Zunairah: Sang Budak Perempuan yang Teguh di Atas Cahaya Tauhid (Bagian 1)
Cahaya yang Tak Bisa Dipadamkan.
Sejarah perjuangan Islam tidak hanya diwarnai oleh para pejuang perkasa di medan perang atau para saudagar kaya yang menginfakkan hartanya. Di balik gemerlap nama-nama besar, tersimpan kisah-kisah heroik dari kalangan yang lemah dan tertindas. Mereka adalah para budak dan hamba sahaya yang merasakan pedihnya siksaan hanya karena mengucapkan satu kalimat: "Allah Maha Esa."
Di antara mereka, ada seorang perempuan bernama Zunairah. Ia adalah budak milik Abu Jahal, salah seorang tokoh paling kejam dan paling memusuhi Islam. Namun dalam tubuh lemah seorang budak, tersimpan keberanian yang menggetarkan para pembesar Quraisy. Kisahnya menjadi bukti bahwa hidayah Allah tidak mengenal status sosial. Kebenaran akan selalu menemukan jalan ke dalam hati yang tulus, meskipun harus dibayar dengan derita fisik yang tak terbayangkan.
---
Zunairah: Budak Kesayangan yang Berubah Sikap
Abu Jahal—nama aslinya Amr bin Hisyam—adalah seorang pembesar Quraisy yang terkenal dengan kekayaan, pengaruh, dan kebenciannya yang luar biasa terhadap Islam. Ia memiliki seorang budak perempuan yang sangat cantik bernama Zunairah. Sebagai budak, Zunairah diperlakukan dengan baik oleh tuannya. Ia setia, penurut, dan selalu melayani dengan sepenuh hati. Abu Jahal sangat menyayangi dan bangga padanya.
Namun akhir-akhir ini, Abu Jahal mulai merasa heran. Zunairah yang biasanya ceria dan mudah diajak bercanda, tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Ia sering menyendiri, jauh dari keramaian. Tatapannya kosong, seolah sedang merenungkan sesuatu yang sangat dalam. Abu Jahal yang curiga mulai mengawasi setiap gerak-gerik budaknya itu.
Setelah menyelidiki, Abu Jahal mendapatkan fakta yang membuatnya murka bukan main. Ternyata Zunairah telah diam-diam memeluk agama baru yang dibawa oleh keponakannya sendiri, Muhammad bin Abdullah. Wanita itu telah menjadi pengikut Islam, agama yang sangat ia benci.
"Sungguh kurang ajar si Muhammad itu! Karena ulah si brengsek itu, budak perempuan kesayanganku telah terpikat oleh ajarannya!" teriak Abu Jahal dengan amarah yang meluap-luap.
Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Zunairah ke hadapannya.
---
Tawaran dan Ancaman di Hadapan Sang Tuan
Dengan langkah gemetar namun mata yang tajam, Zunairah dihadapkan kepada tuannya. Abu Jahal mencoba pendekatan halus terlebih dahulu. Ia menawarkan kebebasan dan harta yang melimpah jika Zunairah bersedia meninggalkan agama barunya. Namun Zunairah hanya diam, tidak sedikit pun hatinya tergerak oleh tawaran duniawi itu.
Melihat bujuk rayunya tidak mempan, darah Abu Jahal seakan mendidih. Matanya memerah, mulutnya terus menyumpah-nyumpah. Diambilnya sebuah cambuk, lalu dengan kasar ia membuka pakaian Zunairah. Tubuh putih bersih budak itu terhampar di hadapannya.
Cambuk berdesing. Satu demi satu sambaran keras mendarat di tubuh Zunairah. Darah mulai mengalir membasahi luka-luka yang menganga. Namun tidak satu pun rintihan keluar dari bibirnya. Zunairah hanya menggigit bibir, menahan sakit yang luar biasa. Dalam hati, ia terus menggumamkan kalimat yang menjadi kekuatannya.
Setelah tubuh Zunairah penuh dengan bilur-bilur merah kehitaman dan ia jatuh pingsan, penyiksaan dihentikan untuk sementara. Namun keesokan harinya, siksaan yang sama kembali diulangi. Abu Jahal terus memaksanya kembali ke agama nenek moyang.
"Kembali ke agama kita, agama peninggalan nenek moyang!" bentak Abu Jahal.
Dengan sisa tenaga, Zunairah menjawab lirih namun tegas:
"الله أحد"
Allāhu Ahad
"Allah Maha Esa."
Jawaban itu semakin memicu kemarahan Abu Jahal. "Hajar lagi budak tak tahu diuntung ini!" teriaknya kepada anak buahnya.
Cambuk kembali berdesingan. Namun setiap kali cambuk mendarat, Zunairah hanya bergumam,"الله أحد". Kalimat tauhid itu menjadi perisai yang melindungi jiwanya dari segala kepedihan dunia.
---
Di Hadapan Para Pemuka Quraisy
Abu Jahal tidak puas hanya menyiksa Zunairah sendirian. Ia ingin mempermalukan budaknya itu di hadapan para pembesar Quraisy. Suatu hari, ia mengundang para pemuka Quraisy dari kalangan musyrik untuk berkumpul. Zunairah kemudian dicampakkan di hadapan mereka.
Dengan nada mengejek dan penuh kebencian, Abu Jahal berteriak:
"Hai Zunairah, budak keparat! Benarkah kau tak mau mengubah pendirianmu dan terus mengikuti ajaran Muhammad yang celaka itu?"
Zunairah mengangkat kepalanya yang sudah lemah. Sorot matanya masih tajam meskipun kelopak matanya lebam dan membengkak. Dengan suara yang keluar dari bibir kering dan pecah-pecah, ia menjawab tegas:
"Benar. Aku tetap menjadi pengikut Muhammad! Aku percaya pada seruan dan kebenarannya. Aku tunduk dan patuh pada ajarannya."
Abu Jahal menengok kepada para pemuka Quraisy dengan senyum sinis. "Hai saudara-saudaraku penghulu Quraisy, apakah kalian percaya pada kebohongan yang diajarkan oleh Muhammad itu?"
"Tidak!" sahut mereka serentak. "Sampai kapan pun kami tak akan sudi mengikuti Muhammad, si pembohong besar itu!"
Abu Jahal tertawa licik, lalu berkata:
"Kami lebih tahu dan lebih pintar darimu, Zunairah. Kami jauh lebih mengerti yang benar dan yang salah. Seandainya semua yang diajarkan oleh Muhammad itu benar dan baik, tentu kami akan mengikutinya lebih dulu daripada kamu. Sebab dia adalah keponakanku sendiri. Ajarannya pun sudah disampaikan lebih dulu kepadaku sebelum disampaikan kepadamu. Maka dari itu, maukah kamu bertaubat serta kembali menyembah Lata dan Uzza?"
Zunairah hanya menjawab dengan satu kalimat yang sama:
"الله أحد"
Allāhu Ahad
"Allah Maha Esa."
---
Zunairah dan Para Budak yang Teguh
Zunairah bukan satu-satunya budak yang mendapat siksaan berat di jalan Allah. Dalam sejarah Islam, kita mengenal nama-nama seperti Bilal bin Rabah, Sumayyah binti Khayyat,dan keluarganya, Yasir dan Ammar. Mereka semua adalah para budak dan orang-orang lemah yang menjadi sasaran penyiksaan kaum Quraisy. Namun mereka tetap teguh, tidak goyah sedikit pun.
Dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Zunairah termasuk di antara budak-budak yang disiksa dengan sangat kejam. Abu Jahal dan para pemuka Quraisy lainnya tidak segan-segan menyiksa budak-budak mereka yang masuk Islam dengan harapan mereka akan murtad. Namun Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada hamba-hamba-Nya yang lemah secara fisik namun kuat secara spiritual .
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Zunairah, bersama dengan budak-budak lainnya seperti Nahdiyah, putrinya, dan Ummu 'Ubais, mengalami siksaan yang tak terperi. Mereka dipaksa berbaring di atas pasir yang terbakar matahari, dadanya ditindih dengan batu besar, namun mereka tetap mempertahankan iman .
---
Tafsir Keteguhan: Kekuatan dari Kalimat Tauhid
Mengapa Zunairah mampu bertahan di tengah siksaan yang begitu berat? Jawabannya sederhana: ia telah menemukan mutiara sejati yang selama ini dicarinya. Kalimat "الله أحد" bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi telah meresap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Ia menyadari bahwa Allah Yang Maha Esa adalah satu-satunya yang layak disembah, dan bahwa segala sesuatu selain-Nya—termasuk harta, kebebasan, bahkan nyawa—adalah fana.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Wa mā ūtītum min syai'in fa matā'ul ḥayātid dunyā wa zīnatuha, wa mā 'indallāhi khairun wa abqā, afalā ta'qilūn
"Dan apa pun yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al-Qashash: 60)
Ayat ini menjelaskan bahwa segala kenikmatan dunia—termasuk kebebasan yang dijanjikan Abu Jahal—hanyalah kesenangan sementara. Sedangkan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan abadi. Zunairah telah memahami hakikat ini dengan sempurna.
---
Hikmah dari Kisah Zunairah
1. Keimanan Sejati Tidak Mengenal Status
Zunairah adalah seorang budak, manusia yang paling rendah statusnya dalam struktur sosial jahiliyah. Namun imannya jauh lebih tinggi daripada para pembesar Quraisy yang sombong. Ini membuktikan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dari keturunan, harta, atau jabatan, tetapi dari ketakwaan.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Inna akramakum 'indallāhi atqākum
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
2. Kalimat Tauhid adalah Sumber Kekuatan
Di tengah siksaan yang pedih, Zunairah hanya mampu mengucapkan "الله أحد". Kalimat pendek itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia menjadi sumber keteguhan, penenang jiwa, dan perlawanan atas segala kebatilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Afḍaludz dzikri lā ilāha illallāh
"Zikir yang paling utama adalah 'Lā ilāha illallāh'." (HR. Tirmidzi)
3. Tipu Daya Penguasa Akan Sia-sia
Abu Jahal, dengan segala kekuasaan dan kekayaannya, tidak mampu mengalahkan seorang budak perempuan yang lemah. Semua siksaan, ancaman, dan tipu dayanya sia-sia. Allah menggambarkan hal ini dalam firman-Nya:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Inna kaidasy syaithāni kāna ḍa'īfā
"Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah." (QS. An-Nisa': 76)
Tipu daya setan dan para pengikutnya, termasuk Abu Jahal, pada hakikatnya lemah di hadapan kekuatan iman.
4. Kesabaran adalah Kunci Kemenangan
Zunairah tidak pernah melawan secara fisik. Ia hanya bersabar dan tetap teguh. Kesabaran inilah yang pada akhirnya menjadi senjata paling ampuh. Allah menjanjikan balasan yang luar biasa bagi orang-orang yang sabar:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Innamā yuwaffaṣ ṣābirūna ajrahum bighairi ḥisāb
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
5. Dakwah Membutuhkan Pengorbanan
Kisah Zunairah mengajarkan bahwa jalan dakwah tidak pernah mudah. Para sahabat rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawa demi mempertahankan iman. Zunairah adalah salah satu contoh terbaik bagaimana seorang muslimah rela menanggung derita demi keyakinannya.
---
Referensi Kitab
Kisah Zunairah tercatat dalam berbagai kitab sirah terpercaya. Di antaranya:
1. Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyyah (jilid 1, halaman 339-340) – menceritakan tentang penyiksaan terhadap budak-budak yang masuk Islam, termasuk Zunairah.
2. Ibnu Sa'd, Thabaqat al-Kubra (jilid 8, halaman 188) – menyebutkan Zunairah sebagai salah satu muslimah awal yang mendapat siksaan.
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah (jilid 3, halaman 81) – mengisahkan keteguhan para budak di jalan Allah.
4. Al-Waqidi, Al-Maghazi – menyebutkan peran Zunairah dalam sejarah dakwah Islam.
---
Penutup Sementara
Kisah Zunairah belum berakhir. Masih ada kelanjutan tentang bagaimana Allah membalas kesabarannya dan bagaimana ia akhirnya memperoleh kebebasan sejati. Namun dari bagian pertama ini, kita sudah dapat memetik banyak pelajaran berharga.
Seorang budak perempuan yang tak berdaya mengajarkan kita arti keteguhan, kesabaran, dan keberanian. Ia membuktikan bahwa kalimat "الله أحد" bukan sekadar ucapan, tetapi sumber kekuatan yang mampu menghancurkan segala bentuk kezaliman.
Semoga kita dapat meneladani Zunairah dalam mempertahankan iman, meskipun cobaan datang silih berganti. Dan semoga Allah senantiasa menguatkan hati kita untuk tetap teguh di jalan-Nya.
Bersambung ke bagian berikutnya...
والله اعلم بالصواب
Gabung dalam percakapan