Nahwu: Renungan tentang Ilmu, Bahasa, dan Problem Pembelajarannya (Bagian 1)
Sebuah Permenungan atas Problem yang Tak Kunjung Usai.
Setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan bahasa Arab, baik di madrasah, pesantren, maupun perguruan tinggi, pasti merasakan bahwa Nahwu itu rumit. Bukan hanya bagi para pelajar pemula, bahkan para pengajar yang sudah expert sekalipun seringkali mengakui bahwa mereka tidak benar-benar menguasai nahwu. Ironisnya, yang lebih menyedihkan adalah ketika seseorang membenci bahasa Arab hanya karena nahwu.
Saya sendiri berkali-kali mendengar keluhan serupa. Seorang pengajar pernah merasa heran tentang sebuah kalimat bahasa Arab yang memiliki i'rab, tetapi ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata kalimat tersebut tidak memiliki i'rab. Kejadian seperti ini terus berulang, membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya apa yang salah dengan nahwu?
Setelah merenung cukup lama, saya sampai pada kesimpulan bahwa problem ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan nahwu itu sendiri, tetapi dengan cara kita mempelajari dan mengajarkannya. Dengan kata lain, pertanyaan ما النحو؟ (apa itu nahwu?) tidak pernah sama dengan pertanyaan كيف نعلم النحو؟ (bagaimana kita mengajarkan nahwu?). Dalam konteks yang sama, bahasa Arab bukanlah apa yang dikatakan oleh para ahli nahwu tentangnya.
---
Bahasa dan Ilmu tentang Bahasa: Dua Hal yang Berbeda
Ketika seorang ahli nahwu menyebut bahwa urgensi mempelajari ilmu nahwu adalah untuk mengajarkan bahasa Arab, ia sebenarnya menggunakan kata 'ilmu' pada tempat yang tidak tepat. Jika kita cermati lebih dalam, orang Arab badui yang sama sekali tidak tahu nahwu justru akan mengatakan bahwa bahasa Arab itu mudah dan tidak rumit. Mereka berbicara secara alami, tanpa dibebani aturan-aturan gramatikal.
Namun di sisi lain, ada alasan yang benar atas kesulitan orang-orang terhadap nahwu. Buku-buku nahwu yang dikarang oleh para ulama hampir tidak dapat dipahami oleh orang awam. Ketika seseorang membaca buku-buku tersebut, ia merasa tidak sedang mempelajari hal baru tentang bahasa yang digunakannya sehari-hari. Akibatnya, ia merasa tidak senang dan enggan melanjutkan.
Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Ilmu nahwu, bahkan bagi para spesialisnya sekalipun, membutuhkan usaha ekstra untuk menguasainya. Tujuan nahwu adalah bahasa nahwu itu sendiri, bukan bahasa penutur sehari-hari. Para sarjana klasik bahkan menggunakan nahwu sebagai contoh sulitnya "berbicara tentang bahasa".
---
Kesaksian Abu Hayyan al-Tauhidi: Ketika Bahasa Berbicara tentang Dirinya Sendiri
Pada bagian malam ke-25 dalam kitab الإمتاع والمؤانسة, seorang menteri dari kerajaan Buwaihi meminta Abu Hayyan al-Tauhidi untuk menjelaskan tingkatan puisi dan prosa. Jawaban Abu Hayyan sangat menarik. Ia mengatakan bahwa "Berbicara tentang bahasa itu sulit karena ia hanya berputar pada dirinya sendiri— Berputar-putar di situ saja. Inilah sebabnya mengapa nahwu terasa rumit dan sulit.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Abu Hayyan telah menyadari perbedaan antara ilmu pengetahuan dan subjeknya sebagaimana para sarjana kontemporer. Maksud saya, keresahan ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum konsep tersebut dirumuskan secara baku. Para pemikir klasik telah merasakan kegelisahan ini, meskipun mereka belum memiliki istilah untuk menjelaskannya.
Dalam kitab yang sama, Abu Hayyan meriwayatkan sebuah kisah yang sangat terkenal:
وقف أعرابي على مجلس الأخفش فسمعهم يتكلمون في النحو فجعل يتعجب ويطأطئ رأسه ويقول: سبحان الله! أراهم يتكلمون بكلامنا، وليس مما نتكلم به في شيء
Waqafa a'rābiyyun 'alā majlisil Akhfasy fa sami'ahum yatakallamūna fin nahwi faja'ala yata'ajjabu wa yathāthi'u ra'sahū wa yaqūlu: subhānallāh! arāhum yatakallamūna bi kalāminā, wa laisa mimmā natakallamu bihī fī syai'
"Seorang Arab badui berdiri di majelis al-Akhfash dan mendengar orang-orang yang ada di sana membicarakan nahwu. Ia merasa heran, menundukkan kepala, dan berkata, 'Subhanallah! Aku lihat orang-orang berbicara dengan bahasa kami, tetapi yang mereka bicarakan bukan tentang bahasa kami.'"
Kisah ini, baik nyata maupun sekadar ilustrasi, mengandung kebenaran mendalam. Ada perbedaan antara bahasa dengan pembicaraan tentang bahasa. Orang badui itu fasih berbahasa Arab, tetapi apa yang didengarnya di majelis al-Akhfash adalah sesuatu yang sama sekali asing baginya, meskipun menggunakan kosakata yang ia kenal.
---
Al-Jabiri dan Kritik atas Formatasi Nahwu
Muhammad Abed al-Jabiri, seorang pemikir besar asal Maroko, menggunakan perkataan orang badui tersebut untuk mengkritik tata bahasa Arab yang penuh dengan qawalib (format-format baku) yang digeneralisasi dan dipaksakan oleh para ahli nahwu sebagai kaidah. Menurut al-Jabiri, hal ini telah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa buatan yang bersifat ganda .
Di satu sisi, ada bahasa asli penutur dan perawi. Di sisi lain, ada bahasa buatan para linguis dan ahli nahwu. Bahasa Arab kemudian menggambarkan realitas badui yang "miskin" ke dalam format baku yang memiliki nada musikal. Akibatnya, yang terjadi kemudian adalah telinga menggantikan akal untuk menerima atau menolak sebuah ucapan. Dalam bahasa Arab, telingalah yang menjadi penilai, bukan akal.
Sulit memang memahami pemikir sekaliber al-Jabiri. Namun pernyataan orang badui itu benar adanya. Ada perbedaan fundamental antara bahasa dengan pembicaraan tentang bahasa. Abu Hayyan sendiri, sebelum mengutip kisah badui di atas, telah mengakui bahwa berbicara tentang bahasa itu sulit karena ia tidak beranjak ke mana-mana. Ia hanya berputar di sekitar dirinya sendiri. Itulah nahwu.
Perbedaan antara berbahasa dengan berbicara tentang bahasa adalah perbedaan antara orang badui dengan ahli nahwu. Orang badui berbahasa, sementara para ahli nahwu berbicara tentang bahasa orang badui. Jika si badui dalam kisah di atas menyebut perkataan ahli nahwu demikian, maka kita bisa mengatakan bahwa gagasan tentang perbedaan antara nahwu sebagai ilmu dan bahasa sebagai subjeknya telah ada jauh sebelum pemikiran modern memperjelas distingsi ini.
Sayangnya, kesadaran tersebut dalam wacana linguistik Arab hanya sebatas sebagai observasi, tanpa ada tindak lanjut yang dapat menandai historisitasnya sebagai konsep tentang hakikat ilmu pengetahuan.
---
Naluri Arab dan Kecerdasan Ahli Nahwu
Kesadaran terhadap perbedaan antara ilmu dan subjeknya ini membuat orang Arab menggambarkan nahwu sebagai sesuatu yang asing ('ajam). Seorang linguis pernah berkata:
نحو العرب غريزة، ونحونا ذكاء
Naḥwul 'Arabi gharīzah, wa naḥwunā dzakā'
"Nahwunya orang Arab adalah naluri, sementara nahwu kita (para ahli) adalah kecerdasan."
Jika kita memahami naluri orang Arab sebagai pengetahuan tentang kemampuan (knowledge-how), di mana orang Arab tahu cara berbahasa secara alami, sementara kecerdasan ahli nahwu kita pahami sebagai pengetahuan hipotetis (knowledge-that) yang bersifat asumtif tentang praktik bahasa, maka kita akan menyadari sepenuhnya bahwa keduanya berbeda.
Pengetahuan hipotetis sama sekali berbeda dengan pengetahuan kemampuan. Yang pertama membutuhkan kemampuan intelektual yang lebih tinggi daripada yang kedua. Hegel, seorang filsuf besar Jerman, pernah menyebut bahwa semua hal bertambah jauh dari kondisi sebenarnya. Pemikiran selalu lebih dari sekadar subjeknya. Ia tidak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, tetapi melihat melalui kemungkinan-kemungkinan latennya.
Memikirkan sesuatu sebagaimana adanya merupakan distorsi dan falsifikasi terhadap objek yang dipikirkan. Sebab, realitas sesuatu berbeda dengan berpikir tentang realitas tersebut. Bahasa pikiran selalu lebih kompleks daripada bahasa realitas.
Dengan latar belakang ini, kita dapat menemukan hubungan antara nahwu teoretis dengan bahasa praktis: Nahwu mematahkan kendali realitas atas pikiran. Nahwu berbicara tentang bahasa dengan bahasa yang tidak digunakan oleh penuturnya.
---
Terminologi: Keniscayaan dalam Ilmu Pengetahuan
Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan sarkasme orang badui di atas dengan mudah. Kita harus sadar bahwa ilmu nahwu, seperti halnya ilmu-ilmu yang lain, membutuhkan istilah-istilah (terminologi). Bagaimana mungkin sebuah sistem bahasa dirumuskan tanpa menciptakan term-term baru?
Alih-alih melalui kemiripan nahwu dengan bahasa, nahwu justru dapat menjadi bidang penelitian melalui kontradiksinya dengan subjek studinya—bahasa. Bahasa sehari-hari tidak memiliki kata yang tepat untuk menunjukkan bidang penerapannya sendiri. Maka mau tidak mau, para perumus nahwu harus mencari kata-kata yang mulanya tidak ada dalam praktik sehari-hari.
Contoh paling sederhana adalah kata فعل (fi'il). Dalam praktik sehari-hari, kata ini berarti "mengerjakan" atau "membuat sesuatu". Tetapi dalam nahwu, fi'il menjadi istilah teknis yang berarti "kata kerja", sebuah konsep yang sama sekali berbeda.
Sibawaih adalah tokoh yang merumuskan sebagian besar istilah dalam nahwu . Ia adalah seorang ahli nahwu keturunan Persia yang kitabnya, الكتاب, dianggap sebagai "Al-Qur'an-nya ilmu nahwu" . Istilah-istilah yang ia ciptakan kemudian semakin diperkaya dan diperluas seiring perkembangan pemikiran nahwu.
Namun menariknya, meskipun Sibawaih menunjukkan kemampuannya menciptakan istilah, ia sendiri tidak terlalu tertarik untuk "menguasai" istilah-istilah tersebut dalam pengertian yang kaku. Yang ia lakukan adalah merumuskan konsep, bukan mendiktekan terminologi.
Saya tidak yakin upaya Sibawaih dalam menyusun konsep nahwu dapat dipelajari secara sederhana. Istilah-istilah yang diciptakannya tidak hanya lahir, tetapi beberapa di antaranya mungkin juga mati dan hilang dari peredaran. Hal itu dilakukan untuk memberi jalan bagi istilah-istilah lain sebagai tren baru dalam studi nahwu. Walau demikian, sebagian besar istilah Sibawaih masih relevan hingga sekarang.
Ada banyak kamus istilah nahwu, dan saya telah menelusuri beberapa di antaranya. Sepenelusuran saya, penyebutan istilah tanpa disertai sumber teks secara utuh hanya akan mengurangi signifikansinya. Sebagai contoh, kamus-kamus tersebut berbicara tentang kata yang dipakai Sibawaih sebagai istilah, tetapi tidak mengutip teks Sibawaih secara langsung. Terlebih lagi, penelusuran historis terhadap sebuah kata hingga terbentuknya menjadi istilah, lalu pemikiran tentangnya, dan perbandingannya dengan teks lain, sangat jarang dilakukan—untuk tidak mengatakan tidak pernah.
Saya tidak tahu apakah ada kamus semacam itu, tapi saya kira kamus yang mencakup tiga dimensi berikut layak untuk disusun:
1. Dimensi historis – tahapan perkembangan istilah.
2. Dimensi struktural – hubungannya dengan konsep lain.
3. Dimensi problematis – perubahan konsep.
---
Gerakan Pembaruan Nahwu: Antara Tajdid dan Taisir
Setelah Syauqi Dhaif mentahqiq dan menerbitkan karya Ibnu Mada' yang berjudul الرد على النحاة, sebuah gerakan baru dimulai. Dhaif menginisiasi gerakan itu sendiri dan mulai mengkritik nahwu setelah ia membaca pemikiran Ibnu Mada' yang membuang teori 'amil, beberapa illat nahwu, dan qiyas dalam nahwu .
Gerakan ini muncul dengan satu tajuk tetapi formula yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya تجديد النحو (pembaruan nahwu), ada pula yang menyebut تيسير النحو (penyederhanaan nahwu). Dengan demikian, kita kembali lagi pada perasaan orang badui yang telah kita bahas di atas.
Pembacaan kritis kita atas kisah orang badui—baik nyata maupun fiktif—membuat kita fokus pada pernyataan yang ia ucapkan, bukan pada si badui itu sendiri. Hal ini menampakkan kesadaran akan perbedaan antara صفة اللغة (deskripsi bahasa) dengan لغة موصوفة (bahasa yang dideskripsikan).
Kesadaran ini ternyata masih lemah di kalangan penyeru pembaruan nahwu. Mereka menginginkan reformasi bahasa, termasuk dengan cara menghapus teori 'amil. Namun pertanyaannya: apa salah nahwu hingga mereka menuntut adanya penyederhanaan atau pembaruan?
Dalam pandangan saya, masalahnya sebenarnya ada pada konsep (mafhum) nahwu, bukan pada pemikiran nahwu teoretis seperti teori 'amil. Ada kalanya—dan masih terus terjadi—studi nahwu berubah menjadi upaya reformasi bahasa. Ambil contoh sebuah karya penting dan berpengaruh dalam sejarah nahwu, yaitu الخصائص karya Ibnu Jinni. Meskipun banyak membahas karakteristik bahasa Arab, karya tersebut sebenarnya tidak membahas aspek teoretis nahwu secara mendalam .
Meskipun isu-isu yang dibahas secara ilmiah oleh Ibnu Jinni didasarkan pada pemikiran teoretis nahwu, namun pemikiran tersebut belumlah jelas. Di awal kitabnya, Ibnu Jinni membahas perbedaan antara كلام (ujaran) dan قول (ucapan). Setelah itu, ia membahas tiga bab lagi tentang tiga terminologi: bahasa, nahwu, dan i'rab.
Hal ini menunjukkan kesadaran yang lebih maju tentang pembedaan konsep-konsep dibandingkan dengan tahap sejarahnya. Akan tetapi, Ibnu Jinni membayangkan bahwa nahwu sebagai pemikiran teoretis bertujuan untuk menjadikan mereka yang bukan penutur asli bahasa Arab sama fasihnya dengan penutur asli, sehingga mereka dapat mengucapkannya meskipun bukan native speaker.
Kitab الخصائص memang diperuntukkan membahas teka-teki nahwu yang rumit. Hal ini dapat kita lihat dari tujuan yang ditulis sendiri oleh Ibnu Jinni: "untuk menetapkan prinsip dasar, menyempurnakan pondasinya, untuk mengingatkan pada kemuliaan bahasa ini, dan untuk mengoreksi sumber-sumbernya, dan dengannya terungkaplah rahasianya."
Tujuan tersebut memang menggoda, menggairahkan, dan menyenangkan. Bab yang ia khususkan membahas illat adalah bab yang menyenangkan tentang teka-teki bahasa. Begitu pula dengan bab-bab lainnya. Tetapi, mencampurkan analisis teoretis atas nahwu dengan aktivitas interpretatif justru menghilangkan maknanya.
Yang ingin kami sampaikan adalah: ada alasan nyata di balik sikap skeptis terhadap nahwu, namun ada alasan juga untuk kita berpegang teguh padanya. Nahwu akan bermanfaat setelah kita terbiasa dengan bahasanya. Saya menekankan keterbiasaan ini karena alasan penting: istilah yang dipakai Sibawaih dan Ibnu Jinni tidaklah familiar, dan butuh waktu bagi seorang pembaca untuk terbiasa dengannya.
Dengan demikian, seseorang perlu usaha ekstra agar akrab dengan bahasa nahwu. Hal ini tidak aneh untuk bahasa yang digunakan dalam turats dengan bidang yang beragam. Kita perlu akrab dengan bahasa yang digunakan al-Farabi dalam karyanya, begitu juga dengan al-Ma'arri, atau Ibnu Hazm dalam الملل والنحل, atau dalam karya dengan tingkat bahasa yang berbeda seperti طوق الحمامة.
---
Dialog al-Jahiz dan al-Akhfash: Rahasia di Balik Kesulitan Nahwu
Al-Jahiz, dalam magnum opus-nya الحيوان, bercerita bahwa ia berkata kepada al-Akhfash:
أنت أعلم الناس بالنحو، فلم لا تجعل كتبك كلها سهلاً؟ لم لا نفهم إلا قليلاً منها، وأكثرها لا نفهمه؟ لم تقدم الصعب وتؤخر السهل؟
Anta a'lamun nāsi bin naḥwi, fa limā lā taj'alu kutubaka kullahā sahlan? Limā lā nafhamu illā qalīlan minhā, wa aktsaruhā lā nafhamuhū? Limā tuqaddimuṣ ṣa'ba wa tu'akhkhirus sahla?
"Kamu adalah orang yang paling tahu nahwu, tapi kenapa kamu tidak membuat semua kitabmu mudah dipahami? Mengapa kami hanya dapat memahami sebagian kecilnya, sementara sebagian besarnya tidak? Mengapa kamu mendahulukan bagian sulit dan mengakhirkan bagian mudahnya?"
Al-Akhfash menjawab dengan jawaban yang sangat jujur dan menarik:
ما كتبت تلك الكتب لله، ولا في الدين. لو كتبت كما تعلمني، لم يحتج الناس إلي. أريد أن يرغبوا فيها، فكتبت بعضها سهلاً ليفهموا، فيجدوا حلاوة ما فهموا، فيطلبوا ما لم يفهموا، وقد نلت مرادي وذهبت لذلك
Mā katabtu tilkal kutuba lillāh, wa lā fid dīn. Lau katabtu kamā tu'allimunī, lam yaḥtaji an-nāsu ilayya. Urīdu an yarghabū fīhā, fa katabtu ba'dhahā sahlan li yafhamū, fa yajidū ḥalāwata mā fahamū, fa yaṭlubū mā lam yafhamū, wa qad niltu murādī wa dzahabtu li dzālika
"Aku tidak menulis kitab-kitab itu untuk Allah, tidak pula tentang agama. Jika aku menulis seperti yang kau ajarkan (dengan sederhana), maka orang tidak akan membutuhkanku. Tujuanku adalah agar mereka menginginkannya. Maka kutulis sebagiannya dengan sederhana agar mudah dipahami, sehingga mereka merasakan manisnya apa yang mereka pahami dan terdorong untuk mencari tahu apa yang belum mereka pahami. Dan aku telah mendapatkan tujuanku dengan cara itu."
Para penyeru pembaruan dan penyederhanaan nahwu sering merujuk dialog antara al-Jahiz dan al-Akhfash ini sebagai bukti kesulitan dan ambiguitas nahwu. Namun bagi yang mengamati dengan cermat, dialog ini justru menunjukkan salah satu ciri identik nahwu: bahwa nahwu adalah hasil eksplorasi manusia. Ia adalah ilmu materialistis (duniawi), dan kitab-kitabnya pun bersifat materialis.
Implikasi terpenting dari amatan tersebut adalah bahwa apa yang diketahui oleh ahli nahwu tentang nahwu tidaklah definitif. Pengetahuan tersebut dapat berubah, dan ia tidak lebih dari sekadar interpretasi atas sistem bahasa Arab. Khalil ibn Ahmad menyadari hal ini ketika ia melihat i'tilal (alasan di balik gramatika) bahasa Arab sebagai konsep sementara. Oleh sebab itu, ia berkata:
لو أن أحداً أتى بعلة أقوى مما أتيت به لتركته وذهبت إليه
Lau anna aḥadan atā bi 'illatin aqwā mimmā ataytu bihī la taraktuhū wa dzahabtu ilaih
"Jika ada orang lain yang memiliki illat yang lebih kuat daripada yang kumiliki, aku akan meninggalkan pendapatku dan mengikuti pendapatnya."
Dalam analisis akhir, pemikiran nahwu Khalil dan Sibawaih adalah pengetahuan yang dihasilkan dari pemikiran mereka sendiri: pengalaman, pendapat, bias, kecenderungan, arah, dan ide. Semua itu berfungsi sebagai rujukan bagi mereka yang membayangkannya sebagai sistem bahasa Arab yang sebenarnya. Oleh sebab itu, nahwu yang dibuat Khalil, Sibawaih, maupun sarjana lainnya, merupakan hipotesis dan persepsi mereka. Ia bukan nahwu secara mutlak, melainkan pandangan spekulatif mereka.
---
Praktik Sosial Nahwu di Masa Lalu
Dialog antara al-Jahiz dan al-Akhfash di atas juga mengacu pada praktik sosial nahwu pada masanya. Nahwu, sebagaimana disebut al-Akhfash, merupakan ilmu yang istimewa—sampai-sampai orang-orang menghabiskan harta untuk mempelajarinya atau membeli buku-buku nahwu.
Ketika seseorang mempelajari nahwu, dalam persepsi umum masyarakat, ia akan mendapatkan otoritas berbicara dalam tingkat bahasa yang paling tinggi. Ada yang bisa berbicara dalam tingkat tersebut, ada pula yang tidak. Ada yang tahu cara berbicara, ada yang tidak. Hal ini selalu dianggap lebih baik bagi mereka yang menguasai nahwu, karena mendatangkan kelas sosial yang lebih tinggi.
Pintu menuju kelas sosial yang lebih tinggi selalu tertutup bagi mereka yang tidak tahu nahwu. Ia terbuka bagi orang yang menguasainya; baik sebagai guru untuk anak-anak para bangsawan agar dapat mengatur ucapan mereka, atau sebagai penulis untuk para klien, atau sebagai penasihat bahasa bagi para pemimpin.
---
Antara Kesulitan dan Kebutuhan
Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa problem nahwu sebenarnya bukan terletak pada ilmunya, tetapi pada cara kita mempelajari dan mengajarkannya. Nahwu memang rumit karena ia berbicara tentang bahasa dengan menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa sehari-hari. Ia membutuhkan istilah-istilah teknis yang tidak familiar, dan memerlukan waktu untuk membiasakan diri dengannya.
Namun di sisi lain, nahwu adalah kebutuhan. Tanpa nahwu, kita tidak akan mampu memahami kitabullah dan sunnah Rasul-Nya dengan pemahaman yang benar . Tanpa nahwu, kita akan kesulitan membaca kitab-kitab klasik yang menjadi khazanah keilmuan Islam .
Maka sikap terbaik adalah tidak terjebak dalam dua ekstrem: membenci nahwu karena kerumitannya, atau memutlakkan nahwu sebagai satu-satunya cara memahami bahasa Arab. Yang diperlukan adalah keseimbangan: kesadaran bahwa nahwu adalah alat, bukan tujuan, dan bahwa tujuan akhir dari mempelajari bahasa Arab adalah untuk memahami pesan Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk menguasai teori-teori gramatika semata.
Dalam bagian selanjutnya, insya Allah kita akan membahas lebih jauh tentang gerakan pembaruan nahwu, kritik atasnya, dan bagaimana kita seharusnya menyikapi perkembangan ini.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan