Suraqah bin Malik: Dari Pemburu Hadiah Menjadi Pemburu Surga
Ketika Seratus Unta Merah Mengubah Sejarah.
Di tengah panasnya padang pasir Arabia, sebuah peristiwa besar sedang terjadi. Rasulullah bersama Abu Bakar meninggalkan Makkah menuju Madinah, meninggalkan kaumnya yang telah berencana membunuh beliau. Di sisi lain, para pembesar Quraisy berkumpul di rumah Abu Jahal, mengumumkan sayembara yang menggiurkan: seratus ekor unta merah—jenis unta terbaik dan termahal di kalangan Arab—bagi siapa pun yang berhasil menangkap Rasulullah, hidup atau mati.
Sayembara ini bukan main-main. Seratus unta merah adalah kekayaan yang bisa mengubah kehidupan seorang badui miskin menjadi kaya raya dalam sekejap. Tak heran jika banyak orang tergiur, termasuk seorang penunggang kuda handal dari Bani Mudlij bernama Suraqah bin Malik. Ia adalah seorang yang dikenal sebagai ahli mencari jejak dan penunggang kuda terbaik di kaumnya.
Namun takdir berkata lain. Perjalanan mengejar Rasulullah berubah menjadi perjalanan spiritual yang mengantarkan Suraqah pada pintu hidayah. Kisahnya menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa Allah melindungi kekasih-Nya, dan bahwa hidayah bisa datang kepada siapa pun, bahkan kepada seorang pemburu hadiah yang berniat jahat sekalipun.
Kisah ini diriwayatkan secara panjang lebar dalam Shahih Bukhari dan kitab-kitab sirah lainnya. Mari kita telusuri bersama peristiwa agung yang mengubah hidup Suraqah bin Malik selamanya.
---
Latar Belakang: Siapa Suraqah bin Malik?
Sebelum masuk Islam, Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji adalah salah seorang tokoh terpandang di kalangan Bani Kinanah. Ia berasal dari kabilah Bani Mudlij, sebuah sub-suku dari Kinanah yang terkenal dengan keahliannya dalam membaca jejak di padang pasir. Keahlian ini membuatnya menjadi pemburu alami—ia bisa melacak jejak kafilah atau buronan dengan akurasi tinggi.
Dalam struktur sosial Arab saat itu, Suraqah memiliki kedudukan terhormat. Ia dikenal sebagai pemimpin yang dihormati, suka memberi makan orang-orang kelaparan, dan melindungi mereka yang meminta perlindungan. Namun kehormatan itu belum dibarengi dengan iman. Ia masih menyembah berhala seperti kebanyakan orang Quraisy.
Ketika sayembara seratus unta merah diumumkan, hati Suraqah tergiur. Ia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menggunakan keahliannya sekaligus meraih kekayaan besar. Dalam benaknya, tidak ada yang lebih mudah daripada melacak jejak tiga orang yang baru saja meninggalkan Makkah menuju Madinah.
---
Konspirasi di Darun Nadwah
Kisah ini bermula dari pertemuan para pembesar Quraisy di Darun Nadwah—tempat pertemuan resmi mereka. Mereka berkumpul di rumah Abu Jahal untuk membahas langkah terakhir menghadapi Muhammad yang akan segera hijrah ke Madinah.
Dalam pertemuan itu, Abu Jahal berdiri dan berkata dengan lantang:
"Siapa pun yang bisa membawa kembali Muhammad, hidup atau mati, jika mati penggal kepalanya dan bawa ke sini, maka akan kami beri hadiah seratus unta merah yang hitam legam."
Para hadirin saling berpandangan. Hadiah itu sangat besar. Tiba-tiba, seorang pemuda tampil ke depan.
"Akan kubawa dia kepadamu," kata Suraqah bin Malik dengan penuh percaya diri.
Abu Jahal dan orang-orang kafir Quraisy kemudian mengumpulkan uang dan memberikannya kepada Suraqah sebagai jaminan. Mereka percaya bahwa Suraqah, dengan keahliannya, pasti akan berhasil.
---
Tiga Kali Kejadian, Tiga Tingkat Kesadaran
Suraqah tidak ingin usahanya diketahui orang lain. Ia khawatir jika ada yang mendahuluinya. Ketika seorang lelaki datang ke majelis mereka dan melaporkan bahwa ia melihat tiga orang di tepi pantai yang diduga kuat adalah Muhammad, Abu Bakar, dan penunjuk jalan, Suraqah dengan cepat membantah.
"Itu bukan mereka. Itu adalah si fulan dan si fulan yang sedang mencari unta mereka yang hilang," katanya meyakinkan.
Orang-orang pun percaya. Mereka kembali asyik dengan pembicaraan lain. Namun diam-diam, Suraqah menyelinap pulang ke rumahnya. Ia memerintahkan pelayannya menyiapkan kuda terbaiknya dan membawanya ke lembah dengan sembunyi-sembunyi. Ia juga menyiapkan baju besi, pedang, dan tombak.
Dengan penuh semangat, Suraqah memacu kudanya mengejar jejak Rasulullah. Ia yakin kali ini hadiah seratus unta akan menjadi miliknya.
Kejadian Pertama: Ketika Bumi Berbicara
Setelah beberapa waktu berlari kencang, Suraqah berhasil mendekati rombongan Rasulullah. Ia bisa melihat bayangan tiga orang di kejauhan. Hatinya berdebar campur antara gembira dan tegang. Ia menghunus pedangnya, siap menyabetkan ke arah kepala Rasulullah begitu jaraknya cukup dekat.
Namun tiba-tiba, terjadi sesuatu yang di luar nalar. Bumi yang ada di depan kudanya retak dan menelan kaki depan kuda Suraqah hingga ke lutut. Kuda itu meronta-ronta, namun semakin kuat berontak, semakin kuat pula bumi mencengkeramnya. Suraqah terjatuh. Ia panik. Dengan susah payah ia menarik kaki kudanya. Anehnya, setelah beberapa saat, kaki kuda itu bisa keluar. Suraqah bangkit kembali, melompat ke atas kudanya, dan kembali memacu mengejar Rasulullah. Niat jahatnya belum sirna. Ia masih membayangkan seratus unta merah yang akan menjadi miliknya.
Kejadian Kedua: Tipu Daya yang Gagal Total
Kali ini Suraqah lebih berhati-hati. Ia mendekati Rasulullah dengan perlahan, berpura-pura tidak berniat jahat. Namun setelah jarak cukup dekat, ia kembali menghunus pedang. Sekali lagi bumi berbicara. Kali ini lebih dahsyat. Kaki kuda Suraqah terbenam lebih dalam, hingga ke perut. Kuda itu tak bisa bergerak sama sekali, hanya kepalanya yang masih bisa meronta-ronta. Suraqah terjatuh untuk kedua kalinya. Ia menatap Rasulullah dengan ketakutan. Kali ini ia sadar bahwa bukan kebetulan. Ada kekuatan gaib yang melindungi lelaki yang hendak ia bunuh itu.
"Wahai Muhammad! Aku menyerah! Aku menyerah. Kita berdamai," teriak Suraqah memohon.
Rasulullah yang sejak tadi tenang-tenang saja, kemudian berdoa kepada Allah. Seketika itu juga, kaki kuda Suraqah terlepas dari cengkeraman bumi. Ia bisa berdiri kembali. Rasulullah kemudian meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan.
Kejadian Ketiga: Ketika Kesadaran Lahir Sejati
Namun setan masih membisiki Suraqah. Begitu rasa takutnya mereda, ia kembali tergiur dengan hadiah seratus unta. Ia berpikir, mungkin saja dua kejadian tadi hanya kebetulan. Mungkin juga karena kudanya yang kurang fit. Ia kembali memacu kudanya untuk ketiga kalinya. Kali ini dengan tekad yang lebih kuat. Namun saat hampir mendekati Rasulullah, bumi kembali menelan kudanya. Kali ini lebih dalam lagi. Kuda itu nyaris tenggelam seluruhnya ke dalam tanah.
Suraqah benar-benar ketakutan. Ia sadar bahwa ini adalah peringatan dari kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya. Ia berlutut di hadapan Rasulullah, kali ini dengan tulus.
"Wahai Muhammad, kali ini aku benar-benar menyerah. Aku tak akan melakukannya lagi. Tolong lepaskan kudaku!" katanya dengan suara bergetar.
Rasulullah kembali berdoa, dan Allah membebaskan Suraqah beserta kudanya. Kali ini Suraqah tidak langsung pergi. Ia duduk berlutut di hadapan Rasulullah, menatap wajah beliau dengan penuh keheranan dan kekaguman.
---
Pertanyaan tentang Tuhan yang Mengubah Segalanya
Suraqah yang baru saja menyaksikan tiga kali mukjizat, hatinya mulai terbuka. Namun sebagai orang musyrik yang terbiasa menyembah berhala, ia memiliki pemahaman yang sangat materialistis tentang Tuhan. Berhala-berhalanya terbuat dari emas dan perak, berwujud dan bisa dilihat.
Maka ia pun bertanya dengan polosnya:
"Wahai Nabi, ceritakanlah kepadaku tentang Tuhanmu yang mampu membuatku begini. Terbuat dari apakah Dia? Apakah seperti Tuhanku yang terbuat dari emas atau perak?"
Pertanyaan ini mungkin terdengar naif bagi kita, namun itulah tingkat pemahaman tauhid orang Arab jahiliyah saat itu. Mereka membayangkan Tuhan juga memiliki wujud seperti berhala-berhala mereka.
Rasulullah menundukkan kepala, terdiam cukup lama. Beliau tidak menjawab dengan kemarahan atau ejekan. Beliau bersabar menunggu petunjuk dari Allah. Saat itulah Malaikat Jibril turun membawa wahyu.
---
Wahyu yang Menjawab Kegelisahan
Jibril berkata kepada Rasulullah:
"Katakan, wahai Muhammad: Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tak ada yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Kemudian Jibril juga membacakan firman Allah:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Fāṭirus-samāwāti wal-arḍ(i), ja‘ala lakum min anfusikum azwājaw wa minal-an‘āmi azwājā(n), yażra'ukum fīh(i), laisa kamiṡlihī syai'(un), wa huwas-samī‘ul-baṣīr(u).
"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menjadi jawaban sempurna atas pertanyaan Suraqah. Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Ia tidak terbuat dari emas atau perak. Ia adalah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "Laisa kamiṡlihī syai'un" adalah kaidah agung dalam memahami sifat-sifat Allah. Ayat ini menetapkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna, namun tidak ada satu makhluk pun yang menyerupai-Nya. Ia berbeda secara total dari semua ciptaan-Nya.
---
Saat Hidayah Menyentuh Hati
Mendengar penjelasan itu, hati Suraqah yang tadinya keras luluh seketika. Air mata mengalir di pipinya yang kasar. Ia baru menyadari betapa bodohnya ia selama ini menyembah batu dan kayu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Ia juga tersadar betapa agungnya Allah yang telah melindungi Rasul-Nya dengan cara yang begitu ajaib.
Dengan suara bergetar, Suraqah berkata:
"Tuntunlah aku masuk Islam, wahai Rasulullah."
Rasulullah kemudian membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Suraqah bin Malik resmi menjadi seorang muslim. Ia yang datang sebagai pemburu hadiah, pulang sebagai pemburu surga.
---
Janji Rasulullah yang Tertunaikan
Setelah masuk Islam, Suraqah tidak langsung ikut hijrah ke Madinah. Ia kembali ke Makkah atas izin Rasulullah. Dalam riwayat disebutkan bahwa ia meminta surat jaminan keamanan dari Rasulullah. Beliau menyuruh Amir bin Fuhairah menuliskan jaminan itu pada selembar kulit.
Rasulullah juga bersabda kepada Suraqah:
"Bagaimana perasaanmu jika kelak kamu memakai gelang Kisra (raja Persia) di kedua tanganmu?"
Suraqah tercengang. Ia yang baru saja masuk Islam, miskin dan tidak punya apa-apa, dijanjikan akan memakai gelang raja Persia? Ia menganggap itu hanya canda, namun ia tetap mengimaninya karena keluar dari mulut Rasul.
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab, kekaisaran Persia runtuh. Harta rampasan perang termasuk mahkota dan gelang Kisra dibawa ke Madinah. Umar memanggil Suraqah dan menyuruhnya memakai gelang itu. Barulah Suraqah teringat pada janji Rasulullah puluhan tahun silam. Ia menangis haru dan bersyukur atas kebenaran sabda Nabi.
---
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Suraqah
Allah Melindungi Kekasih-Nya
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga Rasul-Nya. Meskipun para musuh telah merencanakan pembunuhan, meskipun hadiah seratus unta telah diumumkan, tidak seorang pun mampu menyentuh Rasulullah karena Allah bersama beliau. Ini adalah implementasi dari firman Allah:
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
Wallāhu ya‘ṣimuka minan-nās
"Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia." (QS. Al-Ma'idah: 67)
Mukjizat Tidak Membutuhkan Kekerasan
Rasulullah tidak mengeluarkan senjata, tidak memukul, tidak melukai Suraqah. Beliau hanya berdoa, dan Allah yang bertindak. Ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang dengan cara yang lembut namun dahsyat.
Setiap Orang Berhak Mendapat Hidayah
Suraqah datang dengan niat jahat. Ia ingin membunuh Rasulullah. Namun setelah hidayah datang, ia menjadi muslim yang saleh. Bahkan kelak ia menjadi perawi hadits dan sahabat yang mulia. Ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, sebagus apa pun dosa seseorang.
Kejujuran dan Keadilan Rasulullah
Setelah Suraqah masuk Islam, Rasulullah tidak meminta kompensasi apa pun. Beliau bahkan menolak bekal yang ditawarkan Suraqah. Beliau hanya meminta Suraqah merahasiakan posisi mereka agar tidak diburu orang lain. Ini menunjukkan keadilan dan kejujuran Rasulullah dalam berdakwah.
Sabar dalam Menghadapi Musuh
Rasulullah tidak marah ketika Suraqah berkali-kali mengejar. Beliau tidak membalas dengan kebencian. Ketika Suraqah meminta pertolongan, beliau membantunya. Ketika Suraqah bertanya, beliau menjawab dengan sabar. Inilah akhlak mulia yang patut diteladani.
Janji Rasulullah Pasti Terealisasi
Janji Rasulullah kepada Suraqah tentang gelang Kisra menjadi kenyataan puluhan tahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa apa pun yang keluar dari lisan Rasul adalah kebenaran. Kita wajib mengimani semua sabdanya, meskipun tampak mustahil saat itu.
Pentingnya Memahami Siapa Allah
Pertanyaan Suraqah tentang Tuhan yang terbuat dari apa menunjukkan pentingnya pemahaman tauhid yang benar. Banyak orang salah dalam memahami Allah karena terpengaruh oleh konsep-konsep materialistis. Surat Al-Ikhlas dan Asy-Syura ayat 11 menjadi fondasi untuk meluruskan pemahaman itu.
---
Dari Pemburu Hadiah Menjadi Pemburu Surga
Suraqah bin Malik adalah contoh nyata bahwa hidayah bisa datang kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Ia yang awalnya tergiur hadiah seratus unta, akhirnya mendapatkan hadiah yang jauh lebih besar: iman dan surga.
Perjalanannya mengejar Rasulullah berubah menjadi perjalanan menuju Allah. Kuda yang ia pacu dengan penuh ambisi dunia, justru mengantarkannya pada pintu taubat. Tiga kali ia jatuh, tiga kali pula ia bangkit, hingga akhirnya ia benar-benar menyerah dan berserah diri.
Setelah masuk Islam, Suraqah menjadi salah satu perawi hadits. Dalam riwayat Bukhari, ia menceritakan langsung pengalamannya mengejar Rasulullah. Ia juga menjadi saksi bahwa janji Rasulullah tentang gelang Kisra benar-benar terjadi di masa Umar bin Khattab.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun. Bisa jadi orang yang saat ini paling memusuhi Islam, suatu saat menjadi pembela Islam yang paling gigih. Bisa jadi orang yang datang dengan niat jahat, pulang dengan membawa iman.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Suraqah bin Malik di surga kelak, dan semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan hidayah sebelum ajal menjemput.
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan