Nabi Yusya' bin Nun: Ketika Matahari Tertahan demi Kemenangan di Tanah Suci

Seorang Pewaris Perjuangan.

Setelah Nabi Musa 'alaihissalam wafat, estafet kepemimpinan atas Bani Israil jatuh ke tangan seorang penerus yang telah lama mendampinginya. Ia adalah Yusya' bin Nun, pemuda yang setia menemani Nabi Musa dalam perjalanan mencari Nabi Khidir, dan kini dipercaya membawa Bani Israil menuju tanah yang dijanjikan. Namanya mungkin tidak setenar Musa atau Harun, namun perannya sangat menentukan dalam sejarah Bani Israil.

Nabi Yusya' bin Nun adalah salah seorang nabi Bani Israil yang diutus setelah wafatnya Nabi Musa. Dalam tradisi Islam, ia dikenal sebagai Fata Musa (pembantu Musa) yang disebut dalam Al-Qur'an saat kisah pertemuan Musa dengan Khidir. Dalam riwayat Shahih Bukhari, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Yusya' bin Nun, pemuda yang menemani Musa dalam pencariannya . Setelah Musa wafat, Yusya' diangkat menjadi nabi dan pemimpin Bani Israil, membawa mereka keluar dari padang pasir menuju tanah yang diberkahi.

Kisahnya mengandung mukjizat besar yang hanya diberikan kepada satu orang dalam sejarah manusia: tertahannya matahari dari terbenam. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, dan bahwa syariat setiap umat memiliki kekhasan masing-masing yang kelak disempurnakan dalam Islam.

---

Dari Gurun Menuju Kota Benteng

Setelah Nabi Musa wafat, Bani Israil yang selama empat puluh tahun mengembara di padang pasir akhirnya dipersiapkan untuk memasuki tanah suci. Nabi Yusya' bin Nun memimpin mereka keluar dari gurun, menyeberangi Sungai Yordania, dan akhirnya tiba di kota Yeriko (Jericho). Kota ini bukanlah kota biasa. Ia memiliki benteng yang kokoh dengan pintu gerbang yang kuat, bangunan-bangunan tinggi menjulang, dan penduduk yang sangat padat . Menguasai Yeriko adalah kunci untuk memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan.

Dengan penuh keyakinan kepada Allah, Nabi Yusya' bersama kaumnya mengepung kota tersebut. Pengepungan berlangsung lama—enam bulan lamanya—diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir yang menggema di sekitar benteng. Semangat juang Bani Israil tidak pernah padam. Mereka percaya bahwa janji Allah pasti terwujud.

Akhirnya, setelah kesabaran yang panjang, benteng itu berhasil dihancurkan. Bani Israil memasuki kota, mengambil harta rampasan, dan memerangi siapa saja yang mencoba menghalangi mereka. Mereka juga berhadapan dengan sejumlah raja yang berkuasa di Syam. Namun pertempuran terbesar terjadi pada hari yang kritis: hari Jumat.

---

Doa yang Menghentikan Waktu

Pertempuran berkecamuk hebat. Matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu Ashar akan segera berlalu. Hari Jumat hampir usai, dan sebentar lagi hari Sabtu tiba. Dalam syariat Bani Israil, hari Sabtu adalah hari yang diharamkan untuk berperang. Jika matahari terbenam sebelum kemenangan diraih, maka mereka harus menghentikan pertempuran dan memberi kesempatan musuh untuk memperkuat diri .

Nabi Yusya' merasa cemas. Kemenangan sudah di depan mata, namun waktu tidak berpihak. Di saat genting itu, ia berdiri dan memanjatkan doa yang luar biasa kepada Allah. Ia berkata:

"Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah, demikian juga aku. Aku bersujud mengikuti perintah-Nya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu!"

Doa ini bukan sekadar permohonan biasa. Ini adalah keyakinan seorang nabi bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk peredaran matahari. Dan Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang mulia itu. Matahari tertahan, tidak terbenam, hingga Nabi Yusya' berhasil menaklukkan negeri tersebut .

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ عَلَى بَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ"

Innasy syamsa lam tuḥbas 'alā basyarin illā li Yūsya'a layāliya sāra ilā Baitil Maqdis

"Sesungguhnya matahari tidak pernah tertahan untuk terbenam hanya untuk seorang manusia, kecuali untuk Yusya', yaitu pada malam-malam dia berjalan menuju Baitul Maqdis (untuk berjihad)." (HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan bahwa mukjizat ini hanya diberikan kepada Nabi Yusya' dan tidak kepada nabi lainnya. Al-Imam al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah menegaskan bahwa tidak ada riwayat shahih tentang tertahannya matahari untuk selain Nabi Yusya' .

---

Hikmah di Balik Tertahannya Matahari

Peristiwa ini mengajarkan beberapa hikmah mendalam. Pertama, Allah Maha Kuasa mengatur alam semesta sesuai kehendak-Nya. Matahari yang setiap hari terbit dan terbenam dengan keteraturan, tiba-tiba berhenti atas izin Allah. Ini adalah bukti bahwa alam tunduk kepada perintah-Nya.

- Kedua, doa seorang nabi memiliki kedudukan istimewa. Nabi Yusya' tidak meminta hal yang mustahil menurut ukuran manusia, namun baginya tidak ada yang mustahil karena ia yakin kepada kekuasaan Allah.

- Ketiga, perjuangan menegakkan kebenaran memerlukan pengorbanan dan kesabaran. Bani Israil mengepung Yeriko selama enam bulan. Mereka tidak menyerah meskipun menghadapi benteng yang kokoh. Kesabaran mereka akhirnya berbuah kemenangan.

- Keempat, waktu adalah sumber daya yang sangat berharga dalam peperangan. Beberapa saat saja bisa menentukan menang atau kalah. Karena itu, seorang pemimpin harus pandai membaca situasi dan memanfaatkan setiap kesempatan.

---

Hadits tentang Peperangan dan Harta Rampasan

Kisah Nabi Yusya' tidak berhenti pada penaklukan Yeriko. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang nabi (yang oleh para ulama diidentifikasi sebagai Yusya') yang memiliki aturan khusus dalam peperangan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

"غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لَا يَتْبَعْنِي رَجُلٌ قَدْ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلَا آخَرُ قَدْ بَنَى بُنْيَانًا وَلَمَّا يَرْفَعْ سَقْفَهَا، وَلَا آخَرُ قَدِ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلَادَهَا"

Ghozā nabiyyun minal anbiyā'i fa qāla li qaumihi: Lā yattabi'annī rajulun qad malaka buḍ'a imra'atin wa huwa yurīdu an yabniya bihā wa lammā yabni bihā, wa lā ākharu qad banā bunyānan wa lammā yarfa' saqfahā, wa lā ākharu qadisytarā ghanaman au khilifātin wa huwa yantadziru wilādahā.

"Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah yang ingin berperang. Dia berkata kepada kaumnya: 'Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini, seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan mereka mengharapkan seorang anak, tapi belum mendapatkannya. Begitu pula dengan orang yang membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu binatang itu beranak.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebijakan ini menunjukkan bahwa seorang panglima perang harus memastikan para prajuritnya benar-benar fokus dan tidak terganggu oleh urusan dunia yang belum selesai. Peperangan membutuhkan konsentrasi penuh dan kesiapan mental yang prima.

Dalam riwayat yang sama, diceritakan bahwa nabi itu berangkat berjihad bersama pasukannya. Ketika sudah berada dekat dengan daerah yang dituju, waktu Ashar telah tiba atau hampir tiba. Maka nabi itu berkata kepada matahari:

"اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا شَيْئًا"

Allāhummaḥbis-hā 'alainā syai'ā

"Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak untuk kami."

Maka Allah menahan matahari hingga mereka berhasil menaklukkan daerah tersebut . Setelah kemenangan diraih, mereka mengumpulkan harta rampasan di suatu tempat. Tiba-tiba datang api yang menyambar, tetapi api itu tidak membakar harta rampasan tersebut.

Nabi itu berkata, "Diantara kalian ada yang berkhianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan. Aku minta seseorang dari setiap kabilah untuk bersumpah kepadaku."

Setiap pimpinan kabilah datang satu persatu untuk disumpah. Tiba-tiba tangan nabi itu lengket pada tangan salah seorang diantara mereka.

"Diantara orang dalam kabilahmu ada yang berkhianat. Aku minta semua orang dalam kabilahmu untuk bersumpah." kata nabi itu.

Satu persatu orang dalam kabilah itu disumpah, dan tiba-tiba tangan nabi itu lengket pada tangan dua atau tiga orang. "Kalian telah berkhianat!"  tegas nabi itu.

Orang-orang yang berkhianat itu kemudian mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu dikumpulkan di lapangan, dan seketika itu pula datanglah api menyambar dan melalapnya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa harta rampasan perang (ghanimah) adalah sesuatu yang suci dan harus dibagikan sesuai aturan. Siapa pun yang berkhianat dengan menyembunyikannya akan mendapatkan azab di dunia sebelum akhirat.

---

Penghalalan Ghanimah untuk Umat Islam

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda menjelaskan hikmah di balik peristiwa tersebut:

"وَلَمْ تَحِلَّ الْغَنَائِمُ لِأَحَدٍ سِوَاءً مِنَ الْأُمَمِ قَبْلَنَا، ثُمَّ أَحَلَّهَا اللَّهُ لَنَا لِمَا رَأَى مِنْ ضَعْفِنَا وَعَجْزِنَا"

Wa lam taḥillal ghanā-imu li aḥadin siwā'an minal umami qablanā, tsumma aḥallahā Allāhu lanā limā ra'ā min ḍa'finā wa 'ajzinā

"Harta rampasan perang memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkannya untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah salah satu keistimewaan umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Dalam hadits riwayat Jabir bin Abdillah, Rasulullah ﷺ menyebutkan lima keistimewaan yang diberikan khusus kepada beliau, salah satunya:

"وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي"

Wa uhillat liyal ganā-imu wa lam taḥill li aḥadin qablī

"Dan dihalalkan bagiku harta rampasan perang, padahal tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hikmah di balik penghalalan ghanimah untuk umat Islam adalah karena peperangan dalam Islam lebih banyak bersifat defensif dan untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk ekspansi kekuasaan semata. Selain itu, umat Islam tidak memiliki sumber pendapatan tetap seperti yang dimiliki umat-umat sebelumnya, sehingga ghanimah menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi .

---

Enam Pelajaran dari Perjuangan Nabi Yusya'

1. Kesabaran adalah Kunci Kemenangan

Bani Israil mengepung Yeriko selama enam bulan. Mereka tidak menyerah meskipun menghadapi benteng yang kokoh dan penduduk yang padat. Kesabaran ini akhirnya membuahkan hasil. Dalam hidup, banyak perjuangan membutuhkan waktu panjang. Jangan putus asa jika hasil belum terlihat, karena pertolongan Allah datang setelah kesabaran.

2. Doa Memiliki Kekuatan Mengubah Takdir

Nabi Yusya' berdoa dengan keyakinan penuh, dan Allah mengabulkannya dengan cara yang spektakuler. Ini mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang beriman. Tidak ada masalah terlalu besar untuk diselesaikan dengan doa, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3. Kejujuran adalah Fondasi Keberkahan

Harta rampasan yang dicuri membawa azab. Api yang seharusnya melalap kurban justru tidak menyala sampai para pengkhianat mengakui dosa mereka. Ini mengajarkan bahwa keberkahan hanya ada pada harta yang halal. Sedikit tapi berkah, lebih baik daripada banyak tapi pencurian.

4. Kepemimpinan yang Bijak

Nabi Yusya' tidak asal memimpin. Ia memperhatikan detail, termasuk aturan tentang siapa yang boleh ikut berperang. Ia juga tegas dalam menegakkan keadilan, termasuk mengungkap pengkhianatan. Ini adalah teladan bagi para pemimpin: perhatikan detail, tegas pada aturan, dan adil dalam bertindak.

5. Mukjizat Adalah Bukti Kekuasaan Allah

Tertahannya matahari adalah mukjizat yang hanya diberikan kepada Nabi Yusya'. Ini menjadi bukti bahwa para nabi didukung oleh Allah dengan tanda-tanda kebesaran-Nya. Mukjizat ini juga menjadi penguat iman bagi yang menyaksikannya.

6. Umat Islam Memiliki Keistimewaan

Penghalalan ghanimah adalah salah satu keistimewaan umat Islam. Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad, karena Dia mengetahui kelemahan dan keterbatasan mereka. Sebagai umat yang dimuliakan, sudah seharusnya kita bersyukur dan menggunakan karunia ini dengan sebaik-baiknya.

---

Penutup: Warisan Seorang Pewaris Nabi

Nabi Yusya' bin Nun wafat pada usia 127 tahun, dua puluh tujuh tahun setelah wafatnya Nabi Musa . Ia dimakamkan di daerah yang kini dikenal sebagai Kifl Haris di Tepi Barat, sebuah tempat yang masih diziarahi hingga hari ini . Ia meninggalkan warisan iman dan perjuangan, serta bukti bahwa Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran.

Kisahnya mengajarkan kita bahwa perjuangan menegakkan kebenaran memerlukan kesabaran, keyakinan, dan kejujuran. Ia juga mengingatkan bahwa umat Islam memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah, dengan berbagai kemudahan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Namun kemudahan ini harus disyukuri dengan ketaatan dan ketakwaan.

Semoga kita dapat meneladani semangat juang para nabi dalam kehidupan sehari-hari, dan semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus.

والله اعلم بالصواب
Selamat memasuki Ruang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya lahir dari usaha memahami khazanah kitab para ulama, diselingi syair dan puisi sebagai cermin tafakkur dan tazkiyatun nafs. Blog ini bukan untuk menggurui, melainkan menemani — Catatan seorang penempuh jalan yang belajar membaca makna sebelum berbicara tentang kebenaran.