalam kalender Hijriah. Tanpa penanggalan ini, teratur dan sinkronnya pelaksanaan ibadah kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan kehilangan pijakan yang jelas.
Namun pernahkah kita bertanya, sejak kapan kalender Hijriah digunakan? Dan mengapa para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan, bukan peristiwa lain seperti kelahiran Nabi atau turunnya wahyu? Artikel ini akan mengupas sejarah penetapan kalender Hijriah yang sarat dengan hikmah dan menjadi warisan berharga dari generasi terbaik umat ini.
❖
Ketika Umat Membutuhkan Sistem Penanggalan
Pada masa awal Islam, kaum muslimin belum memiliki sistem penanggalan yang baku. Mereka menandai peristiwa berdasarkan tahun-tahun besar yang terjadi, seperti “tahun Gajah” (tahun kelahiran Nabi), atau peristiwa-peristiwa penting lainnya. Namun ketika Islam mulai meluas, wilayah kekuasaan bertambah, dan administrasi pemerintahan semakin kompleks, kebutuhan akan sistem penanggalan yang teratur menjadi sangat mendesak.
Terutama dalam urusan surat-menyurat dengan penguasa lain, pencatatan piutang, hingga penetapan waktu ibadah yang bersifat tahunan—semuanya menuntut adanya sistem penanggalan yang disepakati bersama.
❖
Musyawarah Sahabat di Masa Khalifah Umar bin Khattab
Berdasarkan riwayat yang tercatat dalam البداية والنهاية karya Imam Ibnu Katsir, penetapan kalender Hijriah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Beliau mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah menentukan awal penanggalan Islam.
Dalam kitab البداية والنهاية (3/206) disebutkan bahwa ketika Khalifah Umar menerima surat dari Abu Musa al-Asy’ari yang bertanya tentang penanggalan yang baku, beliau segera mengumpulkan para sahabat terkemuka seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Zubair bin Awwam, serta beberapa tokoh lainnya.
Ada beberapa usulan yang muncul di antara mereka. Sebagian mengusulkan untuk memulai penanggalan dari tahun kelahiran Nabi ﷺ, sebagian lagi mengusulkan dari tahun diutusnya beliau sebagai rasul. Namun setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk menjadikan tahun hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan Islam.
Mengapa hijrah yang dipilih? Dalam التاريخ الهجري karya Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid dijelaskan bahwa hijrah adalah peristiwa monumental yang menjadi titik balik kebangkitan Islam. Di Makkah, dakwah berlangsung dalam tekanan dan ancaman. Setelah hijrah, Islam memiliki basis kekuatan politik, masyarakat madani, dan fondasi yang kokoh untuk menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah transformasi dari fase penindasan menuju fase kejayaan. Karena itu, para sahabat—yang merupakan generasi terbaik umat ini—memilih momentum ini sebagai simbol kebangkitan umat.
❖
Ketika Kalender Masehi Pernah Diusulkan, Namun Ditolak
Dalam التاريخ الهجري karya Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid juga disebutkan bahwa di antara usulan yang muncul saat itu adalah untuk mengadopsi kalender Masehi (Romawi) atau kalender Persia yang telah dikenal luas. Namun para sahabat dengan tegas menolak usulan tersebut. Mereka menginginkan umat Islam memiliki penanggalan sendiri yang mencerminkan identitas dan kebanggaan mereka sebagai umat yang merdeka.
Penolakan ini bukan karena fanatisme buta, melainkan kesadaran akan pentingnya kemandirian dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam sistem penanggalan. Kalender Masehi pada masa itu dikaitkan dengan kekaisaran Romawi yang notabene bukan berlandaskan Islam. Sedangkan kalender Persia juga terkait dengan tradisi Majusi. Para sahabat ingin umat Islam memiliki titik tolak yang murni berasal dari peristiwa agung dalam sejarah Islam sendiri.
Keputusan ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek, sekaligus menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan kemandirian dan tidak bergantung pada sistem yang lahir dari budaya atau kekuasaan asing.
❖
Bukti dari Kitab-Kitab Terpercaya
Penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar dan para sahabat ini bukan sekadar riwayat lisan, tetapi tercatat dalam berbagai kitab klasik yang menjadi rujukan utama. Selain البداية والنهاية (3/206) karya Ibnu Katsir, informasi ini juga ditemukan dalam:
1. الحطة في ذكر الصحاح الستة (hal. 60) — yang membahas tentang sejarah dan keutamaan para sahabat.
2. شرح إحياء علوم الدين (1/3) — penjelasan atas kitab Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali.
3. الإعلام بأعلام بيت الله الحرام karya an-Nahrawali (hal. 456) — yang mengupas sejarah Makkah dan Madinah.
4. النظائر karya Syaikh Bakr Abu Zaid (hal. 288) — yang menyebutkan tentang peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Keberadaan catatan ini di berbagai kitab menunjukkan bahwa penetapan kalender Hijriah bukanlah keputusan seremonial semata, melainkan hasil ijtihad jama’i yang didukung oleh bukti-bukti sejarah yang kuat.
❖
Hikmah di Balik Penetapan Kalender Hijriah
Mengapa hijrah menjadi momentum yang sangat penting hingga diabadikan sebagai awal tahun Islam? Ada beberapa hikmah yang dapat kita renungkan:
1. Hijrah Adalah Pemisah antara Masa Lemah dan Masa Kuat
Sebelum hijrah, kaum muslimin hidup dalam tekanan, siksaan, dan ancaman pembunuhan di Makkah. Setelah hijrah, mereka memiliki negara, pemerintahan, dan kebebasan beribadah. Hijrah menandai babak baru dalam sejarah Islam. Dengan menjadikannya sebagai awal tahun, umat Islam setiap tahun diingatkan bahwa kejayaan dimulai dari keberanian berhijrah meninggalkan zona nyaman demi menegakkan agama Allah.
2. Hijrah Mengajarkan Pentingnya Perencanaan dan Pengorbanan
Peristiwa hijrah tidak terjadi begitu saja. Ia adalah hasil perencanaan matang, pengorbanan harta dan jiwa, serta kesiapan menghadapi risiko. Dengan menjadikannya sebagai titik tolak kalender, setiap kali memasuki tahun baru Hijriah, umat Islam diajak merenungkan makna hijrah dalam kehidupan masing-masing: "Berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesungguhan, dari keterpurukan menuju kemajuan.
3. Kalender Hijriah Menjaga Identitas Umat
Dalam dunia yang semakin global, memiliki sistem penanggalan sendiri adalah bentuk menjaga identitas dan kemandirian. Para sahabat menolak kalender Masehi atau Persia karena mereka sadar bahwa umat ini memiliki peradaban yang mandiri, tidak perlu mengikuti sistem yang lahir dari budaya lain.
4. Ibadah Menjadi Lebih Teratur dan Terjaga
Puasa Ramadhan, ibadah haji, zakat fitrah, dan berbagai ibadah lainnya memiliki waktu yang ditentukan berdasarkan bulan dan tanggal Hijriah. Dengan adanya sistem penanggalan yang baku, seluruh umat Islam di dunia dapat melaksanakan ibadah secara serempak dan tidak terpecah oleh perbedaan perhitungan yang kacau.
❖
Kalender Hijriah dalam Kaitannya dengan Ibadah
Tidak dapat dipungkiri bahwa kalender Hijriah sangat erat kaitannya dengan ibadah umat Islam. Beberapa ibadah yang langsung terkait dengan sistem penanggalan ini antara lain:
- Puasa Ramadhan —
Sebulan penuh di bulan kesembilan.
- ‘Idul Fitri —
Pada tanggal 1 Syawal.
- ‘Idul Adh-ha —
Pada tanggal 10 Dzulhijjah.
- Puasa Arafah —
Pada tanggal 9 Dzulhijjah.
- Puasa ‘Asyura —
Pada tanggal 10 Muharram.
- Puasa Ayyamul Bidh —
Pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah.
- Puasa Syawal —
Enam hari di bulan Syawal.
- Ibadah Haji —
Pada bulan Dzulhijjah.
- Zakat Fitri —
Wajib dikeluarkan sebelum ‘Idul Fitri.
- Puasa sunnah di bulan Muharram, Rajab, Sya’ban, dan lainnya.
Tanpa penanggalan yang jelas, semua ibadah ini akan sulit dilaksanakan secara serempak dan berjamaah. Karena itulah penetapan kalender Hijriah menjadi sebuah keniscayaan bagi umat Islam.
❖
Relevansi Kalender Hijriah di Masa Kini
Meskipun dalam urusan administrasi dunia, banyak negara Islam juga menggunakan kalender Masehi sebagai pelengkap, namun kalender Hijriah tetap memiliki kedudukan penting. Ia adalah pengingat akan identitas, simbol kebangkitan, dan pedoman ibadah.
Banyak keluarga muslim yang masih menuliskan tanggal Hijriah di undangan pernikahan, menyambut tahun baru Hijriah dengan refleksi, dan mengajarkan anak-anak tentang nama-nama bulan dalam Islam. Tradisi ini bukan sekadar nostalgia, tetapi upaya menjaga warisan berharga dari generasi terbaik.
Sebagaimana yang disebutkan dalam النظائر (hal. 288) karya Syaikh Bakr Abu Zaid, penetapan kalender Hijriah adalah bagian dari khazanah keilmuan yang harus dilestarikan, karena ia lahir dari ijtihad para sahabat yang dipimpin oleh seorang khalifah yang amat cermat dalam urusan agama dan dunia.
❖
Penutup: Warisan yang Tak Ternilai
Saat kita memasuki bulan Muharram setiap tahun, ketika kita merayakan tahun baru Hijriah, di situlah kita mengingat kembali perjuangan para sahabat yang telah merumuskan sistem penanggalan ini. Mereka tidak hanya memikirkan kemaslahatan umat di masanya, tetapi juga lintas generasi hingga akhir zaman.
Muharram adalah bulan yang mulia, bulan pertama dalam kalender Hijriah, bulan yang di dalamnya terdapat puasa ‘Asyura yang menghapus dosa setahun yang lalu. Semua ini mengingatkan kita bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar angka, tetapi pintu rahmat dan ladang amal.
Semoga kita termasuk orang-orang yang menghidupkan sunnah para sahabat, menjaga warisan mereka, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang mereka abadikan.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan