Keutamaan Dan Larangan : Bulan Muharram

Bulan Muharram: Kemuliaan Syariat dan Bahaya Keyakinan Syirik di Balik Mitos “Bulan Keramat”
Bulan yang Dimuliakan Allah, Namun Sering Disalahpahami...

Di antara dua belas bulan dalam kalender Hijriah, Muharram menempati posisi istimewa. Ia adalah bulan pertama yang membuka lembaran tahun baru Islam, sekaligus termasuk bulan-bulan haram (asyhur al-hurum) yang disebut dalam Al-Qur’an. Rasulullah sendiri menamainya Syahrullah—bulan Allah—sebuah gelar yang tidak diberikan kepada bulan lainnya. Namun sayang, sebagian masyarakat justru keliru memandang kemuliaan ini. Ada yang meyakini Muharram sebagai “bulan keramat” yang penuh dengan kekuatan gaib, sampai-sampai enggan menikah, memulai usaha, atau justru mengadakan ritual-ritual khusus yang tidak diajarkan dalam Islam.

Lalu, apa sebenarnya kedudukan bulan Muharram dalam syariat? Amalan apa yang dianjurkan? Dan bagaimana menyikapi keyakinan-keyakinan yang menyimpang di sekitarnya? Mari kita telaah dengan dalil-dalil yang shahih.

---
Bulan Muharram: Bulan Haram yang Diagungkan Allah

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

ان عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والارض منها اربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن انفسكم

Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhi iṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqa as-samāwāti wal-arḍa minhā arba‘atun ḥurum, dzālikad-dīnu al-qayyimu, fa lā taẓlimū fīhinna anfusakum

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan haram tersebut adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:

السنة اثنا عشر شهرا منها اربعة حرم ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

As-sanatu iṡnā ‘asyara syahran minhā arba‘atun ḥurum, tsalātsatun mutawāliyāt: dzū al-qa‘dati wa dzū al-ḥijjati wa al-muḥarramu, wa rajabu muḍara alladzī baina jumādā wa sya‘bān

“Satu tahun itu dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa‘dah, Dzulhijjah dan Muharram. Satu lagi adalah bulan Rajab yang terletak antara Jumada Tsaniyah dan Sya‘ban.” (HR. Bukhari, no. 2958)

Para ulama menjelaskan, dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan itu Allah mengharamkan peperangan (kecuali jika diserang) dan mengagungkan larangan-Nya. Kehormatan waktu ini bukan berasal dari keyakinan mistis, tetapi dari penetapan syariat.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

ان الله فتح اول السنة بشهر حرام و ختم آخر السنة بشهر حرام و ليس بعد شهر رمضان شهر اعظم عند الله من المحرم

Innallāha fataḥa awwala as-sannah bi syahrin ḥarām wa khatama ākhira as-sannah bi syahrin ḥarām, wa laysa ba‘da syahri ramaḍāna syahrun a‘ẓamu ‘indallāhi min al-muḥarram

“Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram dan menutup akhir tahun dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan dengan bulan Muharram.” (Latha’iful Ma‘arif, Ibnu Rajab, hal. 79)

---
Syahrullah: Bulan yang Dinamai dengan Nama Allah

Rasulullah ﷺ menyebut Muharram dengan sebutan شهر الله (Syahrullah). Beliau bersabda:

افضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

Afḍalu aṣ-ṣiyāmi ba‘da ramaḍāna syahru allāhi al-muḥarramu

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah al-Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan makna penyandaran ini:

تسمية النبي صلى الله عليه وسلم المحرم بشهر الله اضافته الى الله تعالى يدل على شرفه وفضله فان الله لا يضيف اليه الا خاصا من خلقه

“Nabi menamai Muharram dengan Syahrullah. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Karena Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali pada makhluk-Nya yang khusus.” (Latha’iful Ma‘arif, hal. 81)

Keistimewaan ini menjadikan Muharram sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa sunnah.

---
Peristiwa Penyelamatan Nabi Musa dan Puasa ‘Asyura

Salah satu peristiwa agung yang terjadi di bulan Muharram adalah penyelamatan Nabi Musa ‘alaihis salam dan Bani Israil dari kejaran Fir‘aun. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فراى اليهود يصومون عاشوراء فقال ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بني اسرائيل من عدوهم فصامه موسى فقال انا احق بموسى منكم فصامه وامر بصيامه

Qadima an-nabiyyu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama al-madīnata fa ra’ā al-yahūda yaṣūmūna ‘āsyūrā’a fa qāla mā hādzā? Qālū hādzā yaumun ṣāliḥun, hādzā yauman najjā allāhu banī isrā’īla min ‘aduwwihim fa ṣāmahū mūsā. Fa qāla ana aḥaqqu bi mūsā minkum, fa ṣāmahū wa amara bi ṣiyāmihī

“Nabi ﷺ tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya, ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya. Maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami pun ikut berpuasa.’ Nabi berkata, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga.” (HR. Bukhari, no. 2004; Muslim, no. 1130)

Momen ini menunjukkan bahwa puasa ‘Asyura telah menjadi syiar para nabi sebelumnya, dan Islam melestarikannya sebagai bentuk syukur kepada Allah.

---
Keutamaan Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صيام يوم عاشوراء اني احتسب على الله ان يكفر السنة التي قبله

Ṣiyāmu yaumi ‘āsyūrā’a innī aḥtasibu ‘alallāhi an yukaffira as-sanata allatī qablahū

“Puasa di hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menganjurkan untuk berpuasa pada hari kesembilan (Tasu‘a) sebagai pembeda dengan puasa orang Yahudi. Beliau bersabda:

لئن بقيت الى قابل لاصومن التاسع

La’in baqītu ilā qābilin la aṣūmanna at-tāsi‘

“Sungguh jika aku hidup sampai tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, no. 1134)

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, atau setidaknya tanggal 10 saja. Puasa ini menjadi salah satu amalan paling utama setelah puasa Ramadhan.

---
Menyikapi Keyakinan Keliru: “Bulan Keramat” dan Larangan Nikah

Meskipun bulan Muharram memiliki kedudukan yang mulia, sebagian masyarakat justru membangun keyakinan yang tidak bersumber dari syariat. Mereka menganggap Muharram sebagai bulan “keramat” yang penuh dengan kekuatan gaib, sehingga takut menikah, memulai usaha, atau justru melakukan ritual-ritual tertentu. Keyakinan semacam ini masuk dalam kategori tathayyur (menganggap sial pada sesuatu) yang dilarang keras.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الطيرة شرك ما منا الا ولكن الله يذهبه بالتوكل

Aṭ-ṭiyaratu syirkun, mā minnā illā wa lākinna allāha yudzhibuhū bit-tawakkul

“Thiyarah (menganggap sial dengan sesuatu) adalah syirik. Tidak ada seorang pun dari kita yang luput darinya, namun Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (HR. Abu Daud, no. 3910; Tirmidzi, no. 1614; dihasankan al-Albani)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan:

ليس في الشريعة لا تحريم نكاح في شهر المحرم ولا تحريم فرح ولا غير ذلك، بل النكاح فيه جائز كغيره من الاشهر

“Tidak ada dalam syariat larangan menikah di bulan Muharram, tidak pula larangan bergembira atau semisalnya. Bahkan menikah di dalamnya dibolehkan seperti bulan-bulan lainnya.” (Majmu‘ al-Fatawa, 25/292)

Menganggap suatu waktu membawa sial atau keramat secara mandiri adalah bentuk kesyirikan karena meyakini ada kekuatan selain Allah yang memengaruhi nasib. Keyakinan seperti ini seringkali merupakan warisan dari tradisi jahiliah yang masih mengakar. Padahal, semua waktu adalah ciptaan Allah, dan hanya Allah yang menetapkan baik buruknya sesuatu.

---
Kesimpulan: Kembali kepada Sunnah, Bukan Khurafat

Bulan Muharram adalah bulan yang agung, dimuliakan oleh Allah sebagai bulan haram dan disebut sebagai Syahrullah. Di dalamnya terdapat puasa ‘Asyura yang menghapus dosa setahun lalu. Namun kemuliaan ini tidak lantas membenarkan keyakinan-keyakinan yang menyimpang, seperti menganggap bulan ini keramat atau sial, serta larangan menikah.

Seorang muslim yang bertauhid hendaknya mengisi Muharram dengan amalan sunnah: "memperbanyak puasa (terutama tanggal 9 dan 10), memperbanyak doa, dan menjauhi maksiat. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam tathayyur yang merupakan bagian dari syirik. Bersandarlah kepada Allah dalam segala urusan, dan jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, bukan untuk mempertahankan mitos yang menyesatkan.

Semoga Allah memberikan pemahaman yang benar dan menjadikan kita hamba-hamba yang mengamalkan sunnah dengan ikhlas.

والله اعلم بالصواب




Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.