Mitos Bulan Sura Bulan Keramat
Bulan Sura Bukan Bulan Sial: Membongkar Mitos ‘Bulan Keramat’ dalam Pandangan Islam
Ketika Tradisi Lebih Kuat dari Dalil
Di sebagian masyarakat Indonesia, terutama di kalangan budaya Jawa, bulan Muharram atau yang lebih dikenal dengan bulan Sura memiliki kedudukan istimewa—namun dengan cara yang menyimpang dari ajaran Islam. Bulan ini dianggap keramat, penuh dengan hari-hari nahas, sehingga banyak orang menghentikan aktivitas besar seperti hajatan, menunda pernikahan, dan menghindari perjalanan jauh. Ada yang meyakini bahwa menikah di bulan Sura akan mendatangkan sial: perceraian, kematian, ketidakharmonisan, hingga terlilit utang.
Keyakinan ini telah mengakar turun-temurun, dianggap sebagai warisan nenek moyang yang tak boleh dilanggar. Tapi benarkah demikian? Apakah bulan yang dimuliakan oleh Allah ini justru menjadi bulan yang ditakuti? Ataukah ini hanyalah khurafat yang terselubung dengan baju budaya?
Artikel ini akan mengupas mitos bulan Sura dari tiga sudut pandang: syariat Islam, sejarah, dan sisi rasionalitas. Dengan harapan, kita dapat kembali memurnikan keyakinan sesuai tuntunan Rasulullah.
---
Bulan Muharram dalam Syariat: Yang Mulia, Bukan Nahas
Dalam Al-Qur’an, Allah telah menetapkan bahwa Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan:
ان عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والارض منها اربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن انفسكم
Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhi iṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqa as-samāwāti wal-arḍa minhā arba‘atun ḥurum, dzālikad-dīnu al-qayyimu, fa lā taẓlimū fīhinna anfusakum
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Nabi sendiri menyebut Muharram dengan nama شهر الله (Syahrullah), bulan yang disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Lalu bagaimana mungkin bulan yang dimuliakan ini justru dianggap sebagai sumber kesialan? Sungguh ini adalah kebalikan dari kebenaran.
---
1. Tinjauan Syariat: Larangan Mencela Waktu dan Thiyarah
a. Bulan yang Dimuliakan, Bukan Dijauhi
Allah telah menyatakan bahwa bulan haram adalah waktu yang dimuliakan. Karenanya, tidak mungkin Allah menjadikan sesuatu yang mulia sebagai sumber sial. Keyakinan sebaliknya justru merupakan bentuk pencelaan terhadap waktu yang diciptakan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لا تسبوا الدهر فان الله هو الدهر
Lā tasubbū ad-dahr fa innallāha huwa ad-dahr
“Janganlah kalian mencela dahr (waktu), karena Allah itu adalah (penguasa) dahr.” (HR. Muslim, no. 5827)
Dalam riwayat lain yang lebih jelas, Rasulullah bersabda:
يقول الله تعالى: يسب بنو آدم الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار
Yaqūlullāhu ta‘ālā: yasubbu banū ādama ad-dahr wa ana ad-dahr, biyadī al-amru, uqallibu al-layla wa an-nahār
“Allah berfirman: ‘Anak Adam menyakiti-Ku; ia mencela dahr, padahal Aku adalah (pencipta) dahr. Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.’” (HR. Bukhari, no. 5827; Muslim, no. 5824)
Mencela waktu berarti mencela ciptaan Allah, dan itu berisiko kepada Sang Pencipta. Keyakinan bahwa Muharram membawa sial adalah bentuk pencelaan terhadap waktu yang Allah ciptakan dengan baik.
b. Thiyarah: Syirik yang Masih Mengakar
Keyakinan adanya hari sial termasuk dalam kategori thiyarah (menganggap sial sesuatu) yang dilarang keras. Rasulullah ﷺ bersabda:
الطيرة شرك الطيرة شرك الطيرة شرك
Aṭ-ṭiyaratu syirkun, aṭ-ṭiyaratu syirkun, aṭ-ṭiyaratu syirkun
“Thiyarah adalah syirik.” (Beliau mengulanginya tiga kali) (HR. Ahmad, no. 3660; dishahihkan oleh al-Hakim, Ibnu Hibban, dan al-Albani)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu‘ al-Fatawa (34/180) menjelaskan bahwa keyakinan semacam ini adalah kebiasaan jahiliah yang harus ditinggalkan. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada larangan melakukan aktivitas yang mubah di bulan Muharram, apalagi yang bernuansa ibadah seperti pernikahan.
c. Tidak Ada Dasar Larangan Nikah di Bulan Muharram
Tidak ada satu pun dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang melarang pernikahan di bulan Muharram. Yang ada justru sebaliknya: "Bulan ini adalah waktu yang baik untuk memperbanyak amal saleh, termasuk menikah jika memang telah siap. Larangan ini murni berasal dari warisan budaya yang tidak memiliki landasan syariat.
---
2. Tinjauan Sejarah: Bulan Kemenangan, Bukan Kekalahan
Peristiwa besar di bulan Muharram—tepatnya pada tanggal 10—adalah penyelamatan Nabi Musa ‘alaihis salam dari kejaran Fir‘aun. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فراى اليهود يصومون عاشوراء فقال ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بني اسرائيل من عدوهم فصامه موسى فقال انا احق بموسى منكم فصامه وامر بصيامه
Qadima an-nabiyyu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama al-madīnata fa ra’ā al-yahūda yaṣūmūna ‘āsyūrā’a fa qāla mā hādzā? Qālū hādzā yaumun ṣāliḥun, hādzā yauman najjā allāhu banī isrā’īla min ‘aduwwihim fa ṣāmahū mūsā. Fa qāla ana aḥaqqu bi mūsā minkum, fa ṣāmahū wa amara bi ṣiyāmihī
“Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya pada mereka, ‘Hari apa ini, yang kalian sekarang sedang berpuasa?’ Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang agung, di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa bersama kaumnya serta menenggelamkan Fir‘aun dan kaumnya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu untuk mensyukurinya, kemudian kami mengikutinya.’ Rasulullah pun bersabda, ‘Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.’ Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pula.” (HR. Bukhari, no. 2004; Muslim, no. 1130)
Ini adalah kisah suka cita, kemenangan, dan syukur. Bukan duka, bukan kesialan. Jika ada peristiwa kesialan di bulan ini, tentu yang paling berhak merasakannya adalah Fir‘aun dan tentaranya yang justru ditenggelamkan. Umat Islam justru mendapatkan kabar gembira dan anjuran untuk berpuasa sebagai bentuk syukur. Sungguh tidak masuk akal jika bulan ini justru dianggap nahas.
---
3. Tinjauan Rasionalitas: Produktivitas yang Terhambat
Secara akal sehat, menghindari aktivitas penting selama sebulan penuh tentu akan mengurangi produktivitas. Jika seseorang menunda pernikahan, perjalanan, atau usaha karena takut sial, maka ia telah kehilangan peluang yang mungkin tidak akan datang dua kali.
Tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan bahwa angka kecelakaan, kematian, atau perceraian meningkat di bulan Muharram. Sebaliknya, banyak orang yang menikah, memulai usaha, atau melakukan perjalanan di bulan ini dan berjalan lancar dengan izin Allah. Karena yang menentukan baik buruknya suatu peristiwa bukanlah waktu, melainkan usaha, tawakal, dan takdir Allah.
Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah mengkhususkan waktu tertentu untuk menghindari pernikahan atau perjalanan. Beliau justru menikahi beberapa istrinya di bulan-bulan yang dianggap “keramat” oleh masyarakat Jahiliah, dan semua berjalan baik.
---
Menyikapi Budaya: Islam dan Kearifan Lokal
Barangkali ada yang berdalih, “Walaupun beragama Islam, kita tinggal di tanah Jawa. Tidak etis jika kita tidak mengikuti atau menghormati adat istiadat masyarakat Jawa.”
Jawabannya: "Islam tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun ketika budaya tersebut mengajarkan keyakinan yang keliru—seperti menganggap suatu waktu membawa sial—maka seorang muslim wajib mendahulukan perintah Allah. Allah berfirman:
يا ايها الذين امنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين
Yā ayyuhā alladzīna āmanū udkhulū fī as-silmi kāffatan wa lā tattabi‘ū khuṭuwāti asy-syaiṭāni innahū lakum ‘aduwwun mubīn
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Bukanlah sikap totalitas dalam beriman jika seseorang shalat, puasa, dan zakat dengan cara Islam, tetapi masih meyakini sesuatu yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Menghormati budaya bukan berarti menerima segala keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Apalagi keyakinan seperti ini termasuk dalam kategori thiyarah yang dilarang keras.
---
Kesimpulan: Kembali pada Kemuliaan Hakiki
Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah, bukan untuk ditakuti. Peristiwa bersejarah di dalamnya adalah kemenangan dan syukur, bukan duka. Keyakinan tentang hari sial adalah bentuk thiyarah yang merupakan syirik dan harus ditinggalkan. Tidak ada larangan menikah atau beraktivitas di bulan ini; semua boleh dilakukan selama tidak melanggar syariat.
Sebagai muslim, sudah selayaknya kita mengambil hikmah dari keutamaan bulan Muharram dengan memperbanyak puasa, amal saleh, dan taubat, bukan dengan membiarkan mitos-mitos lama mengendalikan hidup kita. Karena yang membawa kebaikan atau keburukan bukanlah waktu, melainkan Allah semata. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa kepada-Nya.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan