Sejarah Dan Keutamaan Puasa Asyura
Ibadah Agung yang Mengikuti Jejak Para Nabi.
Hari yang Dinanti Sepanjang Tahun.
Di antara hari-hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, hari ‘Asyura—tanggal 10 Muharram—menempati posisi yang sangat mulia. Ia adalah hari yang dinanti, bukan karena mitos atau tradisi turun-temurun, tetapi karena sejarah panjang yang menyertainya dan keutamaan besar yang dijanjikan oleh Rasulullah. Puasa di hari ini menjadi salah satu amalan yang paling dianjurkan setelah puasa Ramadhan, menyimpan cerita tentang keselamatan, syukur, dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Tulisan ini akan mengupas tuntas sejarah pensyariatan puasa ‘Asyura, fase-fase yang dilalui oleh Rasulullah dalam mengamalkannya, serta keutamaan-keutamaan agung yang terkandung di dalamnya, berdasarkan dalil-dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan hadits.
---
Definisi ‘Asyura: Hari Kesepuluh yang Penuh Makna
Secara bahasa, ‘Asyura (عاشوراء) berarti hari kesepuluh. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan hari ‘Asyura dalam syariat adalah tanggal 10 bulan Muharram. Dalam berbagai literatur fiqih, disebutkan bahwa hari ini adalah hari yang sangat istimewa, baik dari sisi sejarah maupun keutamaan ibadah.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (8/12) menjelaskan bahwa nama ‘Asyura telah dikenal sejak masa jahiliah, dan Islam datang untuk mengukuhkan kemuliaannya dengan ibadah puasa. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (4/671) juga menegaskan bahwa keistimewaan hari ini telah diakui oleh berbagai kalangan, bahkan sebelum kenabian Muhammad.
---
Latar Belakang Historis: Ketika Nabi Musa Bersyukur
Peristiwa paling monumental yang terkait dengan hari ‘Asyura adalah penyelamatan Nabi Musa ‘alaihis salam dan Bani Israil dari kejaran Fir‘aun. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فراى اليهود يصومون عاشوراء فقال ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بني اسرائيل من عدوهم فصامه موسى فقال انا احق بموسى منكم فصامه وامر بصيامه
Qadima an-nabiyyu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama al-madīnata fa ra’ā al-yahūda yaṣūmūna ‘āsyūrā’a fa qāla mā hādzā? Qālū hādzā yaumun ṣāliḥun, hādzā yauman najjā allāhu banī isrā’īla min ‘aduwwihim fa ṣāmahū mūsā. Fa qāla ana aḥaqqu bi mūsā minkum, fa ṣāmahū wa amara bi ṣiyāmihī
“Nabi tiba di Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asyura. Nabi bertanya, ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya. Maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami pun ikut berpuasa.’ Nabi berkata, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Bukhari, no. 2004; Muslim, no. 1130)
Riwayat ini menunjukkan bahwa puasa ‘Asyura telah menjadi tradisi para nabi sebelumnya, dan Islam datang untuk melanjutkan serta menyempurnakannya.
---
Empat Fase Pensyariatan Puasa ‘Asyura
Dalam perjalanannya, pensyariatan puasa ‘Asyura mengalami beberapa fase. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha’iful Ma‘arif (hal. 102-107) merincinya menjadi empat fase penting:
Fase Pertama: Puasa di Makkah Sebelum Hijrah
Pada masa awal kenabian di Makkah, Rasulullah sudah terbiasa berpuasa ‘Asyura, namun belum memerintahkan umat secara luas. Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
كانت قريش تصوم عاشوراء في الجاهلية وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصومه في الجاهلية فلما قدم المدينة صامه وامر بصيامه فلما فرض رمضان قال من شاء صامه ومن شاء تركه
Kānat quraisyun taṣūmu ‘āsyūrā’a fī al-jāhiliyyah, wa kāna rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yaṣūmuhū fī al-jāhiliyyah. Fa lammā qadima al-madīnata ṣāmahū wa amara bi ṣiyāmihī. Fa lammā furiḍa ramaḍānu qāla: man syā’a ṣāmahū wa man syā’a tarakahū
“Dahulu orang Quraisy berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliah. Dan Nabi pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata, ‘Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa juga tidak mengapa.’” (HR. Bukhari, no. 2002; Muslim, no. 1125)
Fase Kedua: Perintah Puasa Setelah Hijrah
Setelah tiba di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi juga berpuasa ‘Asyura, Rasulullah semakin menguatkan perintahnya. Beliau sangat menganjurkan puasa ini hingga para sahabat melatih anak-anak mereka untuk berpuasa. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap ibadah ini.
Fase Ketiga: Setelah Diwajibkannya Puasa Ramadhan
Ketika puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, puasa ‘Asyura berubah status menjadi sunnah, tidak lagi wajib. Rasulullah membebaskan para sahabat untuk memilih: berpuasa atau tidak. Para ulama telah sepakat bahwa puasa ‘Asyura saat ini hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib.
Fase Keempat: Niat Membedakan dengan Yahudi
Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah bertekad untuk tidak hanya berpuasa pada tanggal 10, tetapi juga menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu‘a) agar berbeda dengan kebiasaan Yahudi. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
لما صام رسول الله صلى الله عليه وسلم عاشوراء وامر بصيامه قالوا يا رسول الله انه يوم تعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فاذا كان العام القابل ان شاء الله صمنا اليوم التاسع قال فلم يأت العام القابل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
Lammā ṣāma rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama ‘āsyūrā’a wa amara bi ṣiyāmihī, qālū yā rasūlallāhi innahū yaumun tu‘aẓẓimuhū al-yahūdu wa an-naṣārā. Fa qāla rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama: fa idzā kāna al-‘āmu al-qābilu insyā’allāhu ṣimnā al-yauma at-tāsi‘a. Qāla: fa lam ya’ti al-‘āmu al-qābilu ḥattā tuwuffiya rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama
“Ketika Rasulullah berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, tahun depan, insya Allah, kita puasa bersama tanggal sembilannya juga.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.’” (HR. Muslim, no. 1134)
---
Keutamaan Puasa ‘Asyura: Lima Hal yang Perlu Diketahui
Puasa ‘Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Imam al-‘Izz bin Abdissalam rahimahullah dalam Qawa‘id al-Ahkam (1/38) menjelaskan bahwa keutamaan waktu dalam agama adalah bentuk kemurahan Allah kepada hamba-Nya dengan melipatgandakan pahala bagi yang beramal.
Berikut adalah keutamaan-keutamaan puasa ‘Asyura:
1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Rasulullah bersabda:
صيام يوم عاشوراء اني احتسب على الله ان يكفر السنة التي قبله
Ṣiyāmu yaumi ‘āsyūrā’a innī aḥtasibu ‘alallāhi an yukaffira as-sanata allatī qablahū
“Puasa ‘Asyura, aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab (6/279) menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, tetap memerlukan taubat khusus. Namun demikian, keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai puasa ‘Asyura di sisi Allah.
2. Perhatian Khusus Rasulullah
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
ما رايت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضله على غيره الا هذا اليوم يوم عاشوراء وهذا الشهر شهر رمضان
Mā ra’aitu an-nabiyya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yataḥarrā ṣiyāma yaumin faḍlihī ‘alā ghairihī illā hādza al-yaumu yaumu ‘āsyūrā’a wa hādza asy-syahru syahru ramaḍāna
“Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini—hari ‘Asyura—dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 2006; Muslim, no. 1132)
Ini menunjukkan bahwa di antara seluruh puasa sunnah, ‘Asyura adalah yang paling diperhatikan oleh Rasulullah.
3. Meneladani Syukur Para Nabi
Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas, puasa ‘Asyura adalah bentuk syukur Nabi Musa atas keselamatan dari Fir‘aun. Dengan mengamalkannya, kita meneladani para nabi dan menyambung tradisi syukur yang telah ada sejak lama.
4. Pernah Menjadi Ibadah Wajib
Sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura pernah menjadi kewajiban. Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ibadah ini di awal Islam. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
ان رسول الله صلى الله عليه وسلم صام عاشوراء وامر بصيامه فلما فرض رمضان ترك
Anna rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama ṣāma ‘āsyūrā’a wa amara bi ṣiyāmihī, fa lammā furiḍa ramaḍānu turika
“Sesungguhnya Rasulullah berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan (statusnya menjadi sunnah).” (HR. Bukhari, no. 1892; Muslim, no. 1126)
5. Bertepatan dengan Bulan Haram
Puasa ‘Asyura jatuh pada bulan Muharram, yaitu bulan yang disebut oleh Rasulullah sebagai شهر الله (Syahrullah). Rasulullah bersabda:
افضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Afḍalu aṣ-ṣiyāmi ba‘da ramaḍāna syahru allāhi al-muḥarramu
“Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)
Dengan demikian, puasa ‘Asyura adalah puncak dari puasa di bulan yang sangat dimuliakan.
---
Kesimpulan: Meraih Keutamaan dengan Mengikuti Sunnah
Puasa ‘Asyura adalah warisan agung dari para nabi yang dilestarikan oleh Rasulullah. Ia memiliki sejarah panjang, mulai dari syukur Nabi Musa hingga fase-fase pensyariatan yang dilalui oleh Rasulullah. Keutamaannya sangat besar: menghapus dosa setahun yang lalu, menjadi puasa yang paling diperhatikan setelah Ramadhan, dan menjadi ibadah yang pernah diwajibkan.
Kita dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, atau setidaknya tanggal 10 saja. Dan yang terpenting, luruskan niat karena Allah semata, bukan karena mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk mengamalkan sunnah ini dan meraih keutamaan yang dijanjikan.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan